spot_img
BerandaBudayaMuharram: Bulan Mulia untuk Menata Kembali Arah Kehidupan

Muharram: Bulan Mulia untuk Menata Kembali Arah Kehidupan

Bagi masyarakat Jawa, filosofi ini terasa begitu dekat dengan ajaran "eling lan waspada"—selalu ingat kepada Tuhan dan waspada terhadap langkah hidup sendiri.

LESINDO.COM – Setiap pergantian tahun selalu membawa harapan baru. Namun dalam kalender Islam, datangnya Tahun Baru Hijriah bukanlah perayaan yang hingar-bingar dengan pesta dan kembang api. Ia hadir dengan cara yang lebih hening, lebih dalam, dan mengajak manusia untuk menengok kembali perjalanan hidupnya. Pintu awal tahun itu bernama Muharram, sebuah bulan yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai Syahrullah atau “Bulan Allah”.

Di tengah kesibukan dunia yang terus bergerak cepat, Muharram datang seperti jeda yang mengingatkan manusia untuk kembali melihat dirinya sendiri. Bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan, tetapi momentum untuk memperbarui niat, memperbaiki langkah, dan menata kembali arah kehidupan.

Muharram memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Ia termasuk salah satu dari empat bulan haram (Asyhurul Hurum) yang dimuliakan Allah SWT bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, setiap amal kebaikan memiliki nilai yang lebih agung, sementara segala bentuk kezaliman dan kemaksiatan menjadi lebih berat pertanggungjawabannya.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, bulan ini dikenal sebagai bulan Suro. Banyak orang memandangnya sebagai waktu yang sakral, penuh laku prihatin, tirakat, dan perenungan. Meskipun pemaknaannya berbeda-beda, ada satu benang merah yang menghubungkan keduanya: Muharram adalah waktu untuk membersihkan batin dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Kemuliaan Muharram juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah besar umat Islam. Bulan ini menjadi simbol hijrah, perjalanan monumental Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah menuju Madinah. Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perpindahan cara berpikir, cara hidup, dan cara memandang masa depan. Dari peristiwa itulah lahir peradaban Islam yang kemudian menerangi dunia.

Makna hijrah sesungguhnya tetap relevan hingga hari ini. Setiap manusia memiliki “Makkah” yang harus ditinggalkan berupa kebiasaan buruk, kemalasan, dan berbagai belenggu yang menghambat pertumbuhan dirinya. Pada saat yang sama, setiap orang juga memiliki “Madinah” yang harus dituju, yakni kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Di dalam Muharram terdapat pula hari yang sangat istimewa, yakni Asyura pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada hari tersebut. Bahkan beliau menyebut bahwa puasa Asyura dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu.

Hari Asyura juga menyimpan banyak jejak sejarah para nabi. Tradisi Islam mencatat bagaimana Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun, menerima taubat Nabi Adam AS, menyelamatkan Nabi Ibrahim AS dari kobaran api Namrud, serta mengakhiri ujian panjang Nabi Nuh AS setelah banjir besar. Kisah-kisah itu membawa pesan yang sama: pertolongan Allah selalu datang kepada mereka yang beriman, bersabar, dan tidak menyerah.

Karena itulah Muharram sering disebut sebagai bulan harapan. Bulan yang mengajarkan bahwa setelah kesulitan selalu ada jalan keluar. Setelah gelap selalu ada cahaya. Dan setelah kegagalan selalu tersedia kesempatan untuk memulai kembali.

Bagi masyarakat Jawa, filosofi ini terasa begitu dekat dengan ajaran “eling lan waspada”—selalu ingat kepada Tuhan dan waspada terhadap langkah hidup sendiri. Muharram mengajak manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, melihat ke dalam dirinya, lalu bertanya: sudah sejauh mana perjalanan hidup ini membawa manfaat bagi sesama?

Pada akhirnya, kemuliaan Muharram bukan terletak pada seremoni yang dilakukan, melainkan pada perubahan yang lahir setelahnya. Sebab tahun baru yang sesungguhnya bukanlah ketika kalender berganti angka, melainkan ketika hati menemukan arah yang baru, jiwa menjadi lebih bersih, dan langkah hidup semakin mendekat kepada ridha Allah SWT.

Muharram mengajarkan bahwa revolusi terbesar tidak selalu terjadi di jalan-jalan atau panggung-panggung besar. Terkadang, revolusi itu dimulai dalam keheningan hati yang memutuskan untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.(Rhe)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments