spot_img
BerandaJelajahjelajahSang Kera di Balik Lensa: Antara Ironi dan Pencarian Makna

Sang Kera di Balik Lensa: Antara Ironi dan Pencarian Makna

Ia adalah seorang pengelana yang mencari jati diri di tengah hiruk pikuk yang acuh. Ia sedang mempertanyakan takdirnya: Lakon apa yang sebenarnya harus ia mainkan di panggung dunia ini?

LESINDO.COM – Di sudut taman kota yang mulai menua, di bawah bayang-bayang pohon mahoni yang meranggas, seekor kera duduk terpekur. Ia tidak sedang melompat lincah seperti kera-kera di dalam buku cerita, pun tidak sedang memamerkan kemampuannya memanjat dahan tertinggi. Ia diam. Matanya yang cokelat redup menatap nanar pada sekumpulan manusia yang lalu lalang—sebuah pemandangan yang baginya kini hanyalah deretan siluet tanpa makna.

Jika dulu ia adalah primadona yang ditunggu-tunggu kehadirannya, kini untuk sekadar menyunggingkan senyum saja, ia seolah harus mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Tawanya telah lama hilang, tertelan debu jalanan dan tuntutan hidup yang kian mendesak. Sering kali, ia berlari ke sana kemari bukan karena ia ceria, melainkan karena ia tengah melarikan diri dari realitas yang enggan ia akui: bahwa hidup ini tidaklah seindah bayangan yang pernah ia bangun.

Kera ini adalah potret dari sebuah ironi. Ia, yang biasanya menjadi tontonan, kini seolah menjadi saksi bisu atas keangkuhan zaman. Orang-orang datang, menyewa jasanya, memaksanya masuk ke dalam bingkai foto demi kenangan sesaat. Namun, setelah jepretan kamera berhenti berbunyi dan uang berpindah tangan, ia kembali ditinggalkan. Tak ada yang peduli apa jadinya nanti; ia hanya sekadar properti yang bisa disimpan kembali ke dalam sangkar atau dibiarkan merana di tepi trotoar.

Kontras itu begitu tajam, seolah kehidupan memutar nasibnya 180 derajat.

Dalam lakon epik Ramayana, kita mengenal sosok kera yang perkasa, Hanuman. Ia adalah simbol kepahlawanan yang memimpin pasukan, menyeberangi samudra, dan membangun jembatan demi kebajikan. Ia memiliki takdir yang agung, sebuah lakon yang ditulis dengan tinta emas sejarah. Namun, kera di depan kita ini jauh dari bayangan sang pahlawan mitologis. Ia tidak sedang membangun jembatan menuju kejayaan, ia justru sedang berusaha membangun jalan keluar dari labirin kesedihannya sendiri.

Lakon yang dibawakannya hari ini terasa ganjil, seperti naskah yang halamannya hilang separuh. Alurnya tak jelas, orientasinya samar, dan konfliknya—yakni kemiskinan dan ketidakpastian—terasa sangat nyata dan mencekik. Ia tidak sedang memerankan tokoh yang disanjung, melainkan tokoh yang sedang tersesat dalam pencarian eksistensial.

Ia adalah seorang pengelana yang mencari jati diri di tengah hiruk pikuk yang acuh. Ia sedang mempertanyakan takdirnya: Lakon apa yang sebenarnya harus ia mainkan di panggung dunia ini?

Mungkin, kesedihan yang terpancar dari wajahnya bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk perlawanan diam-diam. Bahwa di balik topeng kera yang dipaksakan, ada sosok yang sadar bahwa dirinya lebih dari sekadar objek foto. Ia adalah subjek dari penderitaannya sendiri, sedang menanti saat di mana ia bisa melepas kostum lakon yang tak diinginkannya, untuk kemudian berdiri tegak dan menuliskan skenario hidupnya sendiri—bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai manusia (atau kera) yang berdaulat atas takdirnya sendiri.

Di tengah riuh rendah kota yang tak pernah tidur, sang kera tetap diam. Ia masih menunggu, mencari titik temu antara realita yang pahit dan harapan yang enggan padam, sembari berharap suatu hari nanti, lakon hidupnya tidak lagi ditentukan oleh jepretan kamera orang lain, melainkan oleh langkah kakinya sendiri menuju kebebasan yang hakiki.(Rhe)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments