Di balik harga kehidupan yang tak pernah bisa ditawar
Oleh : Faicha AM
LESINDO.COM – Pagi itu matahari belum terlalu tinggi. Udara masih bersih, embun belum sepenuhnya hilang dari dedaunan, dan dunia tampak berjalan seperti biasa. Orang-orang berangkat bekerja, anak-anak berangkat sekolah, pedagang membuka lapak, kendaraan mulai memenuhi jalanan. Tidak ada yang tampak istimewa. Semuanya terlihat biasa—terlalu biasa, sampai manusia lupa bahwa “biasa” sesungguhnya adalah kemewahan.
Kita sering hidup seperti itu.
Ketika tubuh sehat, langkah terasa ringan, nafas terasa lega, kepala jernih, dan sendi-sendi bergerak tanpa rasa nyeri—keinginan manusia mendadak menjadi sangat banyak. Ingin rumah yang lebih besar. Ingin kendaraan yang lebih baru. Ingin jabatan yang lebih tinggi. Ingin penghasilan yang lebih besar. Ingin dikenal. Ingin dipuji. Ingin dihormati. Ingin ini, ingin itu. Daftar keinginan seperti tak pernah selesai ditulis.
Namun hidup memiliki caranya sendiri untuk membuat manusia kembali sadar.
Cukup satu demam yang tak kunjung turun.
Cukup satu hasil laboratorium yang membuat tangan gemetar.
Cukup satu malam panjang di ruang rumah sakit.
Cukup satu tubuh yang mendadak tak mampu digerakkan seperti biasa.
Dan semua daftar keinginan itu mendadak lenyap.
Tidak ada lagi mimpi tentang mobil baru. Tidak ada lagi ambisi tentang jabatan. Tidak ada lagi gengsi tentang penampilan. Tidak ada lagi hasrat untuk dipuji.
Yang tersisa hanya satu doa sederhana:
“Ya Tuhan… aku hanya ingin sehat.”
Di titik itulah manusia baru mengerti, bahwa rezeki ternyata tidak selalu berbentuk angka di rekening. Bukan selalu tanah, rumah, emas, saham, atau warisan.
Rezeki terbesar sering kali hadir dalam bentuk yang terlalu dekat sehingga tidak dianggap—paru-paru yang masih bisa menghirup udara tanpa alat bantu, kaki yang masih kuat melangkah menuju tempat ibadah, tangan yang masih mampu menyuap makanan ke mulut sendiri, mata yang masih mampu melihat wajah orang-orang tercinta.
Dan ironisnya, sesuatu yang gratis setiap hari justru paling jarang disyukuri.
Sebuah kisah menarik pernah diceritakan dalam sebuah forum bisnis. Kisah sederhana, tetapi meninggalkan bekas yang dalam.
Ada sebuah kebun binatang baru yang dibangun dengan megah. Lokasinya strategis, fasilitasnya modern, koleksinya lengkap. Manajemen optimis tempat itu akan menjadi destinasi wisata keluarga yang ramai.
Harga tiket masuk dipatok seratus ribu rupiah.
Promosi dilakukan di mana-mana. Baliho dipasang. Media sosial digencarkan. Influencer didatangkan. Brosur dibagikan.
Namun hari demi hari berlalu, pengunjung yang datang tak sebanyak yang dibayangkan.
Sepi.
Manajemen mulai gelisah.
Mereka melakukan evaluasi. Harga diturunkan menjadi lima puluh ribu rupiah. Harapannya masyarakat lebih tertarik.
Ada peningkatan, tetapi tetap belum memuaskan.
Direksi kembali mengadakan rapat. Diskusi berlangsung panjang. Berbagai strategi dikeluarkan.
Sampai akhirnya muncul keputusan yang cukup berani:
“Gratis.”
Khusus hari tertentu, siapa pun boleh masuk tanpa membayar.
Tak disangka.
Pagi belum terlalu siang, antrean sudah mengular. Parkiran penuh. Tawa anak-anak terdengar di mana-mana. Kamera ponsel sibuk mengabadikan momen. Orang-orang berbondong-bondong masuk.
Gratis memang selalu punya daya tarik yang sulit ditolak.
Kebun binatang itu mendadak sesak.
Orang-orang menikmati setiap sudut tanpa beban.
Sampai sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan terjadi.
Tanpa pengumuman.
Tanpa aba-aba.
Tanpa tanda-tanda.
Pintu keluar ditutup rapat.
Tak ada celah.
Tak ada jalan.
Kepanikan mulai muncul.
Dan di saat bersamaan…
Seekor singa lapar dilepaskan.
Raungan pertamanya membuat suasana berubah total.
Tawa berubah jeritan.
Wajah bahagia berubah pucat.
Orang-orang berlari tanpa arah. Anak-anak menangis. Orang dewasa saling dorong. Tidak ada lagi waktu untuk selfie. Tidak ada lagi waktu untuk menikmati wahana.
Yang ada hanya satu naluri paling purba dalam diri manusia:
bertahan hidup.
Di dekat pintu keluar, terpampang sebuah tulisan besar:
“Yang ingin selamat dan keluar, bayar Rp500.000.”
Tak ada protes.
Tak ada negosiasi.
Tak ada tawar-menawar.
Tak ada yang berkata mahal.
Bahkan mungkin, bila tertulis lima juta pun, orang tetap akan mencari cara untuk membayarnya.
Karena ketika nyawa dipertaruhkan, harga tidak lagi menjadi persoalan.
Yang penting satu:
“Aku harus selamat.”
Begitulah manusia.
Saat hidup terasa aman, kita sibuk menawar nilai kehidupan.
Kita menunda ibadah karena merasa masih muda.
Kita menunda meminta maaf karena merasa masih punya waktu.
Kita menunda pulang menemui orang tua karena merasa besok masih ada.
Kita menunda bersyukur karena merasa pencapaian belum cukup.
Kita hidup seolah pintu keluar selalu terbuka.
Padahal tak ada seorang pun tahu kapan pintu itu mendadak tertutup.
Tak ada yang tahu kapan “singa-singa kehidupan” dilepaskan—bisa berupa sakit, kehilangan, kecelakaan, kegagalan, pengkhianatan, atau kabar duka yang datang tanpa undangan.
Dan ketika itu terjadi, manusia baru sadar bahwa yang paling berharga bukan apa yang dimiliki…
melainkan apa yang selama ini dianggap biasa.
Tubuh yang sehat.
Keluarga yang utuh.
Waktu yang lapang.
Hati yang tenang.
Kesempatan untuk sujud.
Kesempatan untuk memperbaiki diri.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan…
tetapi seberapa sadar kita bahwa setiap tarikan napas adalah anugerah yang tak pernah benar-benar gratis.

