spot_img
BerandaJelajahjelajahDi Jalanan Itu, Saya Belajar Tentang Syukur

Di Jalanan Itu, Saya Belajar Tentang Syukur

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun dari lisan seorang ibu penjual di pasar, ia menjelma menjadi doa sekaligus keyakinan yang begitu kuat. Sebuah kepercayaan bahwa selama manusia masih mau melangkah keluar rumah, masih mau bergerak, maka rezeki akan selalu menemukan jalannya.

LESINDO.COM – Di sudut-sudut jalan yang sering luput dari perhatian, kehidupan sebenarnya sedang berjalan dengan begitu jujur. Bukan di ruang-ruang mewah yang penuh pidato, melainkan di bawah terik matahari, di lorong pasar yang becek, di trotoar yang ramai oleh langkah manusia, atau di persimpangan jalan tempat orang-orang kecil menggantungkan harapan pada hari ini.

Menulis tentang mereka selalu menghadirkan rasa yang sulit dijelaskan. Ada kehangatan, ada haru, sekaligus pelajaran hidup yang diam-diam menampar kesadaran. Tentang seorang simbah penjual gorengan yang tubuh renta itu masih setia menggendong dagangannya dari satu orang ke orang lain. Langkahnya pelan, napasnya mungkin mulai berat, tetapi matanya tetap menyimpan keyakinan bahwa rezeki harus dijemput, bukan ditunggu.

Ada pula para ibu di pasar tradisional. Dengan wajah sederhana dan pakaian seadanya, mereka memulai pagi bahkan sebelum matahari benar-benar terbit. Tangan mereka cekatan menata sayur, menimbang dagangan, sesekali tersenyum kepada pembeli yang menawar terlalu murah. Kehidupan bagi mereka bukan tentang kemewahan, melainkan tentang bagaimana dapur tetap mengepul dan anak-anak tetap bisa makan.

Di lampu merah, seorang pengamen bernyanyi dengan suara yang kadang pas dengan nada, kadang pula meleset jauh dari sempurna. Namun di balik nyanyian itu, ada perjuangan yang tak pernah main-main. Ia tidak sedang mengejar tepuk tangan, melainkan sedang memperjuangkan isi perut dan harapan hidup.

Sementara di pinggir jalan yang lain, seorang lelaki tua duduk menabuh gamelan. Panas matahari menyengat kulitnya, debu jalanan beterbangan, tetapi tangannya tetap bergerak memukul nada demi nada. Ia tidak banyak mengeluh. Barangkali karena hidup telah mengajarinya bahwa mengeluh tidak akan membuat nasi datang ke meja makan.

Mereka semua adalah wajah-wajah tangguh yang sering tidak dianggap penting oleh dunia. Padahal dari merekalah kita belajar tentang martabat. Tentang bagaimana seseorang tetap bisa hidup mulia tanpa harus mengambil hak orang lain, tanpa harus memotong amanah, tanpa harus mengelembungkan anggaran demi kepentingan pribadi.

Orang-orang kecil itu justru sering memiliki harga diri yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang duduk di singgasana megah. Sebab mereka hidup dari keringat sendiri. Dari tenaga sendiri. Dari keyakinan sederhana bahwa Gusti Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang mau bergerak dan berikhtiar.

Terlebih para perempuan dan ibu-ibu yang tetap bertahan mencari nafkah di jalanan atau pasar. Di pundak merekalah sering kali keluarga bersandar. Mereka bukan hanya sedang bekerja, tetapi sedang menjaga kehidupan agar tetap berjalan.

“Yen sik isih diparingi napas, Gusti Allah mesti paring jatah kok, Mas.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun dari lisan seorang ibu penjual di pasar, ia menjelma menjadi doa sekaligus keyakinan yang begitu kuat. Sebuah kepercayaan bahwa selama manusia masih mau melangkah keluar rumah, masih mau bergerak, maka rezeki akan selalu menemukan jalannya.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi dan kemewahan palsu, orang-orang seperti merekalah yang diam-diam menjaga kewarasan hidup kita. (Mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments