spot_img
BerandaHumaniora"Merawat Jiwa di Tengah Derasnya Arus Kehidupan"

“Merawat Jiwa di Tengah Derasnya Arus Kehidupan”

Paparan Maya Savitri menjadi pengingat bahwa kesehatan jiwa bukanlah tujuan akhir yang sekali dicapai lalu selesai. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesadaran, latihan, dan komitmen untuk terus merawat diri.

LESINDO.COM – Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia sering kali disibukkan oleh target, tuntutan, dan berbagai ekspektasi. Kesuksesan diukur dari pencapaian, sementara ketenangan batin kerap terlupakan. Padahal, di balik senyum yang tampak di wajah seseorang, belum tentu tersimpan jiwa yang benar-benar sehat.

Hal itulah yang mengemuka dalam Workshop Kurikulum dan Brainstorming yang diselenggarakan SMK Pelayaran Kartasura di Hotel Luminary Vasa Ngargoyoso Karanganyar, Rabu-Kamis (10-11 Juni 2026). Dalam kesempatan tersebut, psikolog dari Anava, Maya Savitri, mengajak peserta untuk melihat kembali sesuatu yang sering terabaikan: kesehatan jiwa.

Menurut Maya, jiwa yang sehat bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru, kesehatan mental tercermin dari kemampuan seseorang menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan cara yang bijaksana. Ada beberapa indikator yang dapat menjadi penanda bahwa seseorang memiliki kesehatan jiwa yang baik.

Yang pertama adalah kemampuan untuk merasa bahagia. Kebahagiaan bukan berarti selalu tertawa atau hidup tanpa kesedihan. Kebahagiaan lebih dekat pada rasa damai dan syukur terhadap kehidupan yang sedang dijalani. Seseorang yang sehat secara mental mampu menemukan makna dalam hal-hal sederhana, menikmati proses, dan tidak terus-menerus terjebak dalam bayang-bayang masa lalu maupun kekhawatiran akan masa depan.

Pilar kedua adalah kemampuan menerima diri sendiri. Di era media sosial yang penuh perbandingan, menerima diri menjadi tantangan tersendiri. Banyak orang merasa kurang, merasa tertinggal, atau bahkan menganggap dirinya gagal hanya karena melihat pencapaian orang lain. Padahal, kesehatan jiwa tumbuh ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri—mengakui kelebihan sekaligus menerima kekurangan tanpa harus terus-menerus mengejar kesempurnaan.

Jiwa yang sehat tidak berarti tidak pernah sedih, marah, atau kecewa. Perbedaannya terletak pada cara merespons emos. (mc)

Indikator berikutnya adalah kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental. Kemampuan mendengarkan, berempati, serta berkomunikasi secara terbuka menjadi modal utama dalam membangun hubungan yang harmonis.

Selain itu, rasa syukur menjadi fondasi yang tak kalah penting. Dalam kehidupan modern, sering kali manusia lebih fokus pada apa yang belum dimiliki dibandingkan apa yang sudah tersedia. Akibatnya, rasa cukup menjadi sulit ditemukan. Padahal, syukur mengajarkan seseorang untuk melihat kehidupan dari sisi yang lebih terang. Bukan karena hidup selalu sempurna, tetapi karena masih ada banyak hal yang patut dihargai setiap hari.

Jiwa yang sehat juga ditandai dengan ketenangan dan kestabilan emosi. Kehidupan akan selalu menghadirkan perubahan, kegagalan, bahkan kehilangan. Namun, seseorang yang memiliki ketahanan mental mampu tetap berdiri tegak di tengah badai. Ia mungkin merasa sedih, kecewa, atau marah, tetapi tidak larut terlalu lama dalam emosi tersebut. Ia memiliki cara untuk kembali menemukan keseimbangan dirinya.

Terakhir, kemampuan mengelola emosi negatif menjadi penentu penting kesehatan jiwa. Emosi negatif bukanlah musuh yang harus dihilangkan. Kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang meresponsnya. Jiwa yang sehat mampu mengenali emosinya, memahami penyebabnya, dan menyalurkannya secara tepat tanpa melukai diri sendiri maupun orang lain.

Paparan Maya Savitri menjadi pengingat bahwa kesehatan jiwa bukanlah tujuan akhir yang sekali dicapai lalu selesai. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesadaran, latihan, dan komitmen untuk terus merawat diri.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, mungkin kita tidak selalu mampu mengendalikan apa yang terjadi di luar diri. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk menjaga apa yang ada di dalam diri: hati yang bersyukur, pikiran yang jernih, dan jiwa yang tetap sehat menghadapi segala perubahan zaman.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari seberapa tinggi seseorang melangkah, tetapi juga dari seberapa tenang ia menjalani setiap langkah tersebut.(Fai)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments