Oleh : Goes Mic
LESINDO.COM – Oleh terik yang menggantung tepat di atas kepala, siang itu jalan raya tampak bergetar. Aspal memantulkan panas seperti bara yang diratakan, sementara deru kendaraan berkejaran dengan waktu. Klakson bersahutan, truk dan sepeda motor saling menyalip, lalu lintas bergerak dalam ritme yang nyaris tanpa jeda.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah mobil bak terbuka melintas perlahan.
Tak ada yang istimewa pada kendaraan tersebut. Namun, di atas bak besi yang terbuka dan terpapar matahari langsung, seorang pria terbaring dengan tubuh terlentang. Ia bukan sedang duduk beristirahat atau sekadar merebahkan badan. Ia tertidur.
Sangat lelap.
Wajahnya menghadap langit. Kedua tangannya terkulai santai. Pakaian kerjanya tampak kusam oleh debu dan keringat. Sesekali angin jalanan menerpa ujung bajunya, tetapi tak cukup kuat untuk mengusik tidurnya. Ia tetap terlelap di atas permukaan bata merah yang mungkin terasa panas bagi kebanyakan orang.
Barangkali pagi itu ia telah mengangkat beban yang berat. Mungkin pula tubuhnya telah dipaksa bekerja sejak fajar menyingsing. Yang pasti, kelelahan telah mengalahkan segala pertimbangan tentang kenyamanan.
Bagi seseorang yang benar-benar letih, tempat tidur terbaik bukanlah kasur yang mahal. Ia adalah ruang di mana tubuh akhirnya diberi kesempatan untuk berhenti.
Pemandangan itu mengundang banyak tafsir. Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai potret kerasnya kehidupan kaum pekerja. Sebagian lain mungkin menganggapnya sebagai tindakan yang berbahaya. Namun, di balik semua itu, tersimpan pelajaran yang kerap luput dari perhatian.
Manusia modern hidup dalam standar kenyamanan yang terus meningkat. Kita berbicara tentang kualitas kasur, pendingin ruangan, desain kamar, pencahayaan, hingga aroma terapi sebelum tidur. Kita mengejar berbagai fasilitas agar bisa beristirahat dengan sempurna.
Ironisnya, semakin banyak syarat yang kita ciptakan untuk merasa nyaman, semakin sulit pula kita menemukan ketenangan.
Di sisi lain, seorang buruh yang mungkin tidak memiliki semua kemewahan itu justru mampu memejamkan mata di tengah terik siang dan kebisingan jalan raya.
Tidurnya mengandung sebuah kesederhanaan yang nyaris hilang dari kehidupan banyak orang.
Ia tidak sedang mencari kebahagiaan yang rumit. Ia hanya memenuhi kebutuhan paling dasar sebagai manusia: beristirahat setelah bekerja.
Barangkali di situlah letak kemewahan yang sesungguhnya.
Kita sering mengukur nikmat dari apa yang belum dimiliki. Rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih baru, pekerjaan yang lebih mapan, atau penghasilan yang lebih tinggi. Daftar keinginan itu terus bertambah, sementara rasa cukup semakin sulit ditemukan.
Padahal, kebahagiaan kadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Seteguk air ketika haus.
Angin yang berembus setelah berjalan jauh.
Tubuh yang bisa berbaring setelah seharian bekerja.
Atau tidur yang begitu pulas di atas bak mobil terbuka.
Pemandangan siang itu terasa seperti sebuah khotbah tanpa mimbar. Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Tidak ada petuah yang disampaikan. Hanya seorang pekerja yang tertidur lelap di tengah perjalanan.
Namun, dari kesederhanaan itulah muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: apakah selama ini kita terlalu sibuk mengejar kenyamanan, hingga lupa menikmati ketenangan?
Mobil itu terus melaju dan perlahan menghilang di ujung jalan. Sang buruh tetap tertidur, seolah dunia tak lagi memiliki kuasa untuk mengganggunya.
Sementara bagi mereka yang sempat menyaksikan, pemandangan itu mungkin tinggal beberapa detik saja.
Tetapi maknanya bisa menetap jauh lebih lama.
Sebab siang itu, di atas bak terbuka yang panas dan jauh dari kata mewah, seseorang memperlihatkan bahwa rasa cukup masih mungkin ditemukan. Dan terkadang, sepotong surga hadir bukan dalam kemegahan, melainkan dalam kesempatan sederhana untuk memejamkan mata dengan hati yang damai.

