spot_img
BerandaBudayaSaat Keheningan Menari di Mangkunegaran

Saat Keheningan Menari di Mangkunegaran

Dalam tafsir artistiknya, Matah Ati tidak digambarkan sebagai perempuan yang hanya hadir di belakang layar. Ia adalah simbol keberanian. Sosok yang berdiri sejajar dalam perjuangan. Perempuan yang menjaga martabat, menguatkan langkah, dan hadir dalam denyut sejarah Jawa.

LESINDO.COM – Oleh malam, halaman dan ruang-ruang tua di Pura Mangkunegaran selalu memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Bukan melalui kata-kata, melainkan melalui bunyi, aroma, dan gerak yang perlahan merayap ke dalam kesadaran.

Malam itu, ketika jarum waktu bergerak mendekati pertunjukan, alunan gamelan mulai terdengar dari dalam Ndalem Ageng. Laras slendro dan pelog mengalun pelan, mengisi setiap rongga ruang dengan bunyi yang nyaris seperti doa. Tabuhan kendang mengatur napas. Bonang menyela lembut. Sementara gong, pada jeda-jeda tertentu, terdengar seperti penanda bahwa sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertunjukan tengah dipersiapkan.

Asap tipis mengepul dari sudut ruangan. Aroma dupa menyebar perlahan, pekat namun menenangkan. Dalam hitungan menit, suasana berubah. Udara terasa lebih berat, lebih hening, seolah seluruh ruang sedang diajak masuk ke dimensi lain—dimensi tempat seni, sejarah, dan spiritualitas saling berpelukan.

Kemudian, satu per satu penari muncul dari balik temaram cahaya.

Tarian Matah Ati pun dimulai.

Tidak ada gerak yang tergesa. Setiap langkah terasa ditimbang dengan kesadaran penuh. Jemari tangan melentik perlahan. Tatapan mata tertunduk, teduh namun menyimpan ketegasan. Kaki melangkah nyaris tanpa suara, mengikuti denyut gamelan yang mengalir seperti nadi.

Namun kekuatan utama tari ini justru tidak selalu hadir dalam gerak.

Ia hadir dalam diam.

Di tengah hitungan ritmis tertentu, para penari tiba-tiba berhenti. Tubuh mereka mematung dalam posisi yang nyaris sempurna. Tidak bergerak. Tidak bergeming. Hanya keheningan yang tersisa.

Di momen itulah, penonton seolah ikut menahan napas.

Tak ada batuk. Tak ada bisik. Bahkan suara langkah pun seperti lenyap.

Yang terdengar hanya ruang.

Dan dalam ruang itulah, Matah Ati berbicara.

Alunan laras slendro dan pelog mulai mengalun, membelah kesunyian malam di dalam Ndalem Ageng Pura Mangkunegaran. Asap tipis berkumpul, mengepul dari sudut-sudut ruangan, membawa aroma wangi dupa yang khas dan pekat (mc)

Tarian ini bukan sekadar karya koreografi. Ia adalah narasi sejarah tentang seorang perempuan bernama Rubiyah, gadis desa dari Matah yang kelak dipersunting oleh Raden Mas Said—tokoh yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa, pendiri Mangkunegaran pada 1757. Setelah menjadi bagian dari keluarga istana, Rubiyah memperoleh gelar Bandara Raden Ayu Matah Ati. Kisah tentang Matah Ati sebagai sosok pendamping sekaligus figur perempuan tangguh kemudian menjadi inspirasi lahirnya karya tari-drama ini.

Dalam tafsir artistiknya, Matah Ati tidak digambarkan sebagai perempuan yang hanya hadir di belakang layar. Ia adalah simbol keberanian. Sosok yang berdiri sejajar dalam perjuangan. Perempuan yang menjaga martabat, menguatkan langkah, dan hadir dalam denyut sejarah Jawa.

Maka tak heran, di balik kelembutan gerak para penari, selalu tersimpan ketegasan.

Ada wibawa.

Ada harga diri.

Ada semangat perempuan Jawa yang tidak banyak bicara, tetapi kukuh ketika menghadapi zaman.

Busana yang dikenakan para penari pun bukan sekadar kostum panggung. Setiap helai kain batik, setiap sanggul, setiap perhiasan kepala mengikuti pakem istana yang diwariskan turun-temurun. Semuanya dirawat seperti pusaka—bukan hanya karena nilai estetikanya, melainkan karena makna yang dikandungnya.

Bagi Mangkunegaran, Matah Ati bukan hanya pertunjukan.

Ia adalah cara merawat ingatan.

Ia adalah cara menjaga agar kisah tentang cinta, perjuangan, dan kesetiaan tidak hilang ditelan modernitas.

Ketika nada gong terakhir akhirnya menggema, para penari mundur perlahan ke balik tirai. Lampu-lampu mulai meredup. Penonton bangkit dari diamnya.

Namun aroma dupa masih tertinggal di udara.

Dan seperti jejak yang tak terlihat, getaran Matah Ati tetap tinggal—bukan di panggung, melainkan di dada setiap orang yang sempat menyaksikannya.(Die)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments