Oleh: Goes Mic
LESINDO.COM – Ada manusia yang merasa hidupnya sempurna setelah memiliki rumah besar. Ada yang baru merasa utuh ketika dicintai seseorang. Ada pula yang mengukur kebahagiaan dari jabatan, pengakuan, atau kemewahan yang berhasil dikumpulkan sedikit demi sedikit sepanjang usia.
Namun hidup memiliki cara sunyi untuk memperlihatkan kenyataan: apa yang hari ini dianggap sempurna, beberapa waktu kemudian bisa berubah menjadi hal biasa.
Manusia sering tidak menyadari bahwa standar kebahagiaannya terus bergerak. Ketika satu keinginan terpenuhi, lahir keinginan lain yang menunggu dipenuhi. Setelah berhasil mencapai sesuatu, hati kembali merasa kurang. Seolah ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar selesai diisi.
Barangkali karena itulah kehidupan manusia sesungguhnya tidak pernah benar-benar sempurna. Yang ada hanyalah cara manusia memandang hidupnya sendiri.
Seseorang menganggap hidupnya berhasil karena memiliki banyak harta. Yang lain merasa hidupnya lengkap setelah mempunyai keluarga yang harmonis. Ada pula yang merasa damai hanya dengan hidup sederhana di desa, menikmati pagi tanpa kebisingan dan malam tanpa kegelisahan.
Ukuran sempurna ternyata tidak pernah tetap. Ia berubah mengikuti waktu, keadaan, dan isi kepala manusia.
Ironisnya, manusia kerap terjebak pada bayangan tentang hidup ideal yang dibentuk oleh keinginan-keinginannya sendiri. Ketika syarat-syarat tertentu terpenuhi, ia merasa bahagia. Tetapi kebahagiaan itu sering hanya bertahan sementara. Tidak jarang, dalam hitungan bulan, rasa puas perlahan memudar dan berubah menjadi kebiasaan biasa.
Di titik itu manusia mulai mencari “kesempurnaan” baru.
Begitulah hidup berjalan: keinginan melahirkan keinginan lain. Ambisi memunculkan ambisi berikutnya. Hati manusia bergerak tanpa batas, sementara usia terus berjalan diam-diam.
Padahal, bila direnungkan lebih dalam, banyak hal yang sebenarnya sudah cukup untuk disebut sebagai anugerah besar.
Tubuh yang masih mampu berjalan tanpa bantuan. Mata yang masih dapat melihat cahaya pagi. Udara yang bisa dihirup tanpa alat bantu. Kesempatan menikmati langit, hujan, pepohonan, dan suara kehidupan yang terus bergerak di sekitar kita.
Hal-hal sederhana itu sering luput disyukuri karena manusia terlalu sibuk mengejar gambaran hidup sempurna yang diciptakannya sendiri.
Dalam keadaan tertentu, manusia bahkan rela mengorbankan ketenangan batinnya demi memenuhi standar kebahagiaan yang tidak jelas ujungnya. Ia membandingkan hidupnya dengan orang lain, merasa tertinggal, lalu terus berlari tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya sedang dicari.
Padahal rasa cukup mungkin adalah bentuk kebijaksanaan paling sederhana sekaligus paling sulit dimiliki manusia modern.
Merasa cukup bukan berarti berhenti berusaha. Bukan pula menolak mimpi dan harapan. Tetapi menyadari bahwa hidup tidak harus menunggu sempurna untuk bisa disyukuri.
Sebab kesempurnaan sejati bukan milik manusia.
Manusia adalah makhluk yang selalu memiliki kekurangan, selalu berubah, dan selalu menyimpan keinginan-keinginan baru di dalam dirinya. Sedangkan yang benar-benar sempurna hanyalah Sang Pemilik semesta.
Barangkali karena itu hidup tidak meminta manusia menjadi sempurna. Hidup hanya meminta manusia belajar menerima, memahami batas dirinya, dan tetap bersyukur meski tidak semua hal berjalan sesuai keinginan.
Karena sering kali, bukan hidup yang kurang sempurna—melainkan hati manusia yang terlalu sulit merasa cukup.

