spot_img
BerandaJelajahjelajahMongkrang, Bukit yang Belajar Menyambut Langkah

Mongkrang, Bukit yang Belajar Menyambut Langkah

Namun, seperti banyak perjalanan menuju alam, waktu seolah kehilangan maknanya. Yang tersisa hanyalah harapan untuk segera tiba dan menyambut pagi dari ketinggian.

Ketika kendaraan memasuki kawasan Gondosuli, udara dingin khas lereng Gunung Lawu mulai terasa. Aroma tanah basah dan pepohonan menyelinap melalui jendela yang sedikit terbuka. Langit masih gelap, tetapi garis tipis cahaya di ufuk timur mulai memberi tanda bahwa pagi sedang dalam perjalanan.

Bukit Mongkrang berdiri tenang di ketinggian sekitar 2.194 meter di atas permukaan laut. Kini namanya dikenal luas sebagai salah satu destinasi favorit pendaki pemula. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa sebelum ramai dikunjungi wisatawan, kawasan ini pernah menjadi wilayah yang relatif tertutup. Lereng-lerengnya lebih sering menjadi arena pelatihan survival bagi kalangan militer dan komunitas pecinta alam dibanding tempat rekreasi masyarakat umum.

Baru pada akhir tahun 2019 kawasan ini resmi dibuka sebagai jalur wisata pendakian. Sejak saat itu, foto-foto hamparan sabana dan panorama Gunung Lawu yang dibagikan di media sosial membuat nama Mongkrang melesat cepat. Bukit yang dahulu sunyi perlahan berubah menjadi ruang perjumpaan bagi para pencinta alam.

Dari area basecamp, langkah pendakian dimulai. Jalur yang relatif landai membuat perjalanan terasa bersahabat. Tidak ada hutan lebat yang menelan pandangan atau tanjakan ekstrem yang menguras tenaga sejak awal. Namun justru di situlah daya tarik Mongkrang. Bukit ini mengajarkan bahwa menikmati alam tidak selalu harus melalui perjuangan yang berat.

Sepanjang jalur, ilalang bergoyang mengikuti arah angin. Sesekali kabut tipis bergerak perlahan, menyingkap lalu kembali menutupi pemandangan di kejauhan. Gunung Lawu berdiri megah di sisi timur, seolah menjadi penjaga setia yang mengawasi setiap langkah pendaki.

Di tengah perjalanan, terdapat sebuah lembah yang dikenal sebagai Sadelan. Dari kejauhan bentuknya menyerupai pelana kuda yang membentang di antara Bukit Candi dan puncak Mongkrang. Tempat ini sering menjadi titik istirahat. Pendaki duduk di rerumputan, menikmati bekal sederhana sambil memandang bentangan alam yang seakan tidak berujung.

Wilayah ini dulunya lebih banyak difungsikan sebagai area pendidikan dan pelatihan survival bagi instansi militer (seperti Kopassus) dan klub-klub pecinta alam.(mc)

Bagi masyarakat sekitar, Mongkrang bukan sekadar bentang alam. Kawasan ini menyimpan berbagai cerita yang diwariskan turun-temurun. Ada kisah tentang Tapak Nogo yang dipercaya sebagai simbol kekuatan alam. Ada pula nama Kiai Gadung Awuk yang masih disebut dalam berbagai cerita lokal. Lereng Lawu, termasuk Mongkrang, sejak lama dipandang sebagai ruang yang memiliki nilai spiritual tersendiri.

Kepercayaan itu mungkin sulit dibuktikan secara ilmiah, tetapi ketika berdiri di puncaknya, mudah memahami mengapa masyarakat memandang tempat ini dengan rasa hormat. Angin yang berembus tanpa henti, hamparan sabana yang luas, dan keheningan yang sesekali hanya dipecah suara burung menciptakan suasana yang mengajak siapa pun untuk menundukkan ego di hadapan alam.

Pagi itu cuaca cerah. Angin berembus lembut. Meski udara puncak terasa dingin, masih ada hangat sinar matahari yang perlahan muncul dari balik tirai kabut. Cahaya keemasan menyapu ilalang dan lereng-lereng bukit, menghadirkan pemandangan yang membuat setiap langkah terasa layak diperjuangkan.

Di balik keindahannya, Mongkrang juga menyimpan cerita tentang perubahan. Sebelum kawasan ini ramai dikunjungi, lereng-lerengnya merupakan habitat alami berbagai satwa liar seperti menjangan, babi hutan, monyet, landak, hingga kucing hutan. Kini, sebagian besar penghuni lama itu semakin jarang terlihat. Kehadiran manusia membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap destinasi wisata membutuhkan kesadaran untuk menjaga keseimbangan alamnya.

Menjelang turun, puncak Mongkrang perlahan kembali dipenuhi pendaki yang datang silih berganti. Ada yang sibuk berfoto, ada yang sekadar duduk menikmati panorama, dan ada pula yang memilih diam, memandangi Gunung Lawu sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Mungkin itulah alasan banyak orang kembali ke tempat seperti ini. Bukan semata-mata untuk menaklukkan ketinggian, melainkan untuk menemukan ruang jeda dari hiruk-pikuk kehidupan. Di Mongkrang, setiap langkah seolah mengingatkan bahwa perjalanan bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi juga tentang belajar menikmati proses menuju ke sana.

Dan ketika perjalanan usai, yang dibawa pulang bukan hanya foto-foto indah, melainkan juga kesadaran sederhana: alam selalu memiliki cara untuk membuat manusia kembali merasa kecil, sekaligus bersyukur. (Ona)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments