LESINDO.COM – Dengarlah, wahai jiwa yang tengah bergelut dengan kekalahan hari ini. Jangan kau hitung hari ini sebagai sebuah kekalahan yang hina, sebab dalam kamus kehidupan, menang dan kalah hanyalah riak kecil di permukaan samudra. Pelajaran sejati tidak terukir pada piala atau tepuk tangan, melainkan pada bagaimana kau tumbuh di antara celah-celah kegagalan yang retak.
Apa yang menanti di depan sana bukanlah jalan yang lunak, bukan pula hamparan sutra yang memanjakan langkah. Dunia di hadapanmu adalah rimba yang menuntut ketangguhan jiwa. Kekuatan yang kau butuhkan bukanlah otot yang kaku atau fisik yang membaja, melainkan kekuatan untuk menjinakkan rasa.
Kelak, kau harus mampu berdiri tegak saat rasa lelah mulai menggerogoti tulang, saat rasa malas membisikkan rayuan untuk menyerah, dan saat hinaan serta pengabaian datang menghujam bagai duri yang merobek harga diri. Semua rasa yang tidak mengenakkan itu—semua getir yang kau telan hari ini—adalah nutrisi yang sedang memahat karaktermu agar menjadi baja.
Tanamkanlah dalam sanubarimu: ketahanan adalah akar, dan kesabaran adalah batangnya.
Jika hari ini kau masih harus menunduk kalah, biarkanlah itu menjadi pupuk yang menyuburkan keteguhanmu. Ini hanyalah masalah waktu. Hari-hariku kini perlahan merayap menuju senja, di mana cahayanya kian meredup dan bayang-bayang masa lalu mulai memanjang. Pada saatnya nanti, roda waktu akan berputar; saat kekuatanku memudar dimakan usia, di situlah kau akan bangkit melampauiku.
Sebab kelak, ketika usiaku benar-benar telah menyentuh batas cakrawala, kaulah yang akan memegang tongkat estafet kehidupan. Waktu akan membuktikan, bahwa kekalahanmu hari ini hanyalah jeda sebelum kau berdiri sebagai pemenang yang sebenarnya.(Dre)

