LESINDO.COM – Ada kata-kata yang lahir dengan kelembutan, tetapi tumbuh di bawah kekuasaan yang keras. Dalam perjalanan sejarah, bahasa tidak selalu berjalan netral. Ia bisa dipelintir, dipaksa tunduk, bahkan dijadikan alat untuk menata siapa yang dianggap lebih tinggi dan siapa yang harus berada di bawah.
Di masa kolonial, Hindia Belanda bukan hanya membangun benteng, jalur kereta, dan kantor-kantor administrasi. Mereka juga membangun hierarki sosial melalui bahasa. Kata-kata tertentu perlahan kehilangan makna asalnya, lalu berubah menjadi label yang menandai kelas sosial paling rendah.
Di situlah “jongos” dan “babu” menemukan nasib sejarahnya.
Dari Anak Laki-Laki Menjadi Simbol Ketundukan
Kata “jongos” berasal dari bahasa Belanda jongens, bentuk jamak dari jongen, yang berarti “anak laki-laki” atau “pemuda”. Dalam budaya asalnya, kata itu sesungguhnya tidak kasar. Ia bisa dipakai dengan nada akrab, seperti orang menyebut anak muda dengan panggilan penuh kedekatan.
Namun ketika kata itu menyeberang ke Hindia Belanda, maknanya berubah perlahan.
Di rumah-rumah orang Eropa, para pelayan laki-laki pribumi dipanggil dengan sebutan itu. Awalnya mungkin terdengar biasa. Tetapi kolonialisme tidak pernah benar-benar membiarkan bahasa tetap polos. Dalam relasi antara penjajah dan yang dijajah, setiap panggilan mengandung posisi kuasa.
Seorang pribumi dewasa dipanggil seperti anak kecil. Bukan sebagai individu yang setara, melainkan sebagai “anak bawahan” yang tugasnya melayani.
Lama-kelamaan, “jongos” tidak lagi berarti pemuda. Ia berubah menjadi identitas sosial: pelayan rendahan.
Bahasa mengalami peyorasi—penurunan makna. Sebuah kata yang dahulu netral menjadi hinaan yang menyimpan aroma subordinasi. Di balik satu kata sederhana, tersembunyi cara pandang kolonial yang menganggap pribumi belum cukup dewasa untuk berdiri sejajar.
“Babu” dan Perempuan yang Dilihat Hanya sebagai Fungsi
Nasib serupa dialami kata “babu”.
Jejak katanya diyakini berasal dari akar bahasa Sanskerta dan Hindi yang berkaitan dengan panggilan hormat kepada sosok yang dituakan. Dalam beberapa tradisi Asia Selatan, kata serupa dipakai untuk menyebut “bapak”, “tuan”, atau figur yang dihormati.
Namun sejarah kolonial menggeser arah makna itu secara drastis.
Di Hindia Belanda, “babu” dilekatkan pada perempuan pribumi yang bekerja di ranah domestik: mengasuh anak, membersihkan rumah, memasak, dan melayani keluarga Eropa.
Ironisnya, banyak anak-anak Belanda justru tumbuh lebih dekat secara emosional dengan para babu dibanding orang tua kandung mereka sendiri. Para perempuan pribumi itu menjadi pengasuh, penenang tangis, bahkan tempat pertama seorang anak belajar rasa aman.
Tetapi kedekatan emosional tidak otomatis menghadirkan kesetaraan sosial.
Mereka tetap dipandang sebagai kelas pelayan. Nama pribadi mereka perlahan hilang, digantikan oleh fungsi pekerjaan. Seorang perempuan tidak lagi dikenali sebagai individu, melainkan sekadar “babu”.
Di titik itu, bahasa berhenti menjadi alat komunikasi dan berubah menjadi alat objektifikasi.
Bahasa sebagai Cermin Kekuasaan
Kolonialisme bekerja bukan hanya melalui senjata, tetapi juga melalui penyebutan.
Ketika seseorang terus-menerus dipanggil dengan istilah yang merendahkan, lama-kelamaan masyarakat menerima posisi itu sebagai sesuatu yang “wajar”. Bahasa menciptakan jarak sosial. Ada “tuan”, ada “jongos”. Ada “nyonya”, ada “babu”.
Pilihan kata membentuk cara pandang.
Karena itu, perubahan makna kedua kata tersebut bukan sekadar peristiwa linguistik. Ia adalah arsip kecil tentang bagaimana kekuasaan bekerja di masa lalu. Kata-kata yang semula netral dipaksa membawa beban penghinaan.
Dan jejaknya ternyata belum benar-benar hilang.
Sisa Kolonialisme yang Masih Hidup
Hari ini, mungkin kita tidak lagi hidup di bawah pemerintahan kolonial. Tetapi sebagian cara pandangnya kadang masih tersisa dalam kehidupan sehari-hari.
Profesi asisten rumah tangga, pengasuh anak, atau pekerja domestik masih sering dipandang lebih rendah dibanding pekerjaan lain. Tidak sedikit yang masih merasa wajar memanggil pekerja rumah tangga tanpa nama, seolah identitas mereka cukup diwakili oleh pekerjaannya saja.
Padahal di balik pekerjaan domestik ada manusia yang menopang kehidupan banyak keluarga: memasak makanan, menjaga rumah, merawat anak, bahkan sering kali menjadi penyangga emosional sebuah keluarga.
Namun sejarah membuat masyarakat terlalu lama melihat mereka hanya sebagai “pelayan”, bukan pekerja dengan martabat dan hak yang setara.
Bahasa akhirnya mengajarkan satu hal penting: sebuah kata bisa tampak sederhana, tetapi menyimpan sejarah panjang tentang siapa yang pernah dimuliakan dan siapa yang pernah direndahkan.
Dan mungkin, cara paling sederhana untuk memulihkan martabat manusia adalah mulai memanggil mereka kembali sebagai manusia. (Nea)

