spot_img
BerandaJelajahRoda yang Tak Pernah Lelah Berputar

Roda yang Tak Pernah Lelah Berputar

Pada akhirnya, hidup adalah cermin yang jujur. Ia memantulkan apa yang kita kirimkan kepadanya. Bila yang kita tabur adalah kebencian, cepat atau lambat kita akan hidup di tengah suasana yang penuh kebencian.

LESINDO.COM – Suatu sore, di sebuah warung kecil di tepi jalan, seorang lelaki tua duduk memandangi lalu-lalang kendaraan. Wajahnya dipenuhi guratan waktu, namun sorot matanya menyimpan ketenangan yang sulit dijelaskan. Ketika seorang pemuda mengeluhkan hidup yang terasa tidak adil, lelaki tua itu hanya tersenyum tipis lalu berkata pelan, “Nak, hidup ini seperti roda. Jangan terlalu bangga saat berada di atas, dan jangan terlalu putus asa saat berada di bawah.”

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun, di dalamnya tersimpan kebijaksanaan yang telah berulang kali dibuktikan oleh kehidupan.

Hidup memang selalu bergerak dalam siklus. Ada masa ketika seseorang berdiri tegak di puncak keberhasilan, dihormati dan dipuji banyak orang. Namun ada pula masa ketika ia harus menundukkan kepala, menerima kenyataan bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Roda kehidupan terus berputar tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun.

Dalam putaran itulah, setiap perbuatan menemukan jalannya sendiri untuk kembali kepada pemiliknya.

Banyak orang mengira bahwa tindakan yang dilakukan hari ini akan menghilang bersama waktu. Padahal, setiap kata yang terucap, setiap keputusan yang diambil, dan setiap sikap yang diperlihatkan kepada sesama adalah benih yang sedang ditanam di ladang kehidupan. Sebagian tumbuh cepat, sebagian lagi memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya berbuah.

Kita sering menyaksikan seseorang yang dahulu begitu mudah melukai orang lain. Dengan kekuasaan, harta, atau kedudukan yang dimilikinya, ia merasa berhak merendahkan dan menyakiti. Saat itu, mungkin ia mengira dirinya kebal terhadap akibat. Namun hidup memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan pelajaran.

Pada suatu titik, keadaan berbalik. Orang yang dahulu berdiri di atas mulai kehilangan pijakan. Mereka yang pernah menabur air mata, perlahan belajar memahami arti kesedihan. Mereka yang pernah menebar luka, akhirnya merasakan pedihnya terluka. Seolah hidup sedang memperlihatkan cermin agar seseorang melihat kembali wajah perbuatannya sendiri.

Kesombongan sering menjadi awal dari kisah-kisah semacam itu.

Ia datang diam-diam, menyusup ke dalam hati tanpa disadari. Ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi daripada yang lain, saat itulah ia mulai lupa bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan waktu. Jabatan bisa berakhir, kekayaan bisa berkurang, dan kekuatan bisa melemah. Tidak ada yang benar-benar abadi selain perubahan itu sendiri.

Sejarah manusia penuh dengan cerita tentang mereka yang jatuh bukan karena kekurangan kemampuan, melainkan karena merasa terlalu tinggi untuk belajar rendah hati.

Namun kehidupan tidak hanya berbicara tentang hukuman. Di balik setiap kisah kejatuhan, ada pula cerita tentang kebaikan yang menemukan jalan pulangnya.

Seorang guru yang dengan tulus mengajar murid-muridnya mungkin tidak pernah mengetahui sejauh mana ilmunya mengubah kehidupan seseorang. Seorang tetangga yang membantu tanpa pamrih mungkin tidak pernah menyadari bahwa kebaikannya menjadi cahaya di tengah kesulitan orang lain. Bahkan senyuman sederhana kepada mereka yang sedang berjuang sering kali menjadi kekuatan yang tak ternilai.

Kebaikan memang tidak selalu kembali melalui pintu yang sama tempat ia keluar. Kadang ia datang melalui tangan orang yang tidak dikenal. Kadang hadir dalam bentuk pertolongan yang tidak pernah diduga. Kadang menjelma menjadi ketenangan hati ketika badai kehidupan datang menerpa.

Karena itulah, orang-orang bijak percaya bahwa tidak ada kebaikan yang benar-benar hilang. Ia hanya sedang menempuh perjalanan pulang.

Pada akhirnya, hidup adalah cermin yang jujur. Ia memantulkan apa yang kita kirimkan kepadanya. Bila yang kita tabur adalah kebencian, cepat atau lambat kita akan hidup di tengah suasana yang penuh kebencian. Bila yang kita tanam adalah kasih sayang, kesabaran, dan ketulusan, maka hal-hal itulah yang perlahan tumbuh mengelilingi kehidupan kita.

Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok.

Namun roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar. Dan ketika putaran itu kembali pada titiknya, setiap orang akan memetik buah dari benih yang pernah ia tanam.

Maka, selagi waktu masih memberi kesempatan, barangkali yang perlu kita lakukan bukanlah menghitung apa yang telah kita terima dari hidup, melainkan memastikan apa yang sedang kita taburkan kepada kehidupan. Sebab pada akhirnya, hidup bukan sekadar tentang ke mana kita melangkah, tetapi juga tentang jejak apa yang kita tinggalkan di sepanjang perjalanan.(Lia)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments