LESINDO.COM – Pagi itu, kabut belum sepenuhnya terangkat dari lereng Gunung Andong. Jalur masih lembap, dan tanah mengeluarkan aroma yang khas—perpaduan antara sisa hujan dan dedaunan yang luruh. Di Pos 2, seorang pria paruh baya duduk di atas batu, termos kecil di sampingnya.
Namanya Pak Wiryo—begitu ia memperkenalkan diri. Warga sekitar yang sudah puluhan tahun naik-turun Andong, entah untuk mencari kayu dulu, atau sekadar menemani para pendaki sekarang.
“Arep munggah?” tanyanya sambil tersenyum.
Saya mengangguk. Ia lalu berdiri pelan, mengambil tongkat kayu yang sudah mengilap di bagian genggamannya. “Tak temani tekan punggungan. Biar ngerti rasane,” katanya.
Perjalanan dilanjutkan. Jalur perlahan berubah—dari yang semula teduh menjadi lebih terbuka. Pepohonan mulai jarang, angin terasa lebih bebas bergerak. Langkah pun otomatis melambat.
“Nah, iki jenenge Punggung Alap-Alap,” ujar Pak Wiryo, berhenti sejenak.
Di hadapan kami, jalur memanjang seperti garis yang ditarik di atas punggung gunung. Kanan kiri terbuka, memperlihatkan lembah yang dalam dan langit yang luas. Tidak curam berlebihan, tapi cukup membuat siapa pun lebih berhati-hati.
“Kenapa disebut begitu, Pak?” saya bertanya.
Ia tidak langsung menjawab. Matanya justru mengarah ke langit, seolah mencari sesuatu yang pernah akrab dilihatnya.
“Mbiyen, ning kene kuwi akeh manuk alap-alap,” katanya akhirnya. “Muter-muter neng nduwur, ora akeh ngepak. Mung melu angin.”
(Dulu, di sini banyak burung alap-alap. Berputar-putar di atas, tidak banyak mengepakkan sayap. Hanya mengikuti angin.)

Saya ikut menengadah. Langit pagi itu bersih, hanya beberapa awan tipis yang bergerak pelan. Tak ada burung yang tampak, tapi entah kenapa, cerita itu membuat ruang di atas terasa tidak benar-benar kosong.
“Terus, punggung?” saya menimpali.
Pak Wiryo tersenyum kecil. “Lha wong jalure koyo ngene. Koyo geger,” jawabnya, menyebut kata Jawa untuk tulang punggung.
Kami kembali berjalan. Angin sesekali datang lebih kencang, membuat tubuh sedikit oleng. Di titik tertentu, saya refleks berhenti, menarik napas lebih dalam.
“Ing kene, wong biasane dadi luwih meneng,” kata Pak Wiryo lagi, seolah membaca isi kepala.
(Di sini, orang biasanya jadi lebih diam.)
Memang begitu adanya. Tidak ada yang benar-benar memerintah, tapi suasana seperti mengarahkan. Langkah jadi lebih hati-hati, pandangan lebih jauh, dan pikiran—entah kenapa—ikut merapat pada diri sendiri.
“Gunung kuwi dudu mung didaki,” lanjutnya pelan. “Nanging dirasakke.”
(Gunung itu bukan hanya didaki, tapi dirasakan.)
Kalimat itu menggantung di udara, bercampur dengan suara angin yang melewati ilalang. Tidak ada yang berlebihan, tidak pula terdengar seperti petuah. Tapi justru karena itu, ia terasa dekat.
Ketika akhirnya bagian punggungan itu terlewati, jalur kembali melebar. Pendaki lain mulai terlihat, suara percakapan kembali terdengar. Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda—seperti ada bagian perjalanan yang diam-diam meninggalkan jejak.
Saya menoleh ke belakang. Jalur yang tadi dilewati tampak seperti garis tipis di atas tubuh gunung. Sederhana, tapi menyimpan pengalaman yang sulit dijelaskan.
Pak Wiryo sudah berjalan lebih dulu. Tongkatnya mengetuk tanah pelan, ritmis, seolah sudah hafal setiap lekuk jalur ini.
“Wis, ayo. Puncak ora adoh,” katanya tanpa menoleh.
Langkah kembali disusun. Namun kali ini, bukan hanya kaki yang bergerak—ada kesadaran baru yang ikut berjalan.
Di Gunung Andong, Punggung Alap-Alap bukan sekadar nama tempat. Ia adalah bagian perjalanan yang mengajarkan sesuatu yang sederhana:
tentang menjaga keseimbangan—
di jalur yang terbuka,
dan mungkin juga, di dalam diri sendiri.(Mac)

