LESINDO.COM – Di sebuah sore yang mulai menguning, ketika cahaya matahari jatuh miring di sela dedaunan dan suara burung pulang bersahutan dari kejauhan, ada pemandangan yang kini semakin langka: seseorang duduk tenang di depan rumah, menyeruput kopi pelan-pelan, memandangi jalan kampung tanpa merasa perlu membuka layar ponsel. Tidak ada notifikasi, tidak ada rapat daring, tidak ada dering pesan yang menuntut jawaban cepat. Yang ada hanya kehadiran—utuh, sederhana, namun penuh makna.
Orang Jawa sejak lama mengenal sebuah ungkapan sederhana: ono dino ono upo. Secara harfiah berarti, “ada hari, ada rezeki.” Kalimat pendek itu kerap dimaknai sebagai bentuk kepasrahan pada nasib. Seolah-olah hidup cukup dijalani tanpa rencana, tanpa usaha, tanpa ambisi.
Padahal, bila ditelisik lebih dalam, filosofi ini menyimpan kebijaksanaan yang jauh lebih luas. Ia bukan tentang menyerah, melainkan tentang percaya. Bukan tentang pasif, melainkan tentang hadir sepenuhnya dalam hari yang sedang dijalani.
Di tengah zaman yang bergerak secepat kedipan mata, kemampuan untuk benar-benar hadir justru menjadi sesuatu yang mahal.
Kita hidup di era ketika tubuh menetap di satu tempat, tetapi pikiran terus berkelana ke mana-mana. Saat sarapan bersama keluarga, tangan memegang sendok, tetapi mata sibuk menelusuri linimasa. Saat duduk bersama sahabat, telinga mendengar percakapan, tetapi perhatian terpecah oleh notifikasi yang terus bermunculan.
Secara fisik kita ada. Namun secara batin, kita sering kali absen.
Inilah paradoks kehidupan modern: teknologi yang diciptakan untuk memudahkan justru diam-diam mencuri kemampuan paling mendasar manusia—menikmati momen.
Suapan nasi yang mestinya menghadirkan rasa, berubah sekadar rutinitas. Secangkir kopi yang seharusnya memberi jeda, hanya menjadi pelengkap sambil menatap layar. Bahkan senja yang indah pun kini sering lebih sibuk diabadikan daripada benar-benar dinikmati.
Tanpa disadari, kita hidup dalam penjara digital yang pintunya sebenarnya tidak pernah dikunci.
“Beban pekerjaan sekarang ikut pulang ke rumah, bahkan ikut masuk ke kamar tidur,” ujar banyak pekerja masa kini. Kantor tak lagi memiliki dinding. Ia tersimpan di dalam saku, siap memanggil kapan saja.
Akibatnya, banyak orang merasa lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.
Padahal generasi terdahulu memiliki mekanisme bertahan yang sangat manusiawi.
Di desa-desa, selepas matahari tenggelam dan cangkul diletakkan, maka selesai pulalah urusan hari itu. Tidak ada pesan mendadak dari atasan. Tidak ada grup kerja yang aktif hingga tengah malam.
Ada batas yang jelas antara mencari nafkah dan menikmati hidup.
Di beranda rumah, di atas lincak bambu, percakapan mengalir tanpa agenda. Secangkir kopi panas, pisang goreng, cerita tentang sawah, tentang cucu, tentang hujan yang terlambat datang—semuanya menjadi ritual sederhana yang ternyata menyuburkan jiwa.
Mereka mungkin tidak mengenal istilah mindfulness. Tidak pernah membaca buku pengembangan diri. Namun mereka mempraktikkannya setiap hari.
Mereka hadir.
Utuh.
Penuh.
Dan mungkin karena itulah mereka tampak lebih tenang.
Menikmati hari ini bukan berarti berhenti bermimpi. Bukan pula alasan untuk membunuh ambisi.
Justru sebaliknya.
Hadir sepenuhnya adalah cara agar manusia tidak tumbang di tengah perjalanan panjang kehidupan. Sebab hidup bukan sprint, melainkan maraton yang menuntut napas panjang dan ritme yang seimbang.
Ada beberapa kebiasaan kecil yang bisa menghidupkan kembali seni ini.
Mematikan ponsel saat makan bersama keluarga.
Berani berkata “cukup” ketika jam kerja telah selesai.
Duduk lima menit tanpa tujuan selain mendengar suara angin.
Menyadari aroma tanah setelah hujan.
Menghirup kopi tanpa tergesa.
Atau sekadar memandang langit pagi sebelum dunia mulai ramai.
Hal-hal kecil itu tampak sepele. Namun justru di sanalah kekayaan batin sering bersembunyi.
Pada akhirnya, manusia tidak selalu membutuhkan lebih banyak untuk merasa utuh. Kadang yang dibutuhkan hanyalah hadir lebih penuh pada apa yang sudah dimiliki hari ini.
Karena esok memang punya ceritanya sendiri.
Tetapi hari ini—detik ini—adalah satu-satunya kenyataan yang benar-benar kita miliki. (Nea)

