Oleh: Redaksi
LESINDO.COM – Malam belum sepenuhnya larut ketika langkah-langkah manusia mulai merayapi lereng Gunung Lawu. Di antara dingin yang perlahan menggigit kulit, lampu-lampu senter membentuk garis panjang seperti ular cahaya yang bergerak menuju puncak. Mereka datang dari berbagai kota, berbagai usia, dan berbagai latar belakang kehidupan. Namun pada bulan Suro, mereka memiliki tujuan yang sama: mencari keheningan.
Bagi sebagian orang, Gunung Lawu hanyalah bentang alam yang menjulang setinggi 3.265 meter di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun bagi masyarakat Jawa, Lawu adalah lebih dari sekadar gunung. Ia adalah ruang perjumpaan antara sejarah, spiritualitas, dan pencarian makna hidup.
Ketika kalender Jawa memasuki bulan Suro, suasana di kawasan Lawu berubah. Jalur pendakian menjadi lebih ramai dari biasanya. Bukan semata-mata karena pesona alamnya, melainkan karena keyakinan yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.
Di sinilah jejak cerita tentang Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Lawu dipercaya sebagai tempat sang raja menempuh perjalanan spiritual terakhir sebelum mencapai moksa. Keyakinan itulah yang membuat banyak peziarah datang untuk melakukan napak tilas, mengenang leluhur, sekaligus merenungi perjalanan hidup mereka sendiri.
Bulan Suro dalam tradisi Jawa memang bukan bulan yang dipenuhi pesta dan kemeriahan. Sebaliknya, ia adalah waktu untuk menepi. Waktu ketika manusia diajak memperlambat langkah, mengurangi hiruk-pikuk dunia, dan mendengarkan suara yang sering tenggelam dalam kesibukan sehari-hari: suara hati nurani.
Di jalur pendakian Lawu, filosofi itu terasa nyata. Tidak sedikit pendaki yang memilih berjalan dalam diam. Mereka menundukkan kepala, menyelaraskan napas dengan langkah kaki, membiarkan setiap tanjakan menjadi ruang perenungan.
Bagi sebagian orang, perjalanan menuju puncak bukanlah upaya menaklukkan gunung. Justru sebaliknya. Mereka datang untuk menaklukkan diri sendiri.
“Di gunung ini saya belajar bahwa hidup tidak selalu soal berlari cepat,” ujar seorang pendaki asal Solo yang rutin mendaki setiap bulan Suro. “Kadang kita hanya perlu berjalan pelan, tetapi tetap bergerak.”
Kepercayaan masyarakat Jawa juga menempatkan Lawu sebagai salah satu pusat spiritual yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam berbagai cerita lisan, gunung ini disebut sebagai salah satu “paku bumi”, titik keseimbangan yang menjaga harmoni alam dan kehidupan manusia.
Cerita-cerita tentang Pasar Setan, sosok Jalak Lawu, hingga berbagai penunggu gaib menjadi bagian dari khazanah budaya yang menyelimuti gunung tersebut. Kisah-kisah itu hidup dari generasi ke generasi, membentuk aura mistis yang sulit dipisahkan dari nama Lawu.
Namun di balik semua cerita itu, tersimpan pesan yang lebih dalam. Masyarakat Jawa memandang bahwa kekuatan sebuah tempat tidak semata-mata berasal dari alamnya, melainkan juga dari sikap manusia yang datang menghampirinya.
Karena itu, para pendaki selalu diingatkan untuk menjaga tutur kata, tidak bersikap sombong, tidak merusak lingkungan, serta menghormati alam sebagaimana menghormati sesama manusia.
Ada ungkapan yang sering terdengar di kalangan pendaki Lawu: gunung adalah cermin batin. Apa yang dibawa seseorang dalam pikirannya akan tercermin dalam perjalanan yang dijalaninya.
Mungkin itulah sebabnya banyak orang kembali lagi ke Lawu, tahun demi tahun. Mereka tidak selalu mencari pengalaman gaib, tidak pula mengejar kesaktian. Sebagian besar hanya ingin menemukan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah dunia yang semakin gaduh.
Di puncak Lawu, ketika matahari perlahan muncul dari balik cakrawala dan kabut mulai menyingkir, manusia sering menyadari satu hal sederhana: bahwa perjalanan terjauh bukanlah menuju puncak gunung, melainkan perjalanan menuju pemahaman atas diri sendiri.
Dan pada setiap bulan Suro, Gunung Lawu kembali menjadi saksi bisu ribuan orang yang datang membawa harapan, kegelisahan, doa, dan pencarian. Mereka mendaki bukan sekadar untuk mencapai ketinggian, melainkan untuk menemukan ruang hening di mana jiwa dapat berbicara dengan lebih jujur.
Di tengah zaman yang serba cepat, Lawu mengajarkan sesuatu yang semakin langka: bahwa terkadang, untuk melangkah lebih jauh, manusia perlu berhenti sejenak dan pulang ke dalam dirinya sendiri.

