spot_img
BerandaBudayaDi Bawah Asap Kelud, Janji yang Tak Pernah Usai

Di Bawah Asap Kelud, Janji yang Tak Pernah Usai

Ia adalah pengingat bahwa kehidupan berjalan di antara dua sisi: kehancuran dan pemulihan. Bahwa manusia, betapapun cerdiknya, tetap tidak bisa sepenuhnya mengendalikan alam. Dan bahwa setiap janji—bahkan yang lahir dari kemarahan—selalu memiliki gema yang panjang.

LESINDO.COM – Gunung Kelud adalah gunung berapi aktif di Jawa Timur yang terbentuk dari aktivitas vulkanik selama ribuan tahun. Letusannya terkenal eksplosif karena adanya danau kawah di puncaknya yang bisa memicu lahar panas. Sejak zaman kolonial, Kelud sudah beberapa kali meletus besar, menjadikannya salah satu gunung berapi paling berbahaya di Indonesia.

Dalam legenda Jawa

Di lereng Gunung Kelud, pagi sering datang pelan—diselimuti kabut tipis dan bau tanah yang basah. Sawah-sawah terbentang hijau, seolah tak pernah mengenal amarah. Namun warga tahu, di balik tenangnya lanskap itu, tersimpan cerita lama yang tak pernah benar-benar padam.

Bagi sebagian orang, Kelud adalah gunung berapi aktif. Ia diukur dengan data, dipantau dengan alat, dan dibaca melalui grafik. Tetapi bagi masyarakat sekitar, Kelud adalah ingatan. Ia hidup dalam kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut—tentang cinta yang ditolak, tipu daya, dan sumpah yang menggantung di udara.

Konon, dahulu kala, seorang putri bernama Dewi Kilisuci menjadi pusat perhatian. Parasnya elok, tetapi keteguhannya lebih dari sekadar rupa. Ketika seorang raja berkepala kerbau, Lembu Suro, datang melamar, sang putri tidak serta-merta menerima. Ada jarak yang tak bisa dijembatani—antara kehendak dan keterpaksaan.

Syarat pun diajukan: membuat dua sumur raksasa dalam satu malam.

Permintaan yang terdengar mustahil, namun tidak bagi Lembu Suro. Dengan kesaktiannya, tanah dibelah, batu disingkirkan, dan waktu seolah tunduk di bawah kehendaknya. Malam berjalan cepat, dan sumur hampir rampung sebelum fajar benar-benar datang.

Di titik itulah, kecemasan berubah menjadi siasat.

Dewi Kilisuci meminta rakyat menumbuk padi, menyalakan api, dan menciptakan ilusi pagi. Ayam-ayam berkokok lebih awal. Cahaya memantul dari asap dan bara. Lembu Suro terkecoh—ia mengira waktu telah habis sebelum pekerjaannya selesai.

Amarahnya tak terbendung.

Dalam murka yang memuncak, ia dikubur di dalam sumur yang ia gali sendiri. Namun sebelum napasnya benar-benar terhenti, ia meninggalkan sumpah—bahwa tanah ini tidak akan pernah tenang. Bahwa suatu hari, ia akan kembali dalam bentuk amarah yang lebih besar.

Warga sekitar percaya, setiap letusan Gunung Kelud adalah gema dari sumpah itu.

Namun waktu mengajarkan hal lain. Letusan demi letusan tidak hanya meninggalkan kerusakan, tetapi juga kesadaran. Tanah yang sama, setelah luluh oleh lahar, perlahan kembali subur. Abu yang jatuh, yang semula dianggap ancaman, justru menjadi berkah bagi ladang-ladang.

Di sinilah Kelud menjadi lebih dari sekadar gunung atau legenda.

Ia adalah pengingat bahwa kehidupan berjalan di antara dua sisi: kehancuran dan pemulihan. Bahwa manusia, betapapun cerdiknya, tetap tidak bisa sepenuhnya mengendalikan alam. Dan bahwa setiap janji—bahkan yang lahir dari kemarahan—selalu memiliki gema yang panjang.

Di kaki Kelud, orang-orang tetap menanam, memanen, dan melanjutkan hidup. Mereka tidak hidup dalam ketakutan, tetapi dalam pengertian. Bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dipahami.

Dan ketika kabut turun lagi di pagi hari, menyelimuti lereng Gunung Kelud, kisah itu seolah berbisik pelan—tentang masa lalu yang belum sepenuhnya pergi, dan masa kini yang belajar untuk tetap berdiri.(Fai)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments