spot_img
BerandaJelajahjelajahMenyeberang Selat, Menyeberang Kehidupan

Menyeberang Selat, Menyeberang Kehidupan

Mungkin itulah sebabnya orang-orang yang rendah hati sering terlihat lebih tenang menghadapi kehidupan. Mereka tidak sibuk membalas setiap ucapan yang menyakitkan. Mereka tidak tergesa membuktikan diri kepada orang lain.

LESINDO.COM – Langit sore di Pelabuhan Lembar masih menyimpan warna kelabu ketika kapal perlahan membuka tali tambatnya. Deru mesin mulai menggetarkan lambung kapal, sementara di kejauhan garis pantai Lombok perlahan menjauh, seakan melambaikan salam perpisahan kepada setiap penumpang yang berdiri di geladak.

Di atas kapal, manusia datang dari berbagai arah dan tujuan. Ada wisatawan dengan ransel besar yang menggantung di punggung, pekerja yang hendak kembali ke Bali setelah menuntaskan urusan di Lombok, pedagang yang membawa barang dagangan, hingga keluarga yang menyeberang untuk menemui sanak saudara.

Mereka berbeda usia, berbeda latar belakang, berbeda cerita hidup. Namun selama beberapa jam perjalanan melintasi Selat Lombok, mereka berada dalam ruang yang sama, di bawah langit yang sama, dan di atas kapal yang sama.

Perjalanan seperti ini selalu mengingatkan bahwa hidup pun sesungguhnya adalah sebuah penyeberangan.

Di antara ratusan wajah yang lalu lalang di kapal, kita akan menemukan beragam karakter manusia. Ada yang ramah dan mudah tersenyum, ada yang lebih memilih diam sambil memandangi laut. Ada yang ringan tangan membantu orang lain mengangkat barang, ada pula yang terlihat sibuk dengan urusannya sendiri.

Namun justru dari keberagaman itulah manusia belajar.

Seorang lelaki tua yang duduk di sudut geladak memandangi ombak yang terbelah oleh haluan kapal. Ia bercerita bahwa selama puluhan tahun hidupnya, ia memahami satu hal sederhana: manusia tidak pernah dipertemukan secara kebetulan.

“Setiap orang datang membawa pelajaran,” ujarnya pelan.

Gerbang Pelabuhan Lembar tampak kokoh berdiri sebagai penanda awal sebuah perjalanan. Di bawahnya, armada niaga bermuatan logistik, bus-bus pariwisata, dan beragam kendaraan lainnya hilir mudik tanpa jeda. Tak mengenal waktu, pelabuhan ini terus berdenyut, menjadi nadi transportasi yang menghubungkan pulau sekaligus menggerakkan roda perekonomian dan pariwisata.(mc)

Kalimat itu terasa begitu dekat dengan pemandangan di hadapan. Laut yang tenang tidak selalu menghasilkan pelaut yang tangguh. Justru ombak, arus, dan anginlah yang menempa kemampuan mereka membaca arah.

Begitu pula manusia.

Teman yang keras sering kali mengajarkan keberanian dan ketegasan. Teman yang lembut mengajarkan kasih sayang. Mereka yang pernah mengabaikan kita membuat kita belajar pentingnya perhatian. Mereka yang pernah mengkhianati mengajarkan betapa berharganya kepercayaan. Bahkan mereka yang pernah menyakiti sering kali tanpa sadar mengajarkan kewaspadaan dan kedewasaan.

Besi menajamkan besi. Manusia menajamkan sesamanya.

Barangkali karena itu tali silaturahmi tidak seharusnya mudah diputus hanya karena perbedaan sifat, pandangan, atau watak. Sebab dalam setiap perjumpaan selalu ada ruang pembelajaran yang tidak dapat diberikan oleh buku mana pun.

Di tengah perjalanan, angin laut bertiup semakin kencang. Beberapa penumpang memilih masuk ke dalam kabin. Sebagian lainnya tetap bertahan di geladak menikmati semburat biru laut yang membentang tanpa batas.

Laut mengajarkan satu hal yang sama kepada setiap orang: tidak semua perjalanan berlangsung tenang.

Kadang ombak datang tanpa pemberitahuan. Kadang angin berembus berlawanan arah. Namun kapal tetap bergerak menuju tujuan.

Seperti payung yang tidak mampu menghentikan hujan, kehidupan pun tidak selalu mampu menghilangkan masalah. Tetapi dengan kesabaran, kerendahan hati, dan kebijaksanaan, manusia tetap dapat melangkah menembus segala keadaan.

Mungkin itulah sebabnya orang-orang yang rendah hati sering terlihat lebih tenang menghadapi kehidupan. Mereka tidak sibuk membalas setiap ucapan yang menyakitkan. Mereka tidak tergesa membuktikan diri kepada orang lain. Mereka memahami bahwa penilaian manusia hanyalah riak kecil di permukaan, sementara kedalaman diri ditentukan oleh bagaimana seseorang menjaga sikap dan hatinya.

Ketika ada orang berbicara di belakang kita, mungkin itu hanyalah tanda bahwa perjalanan kita sedang bergerak lebih jauh daripada yang mereka tempuh. Ketika ada yang meremehkan, bisa jadi itu hanyalah cara mereka memahami sesuatu yang belum mereka miliki.

Maka tidak perlu membenci.

Tidak perlu pula memutuskan tali persaudaraan.

Sebab hidup terlalu singkat untuk dihabiskan memelihara luka dan terlalu berharga untuk dipenuhi prasangka.

Menjelang siang, siluet Pulau Bali mulai tampak dari kejauhan. Garis pantainya perlahan membesar, menghadirkan tanda bahwa perjalanan akan segera berakhir.

Kapal merapat ke Padangbai. Penumpang kembali mengambil barang-barang mereka. Mereka turun satu per satu, melanjutkan perjalanan masing-masing yang mungkin tidak akan pernah saling bertemu lagi.

Namun seperti halnya perjalanan dari Lembar menuju Padangbai, setiap perjumpaan telah meninggalkan jejak.

Sebuah pengingat bahwa manusia hadir dalam hidup kita bukan semata untuk menemani, melainkan juga untuk mengajari. Dan selama tali silaturahmi tetap terjaga, selama hati tetap terbuka untuk belajar, setiap perjalanan akan selalu membawa makna yang lebih dalam daripada sekadar berpindah tempat.

Dari Lembar ke Padangbai, dari satu pulau ke pulau lain, sesungguhnya manusia sedang belajar menyeberangi dirinya sendiri. (Mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments