LESINDO.COM – Oleh karena itu, ketika seseorang berdiri di hadapan anak-anak dan mulai mengucapkan kalimat, “Pada suatu hari…”, sesungguhnya ia sedang membuka sebuah gerbang. Gerbang menuju dunia yang tak terlihat mata, tetapi mampu membentuk cara pandang, karakter, bahkan impian seorang anak.
Bagi banyak orang yang tumbuh pada era sebelum gawai mendominasi keseharian, kenangan tentang dongeng sering kali melekat kuat. Ada yang mengingat suara ibu menjelang tidur, ada yang mengenang kakek yang berkisah di teras rumah saat malam tiba, dan ada pula yang masih menyimpan ingatan tentang guru sekolah dasar yang mampu mengubah ruang kelas menjadi panggung petualangan.
Saat itu, dongeng bukan sekadar cerita. Ia adalah pengalaman.
Melalui rangkaian kata yang sederhana, anak-anak diajak menjelajahi hutan lebat, menembus kerajaan awan, bertemu hewan-hewan yang bisa berbicara, hingga menyaksikan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka belajar tentang keberanian dari seorang pahlawan kecil, memahami arti kejujuran dari tokoh yang sederhana, dan mengenal empati melalui kisah-kisah yang menyentuh hati.
Di situlah letak kekuatan dongeng. Ia mengajarkan nilai tanpa ceramah. Menanamkan kebijaksanaan tanpa menggurui.
Ketika Cerita Menjadi Jembatan Emosi
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, dunia dongeng ternyata tidak ikut menghilang. Ia justru bertransformasi.
Jika dahulu pendongeng hanya mengandalkan buku dan suara, kini mereka hadir dengan beragam pendekatan yang lebih kreatif. Ada yang menggunakan boneka tangan, alat musik, ilustrasi visual, hingga teknologi multimedia. Namun, di balik semua perangkat itu, satu hal tetap menjadi inti: kemampuan menghadirkan emosi.
Seorang pendongeng yang baik bukanlah mereka yang sekadar hafal alur cerita. Mereka adalah pengelola suasana. Mereka memahami kapan harus meninggikan suara hingga anak-anak terperanjat penuh antusias, kapan harus memperlambat ritme hingga ruangan menjadi hening, dan kapan harus menyisipkan jeda yang membuat rasa penasaran tumbuh.
Dalam setiap pertunjukan, pendongeng sesungguhnya sedang membangun hubungan yang sangat personal dengan para pendengarnya. Anak-anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi ikut hidup di dalamnya. Mereka tertawa bersama tokohnya, takut pada ancamannya, dan merasakan kemenangan ketika kisah mencapai akhir yang bahagia.
Karena itulah, mendongeng lebih dekat dengan seni menyentuh hati daripada sekadar seni berbicara.
Merawat Imajinasi di Tengah Dunia Digital

Di era ketika layar digital hadir hampir di setiap sudut kehidupan, kemampuan berimajinasi menjadi sesuatu yang semakin berharga.
Berbeda dengan tayangan visual yang menyajikan segala sesuatu secara instan, dongeng mengajak anak-anak membangun gambaran mereka sendiri. Ketika seorang pendongeng menyebutkan seekor naga berwarna hijau yang terbang di atas gunung, setiap anak akan menciptakan naga yang berbeda dalam benaknya. Imajinasi bekerja. Kreativitas tumbuh.
Para ahli pendidikan meyakini bahwa kemampuan berimajinasi memiliki hubungan erat dengan kemampuan memecahkan masalah, berpikir kreatif, dan memahami sudut pandang orang lain. Dengan kata lain, dongeng bukan sekadar aktivitas hiburan, melainkan latihan mental yang penting bagi perkembangan anak.
Tak heran jika berbagai komunitas pendongeng terus bermunculan di berbagai daerah. Mereka hadir di sekolah, taman bacaan, perpustakaan, hingga ruang-ruang publik. Dengan cara yang sederhana, mereka berupaya menjaga agar tradisi bercerita tetap hidup di tengah gempuran teknologi.
Para Penjaga Gerbang
Mungkin profesi pendongeng tidak selalu mendapat sorotan besar. Nama mereka jarang muncul di layar televisi atau menjadi topik hangat perbincangan. Namun, pengaruh mereka sering kali bertahan jauh lebih lama daripada yang disadari.
Banyak orang dewasa yang masih mengingat cerita masa kecilnya puluhan tahun kemudian. Mereka mungkin lupa nama gurunya, lupa nilai rapornya, tetapi masih mengingat kisah tentang si Kancil, Timun Mas, atau petualangan tokoh-tokoh yang pernah menemani masa kecil mereka.
Kenangan itu membuktikan bahwa cerita memiliki umur yang panjang. Ia menetap di dalam ingatan dan diam-diam membentuk cara seseorang memandang kehidupan.
Pada akhirnya, para pendongeng adalah penjaga gerbang imajinasi. Mereka memastikan bahwa di tengah dunia yang semakin cepat, logis, dan serba terukur, anak-anak tetap memiliki ruang untuk takjub. Mereka menjaga agar mimpi tidak kehilangan tempatnya, dan agar setiap anak tetap percaya bahwa di balik lembaran cerita, selalu ada kemungkinan-kemungkinan baru yang menunggu untuk ditemukan.
Sebab setiap peradaban besar lahir dari kemampuan manusia untuk membayangkan sesuatu yang belum ada. Dan kemampuan itu, sering kali, berawal dari sebuah dongeng sederhana yang diceritakan dengan sepenuh hati. (Tea)

