Oleh: Aqilla Adilla MÂ
LESINDO.COM – Pagi selalu datang tanpa banyak bicara. Ia tidak mengetuk pintu lebih dahulu, tidak pula meminta manusia untuk bersiap menyambutnya. Matahari terbit sebagaimana mestinya, menapaki garis cakrawala dengan kesetiaan yang nyaris tak pernah kita sadari. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, dan waktu terus bergerak tanpa pernah memberi kesempatan kepada siapa pun untuk menahannya.
Di tengah arus kehidupan yang serba cepat, manusia sering kali lupa bahwa dirinya hanyalah penumpang dalam perjalanan waktu yang panjang. Kita sibuk menghitung pencapaian, mengukur penghargaan, dan menimbang pengakuan dari orang lain. Padahal, waktu tidak pernah melakukan itu. Ia hanya berjalan.
Barangkali di situlah letak kebijaksanaan yang sering luput kita pahami.
Waktu mengajarkan bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling sering dipuji, melainkan siapa yang tetap melangkah ketika tak ada tepuk tangan yang terdengar. Sebab, tidak semua kerja keras akan segera terlihat hasilnya. Tidak semua kebaikan akan langsung mendapat balasan. Bahkan, tidak sedikit karya yang baru dipahami nilainya setelah bertahun-tahun berlalu.
Sebagai manusia, kita kerap terjebak pada keinginan untuk diakui. Ketika sebuah tulisan tidak banyak dibaca, ketika sebuah foto tidak mendapat perhatian, atau ketika usaha yang dilakukan seolah berjalan tanpa apresiasi, muncul pertanyaan dalam hati: apakah semua ini masih layak diteruskan?
Pertanyaan itu sangat manusiawi. Namun, hidup tampaknya tidak pernah meminta kita untuk menjadi sempurna di mata banyak orang. Hidup hanya meminta kita untuk tetap setia pada apa yang kita yakini bernilai.
Seorang fotografer yang berdiri di sudut jalan menunggu cahaya terbaik tidak pernah benar-benar tahu apakah fotonya akan dikenang. Seorang penulis yang menghabiskan malam bersama lembar-lembar naskah juga tidak pernah bisa memastikan apakah tulisannya akan mengubah seseorang. Namun mereka tetap bekerja. Tetap berkarya. Tetap menanam benih yang mungkin baru tumbuh jauh setelah mereka pergi.
Dalam banyak hal, berkarya sesungguhnya adalah percakapan sunyi antara diri sendiri dan waktu.
Kita menulis bukan semata agar dibaca, tetapi agar gagasan tidak hilang begitu saja. Kita memotret bukan hanya untuk menyimpan gambar, melainkan untuk merawat ingatan. Kita bekerja bukan sekadar mengejar hasil, melainkan karena ada tanggung jawab moral untuk memberikan yang terbaik dari apa yang mampu kita lakukan.
Mungkin itulah makna ketulusan yang sebenarnya: melakukan sesuatu tanpa menjadikan pujian sebagai tujuan utama.
Matahari tidak pernah berhenti bersinar hanya karena ada orang yang mengeluh tentang panasnya. Hujan tidak membatalkan turun karena sebagian orang merasa terganggu. Alam menjalankan perannya dengan penuh kesadaran akan tugasnya. Sementara manusia sering kali kehilangan arah hanya karena terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain.
Padahal, sejarah selalu dibangun oleh mereka yang terus bekerja dalam diam. Mereka yang tetap menulis meski tak populer. Mereka yang tetap mengajar meski tak dikenal luas. Mereka yang tetap memotret, menanam, merawat, dan mengabdi tanpa banyak sorotan.
Jejak yang mereka tinggalkan mungkin tidak selalu besar, tetapi cukup berarti bagi kehidupan yang disentuhnya.
Pada akhirnya, waktu akan terus berjalan sebagaimana adanya. Ia tidak akan berhenti untuk menunggu kegelisahan kita. Ia juga tidak akan kembali untuk memperbaiki kesempatan yang terlewat. Yang dapat kita lakukan hanyalah mengisi perjalanan ini dengan sesuatu yang layak dikenang.
Karena ketika suatu hari langkah kita sampai di penghujung jalan, yang tersisa bukanlah deretan pujian yang pernah singgah di telinga. Yang bertahan adalah karya yang memberi manfaat, kebaikan yang pernah ditanamkan, serta jejak-jejak kecil yang membuat dunia sedikit lebih terang dibanding saat pertama kali kita datang.
Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup. Sebab pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa sering nama kita disebut, melainkan seberapa banyak makna yang berhasil kita tinggalkan sebelum waktu membawa kita menuju senja terakhir.

