spot_img
BerandaJelajahTakut Kehilangan: Ketika Hati Terlalu Erat Menggenggam Dunia

Takut Kehilangan: Ketika Hati Terlalu Erat Menggenggam Dunia

Karena itu, tasawuf tidak mengajarkan manusia membenci dunia. Dunia tetap perlu dijalani, dirawat, dan disyukuri. Namun dunia tidak boleh menguasai hati. Tangan boleh menggenggam harta, tetapi hati jangan sampai diperbudak olehnya.

LESINDO.COM – Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, manusia modern tampak semakin mudah gelisah. Bukan hanya karena kekurangan, tetapi juga karena ketakutan kehilangan. Ada yang cemas hartanya berkurang, ada yang takut orang yang dicintai pergi, ada pula yang diam-diam resah karena khawatir dilupakan oleh dunia.

Padahal, dalam diam kehidupan selalu mengajarkan satu kenyataan sederhana: tidak ada yang benar-benar abadi di tangan manusia.

Rumah yang dibangun dengan susah payah suatu saat bisa ditinggalkan. Jabatan yang dulu dibanggakan perlahan akan digantikan. Bahkan orang-orang yang hari ini duduk bersama kita pun, cepat atau lambat, akan menempuh jalannya masing-masing.

Di titik inilah tasawuf hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari dunia, melainkan untuk meluruskan cara mencintainya.

Para sufi sejak dahulu memahami bahwa sumber kegelisahan terbesar manusia sering kali bukan kehilangan itu sendiri, tetapi rasa memiliki yang terlalu kuat. Hati merasa semua harus tetap tinggal, semua harus tetap bersama, semua harus selalu sesuai keinginan.

Padahal sejak awal, hidup hanyalah tentang titipan.

Harta adalah titipan.
Pasangan adalah titipan.
Anak-anak adalah titipan.
Bahkan tubuh dan napas yang hari ini terasa begitu dekat pun sejatinya hanyalah amanah dari Allah.

Kesadaran itulah yang membuat para ulama sufi tampak tenang menghadapi perubahan hidup. Mereka tetap mencintai keluarga, tetap bekerja, tetap menjaga hubungan dengan sesama manusia, tetapi hati mereka tidak menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada dunia yang fana.

Mereka memahami bahwa segala sesuatu yang datang membawa satu pesan yang sama: suatu hari akan kembali kepada Pemilik-Nya.

Karena itu, tasawuf tidak mengajarkan manusia membenci dunia. Dunia tetap perlu dijalani, dirawat, dan disyukuri. Namun dunia tidak boleh menguasai hati. Tangan boleh menggenggam harta, tetapi hati jangan sampai diperbudak olehnya.

Sebab ketika hati terlalu melekat pada sesuatu yang fana, kehilangan kecil saja bisa terasa seperti kiamat.

Sebaliknya, hati yang mengenal Allah akan belajar menerima. Ia tahu bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang bisa dimiliki, melainkan seberapa ikhlas seseorang saat harus melepaskan.

Mungkin itulah sebabnya orang-orang yang paling damai bukan mereka yang memiliki segalanya, melainkan mereka yang sadar bahwa segalanya hanyalah titipan sementara.

Pada akhirnya, semua yang ada di dunia akan pergi.
Yang tersisa hanyalah amal, cinta kepada Allah, dan hati yang bersih. (Ely)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments