spot_img
BerandaBudayaMbon Rojo, Riwayatmu Kini

Mbon Rojo, Riwayatmu Kini

Di tengah laju modernisasi Solo yang terus bergerak, Sriwedari mengajarkan satu hal sederhana: bahwa sebuah tempat tidak harus tetap sama untuk tetap bermakna. Bangunan boleh berubah, fungsi boleh berganti, tetapi ingatan kolektif yang tertanam di dalamnya akan terus hidup selama masih ada orang yang mengenangnya.

Menelusuri Jejak Kebanggaan Kota Solo di Taman Sriwedari

LESINDO.COM – Oleh waktu, banyak tempat berubah rupa. Namun ada ruang-ruang tertentu yang tetap menyimpan jejak kenangan, seolah menolak hilang dari ingatan kolektif sebuah kota. Taman Sriwedari di jantung Kota Solo adalah salah satunya.

Bagi generasi yang tumbuh pada dekade 1980-an hingga 1990-an, nama Sriwedari bukan sekadar taman kota. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat rekreasi keluarga, panggung kesenian, sekaligus saksi perjalanan sejarah budaya Surakarta. Masyarakat lama lebih akrab menyebutnya dengan nama “Mbon Rojo” atau Kebon Rojo—kebun milik raja yang menjadi bagian dari kawasan budaya Kasunanan Surakarta.

Di masa lalu, kawasan ini menjadi kebanggaan warga Solo. Hamparan pepohonan yang rindang, arena hiburan rakyat, hingga kebun binatang yang menjadi tujuan wisata keluarga menjadikan Sriwedari selalu hidup oleh tawa anak-anak dan langkah para pengunjung.

Ketika masih berstatus pelajar SMA pada awal 1990-an, Sriwedari adalah ruang yang hampir tak pernah sepi. Di dalam kawasan itu berdiri Gedung Wayang Orang Sriwedari yang hingga kini tetap kokoh mempertahankan eksistensinya. Gedung tersebut menjadi salah satu panggung seni tradisional paling legendaris di Jawa, tempat kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana dipentaskan dari generasi ke generasi.

Tak jauh dari sana berdiri Museum Radya Pustaka, museum yang dikenal sebagai salah satu museum tertua di Indonesia. Di dalamnya tersimpan berbagai koleksi berharga yang merekam perjalanan budaya Jawa. Salah satu yang menarik perhatian adalah mesin ketik aksara Jawa, artefak langka yang menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa pernah berupaya mengadaptasi teknologi modern tanpa meninggalkan identitas budayanya.

Sriwedari kala itu juga memiliki wajah hiburan yang beragam. Ada bioskop Solo Theater yang menjadi tujuan anak muda menikmati film-film layar lebar. Ada pendopo yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan seni dan budaya. Di sudut lain terdapat taman hiburan rakyat dengan beragam wahana permainan anak, pertunjukan musik mingguan, dan keramaian yang selalu ditunggu masyarakat setiap akhir pekan.

Namun kota adalah makhluk hidup yang terus bergerak. Seiring pertumbuhan penduduk dan kebutuhan ruang yang semakin besar, banyak bagian Sriwedari mengalami perubahan. Kebun binatang yang dahulu menjadi daya tarik utama dipindahkan ke kawasan Jurug yang kini berkembang menjadi destinasi wisata satwa modern.

Satu demi satu bangunan dan arena hiburan yang pernah menjadi bagian penting kenangan warga perlahan menghilang. Sebagian diratakan, sebagian berganti fungsi. Waktu mengubah wajah Sriwedari seperti seorang pelukis yang menorehkan warna baru di atas kanvas lama.

Meski demikian, Sriwedari tidak benar-benar kehilangan jiwanya.

Kini hamparan taman yang luas menjadi wajah baru kawasan tersebut. Rumput hijau membentang menggantikan keramaian wahana permainan. Di beberapa sudut, kawanan rusa berkeliaran dengan tenang. Hewan-hewan itu tampak begitu akrab dengan manusia. Mereka mendekati pengunjung tanpa rasa takut, seolah memahami bahwa tempat itu kini menjadi rumah yang aman.

Menjelang sore, suasana Sriwedari menghadirkan pemandangan yang berbeda. Keluarga-keluarga berdatangan bersama anak-anak mereka. Sebagian duduk santai di bawah rindangnya pepohonan, sebagian lagi berjalan mengitari taman sambil menikmati cahaya senja yang perlahan menguning.

Anak-anak tampak riang ketika memberi makan rusa dengan ikatan kangkung yang dibawa dari rumah atau dibeli di sekitar kawasan. Tangan-tangan kecil itu menyodorkan sayuran dengan hati-hati, sementara rusa-rusa jinak menyambutnya dengan gerakan lembut. Tidak ada teriakan wahana permainan. Tidak ada dentuman musik panggung hiburan. Namun justru di situlah letak pesonanya sekarang: kesederhanaan.

Sriwedari hari ini mungkin berbeda dari Sriwedari yang hidup dalam ingatan banyak orang. Ia tidak lagi menjadi pusat hiburan rakyat seperti dahulu. Namun taman ini tetap menjalankan fungsi yang sama pentingnya, yakni menjadi ruang publik tempat warga kota bernafas, berkumpul, dan menciptakan kenangan baru.

Di tengah laju modernisasi Solo yang terus bergerak, Sriwedari mengajarkan satu hal sederhana: bahwa sebuah tempat tidak harus tetap sama untuk tetap bermakna. Bangunan boleh berubah, fungsi boleh berganti, tetapi ingatan kolektif yang tertanam di dalamnya akan terus hidup selama masih ada orang yang mengenangnya.

Dan setiap kali senja turun di Taman Sriwedari, seolah terdengar bisikan halus dari masa lalu.

Mbon Rojo, riwayatmu memang telah berubah. Namun namamu tetap hidup di hati warga Solo, sebagai halaman kenangan yang tak pernah benar-benar selesai ditulis.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments