LESINDO.COM – Malam perlahan turun di tanah Jawa. Langit gelap membentang tanpa banyak suara. Di sudut-sudut kampung, lampu temaram menyala lembut, sementara sebagian warga memilih berkumpul dalam doa dan tirakat. Tidak ada dentuman musik, tidak pula pesta yang meriah. Bagi masyarakat Jawa, datangnya bulan Suro bukan sekadar pergantian waktu, melainkan momentum sakral yang mengajak manusia menengok ke dalam dirinya sendiri.
Suro, yang bertepatan dengan Muharram dalam kalender Hijriah, menempati posisi istimewa dalam tradisi Jawa. Bulan ini dianggap sebagai gerbang tahun baru Jawa, sekaligus masa ketika manusia diajak merawat hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. Karena itu, suasana yang dibangun bukan kegembiraan yang meledak-ledak, melainkan keheningan yang penuh makna.
Di banyak daerah di Jawa, terutama yang masih kuat memegang tradisi leluhur, bulan Suro identik dengan berbagai laku spiritual. Sebagian masyarakat menjalani puasa, semedi, ziarah makam leluhur, hingga mengikuti kirab budaya yang diselenggarakan keraton. Semua dilakukan sebagai simbol pembersihan diri sebelum melangkah memasuki lembaran tahun yang baru.
Dari tradisi itulah lahir satu keyakinan yang masih bertahan hingga kini: menghindari penyelenggaraan hajatan besar selama bulan Suro.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, pernikahan, khitanan, atau pesta keluarga yang berlangsung meriah dianggap kurang sejalan dengan semangat bulan yang sarat perenungan. Suro dipahami sebagai masa prihatin, sebuah ruang untuk menahan diri dari euforia dan kemegahan duniawi.
“Pada bulan ini orang Jawa diajak lebih banyak mendengarkan suara batinnya,” demikian ungkapan yang sering terdengar dari para sesepuh kampung. Karena itu, pesta yang mengundang keramaian dinilai kurang tepat dilakukan pada saat masyarakat sedang diajak memasuki suasana kontemplatif.
Selain alasan filosofis, terdapat pula keyakinan yang berkembang secara turun-temurun mengenai kuatnya energi spiritual pada bulan Suro. Dalam pandangan kosmologi Jawa, alam memiliki siklus keseimbangan yang harus dihormati. Bulan Suro dipandang sebagai waktu ketika dimensi spiritual terasa lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Kepercayaan tersebut melahirkan kehati-hatian. Sebagian orang memilih menunda hajatan bukan karena takut semata, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap tatanan yang diwariskan leluhur. Mereka percaya bahwa keselarasan hidup akan terjaga apabila manusia mampu menempatkan diri sesuai waktu dan keadaan.
Di lingkungan Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta, kesakralan bulan Suro tampak melalui berbagai ritual budaya yang masih berlangsung hingga sekarang. Jamasan pusaka, kirab malam satu Suro, hingga doa-doa bersama menjadi simbol bahwa pergantian tahun tidak dirayakan dengan pesta, melainkan dengan perenungan.
Ribuan warga biasanya memadati jalur kirab, berjalan dalam suasana khidmat. Sebagian memilih diam sepanjang perjalanan, membiarkan langkah kaki menjadi media refleksi. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa memaknai waktu bukan sekadar hitungan kalender, melainkan ruang untuk menyelaraskan kembali hubungan antara manusia dan Sang Pencipta.
Namun, seperti budaya yang terus bergerak mengikuti zaman, pandangan mengenai pantangan hajatan di bulan Suro kini mulai mengalami perubahan. Di kota-kota besar, pertimbangan ekonomi, ketersediaan gedung, hingga kesepakatan keluarga sering kali menjadi faktor yang lebih dominan. Tidak sedikit pasangan yang tetap melangsungkan pernikahan pada bulan Suro tanpa merasa terbebani oleh pantangan adat.
Meski demikian, makna filosofis yang terkandung di dalamnya tetap memiliki tempat tersendiri. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, bulan Suro mengingatkan bahwa manusia sesekali membutuhkan ruang untuk berhenti, menata hati, dan mengukur kembali arah perjalanan hidupnya.
Barangkali, itulah warisan paling berharga dari tradisi Suro. Bukan soal boleh atau tidaknya menggelar hajatan, melainkan ajakan untuk menyadari bahwa setiap pergantian waktu seharusnya menjadi kesempatan untuk membersihkan diri dari kesombongan, menguatkan rasa syukur, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Di saat dunia berlomba merayakan awal tahun dengan gemerlap cahaya dan pesta kembang api, masyarakat Jawa justru menawarkan sesuatu yang berbeda: merayakan waktu dengan keheningan. Sebab dalam sunyi, sering kali manusia menemukan suara paling jujur dari dalam dirinya.(Cha)

