Menaklukkan Merbabu di Usia Senja: Ketika Puncak Mengajarkan Syukur
Oleh: Faicha Adilla M
LESINDO.COM – Adventure bukanlah milik anak muda semata. Alam tidak pernah membatasi usia siapa pun yang ingin datang menikmati keindahannya. Di usia yang telah melewati setengah abad, langkah mungkin tak lagi secepat dahulu, napas tak lagi sepanjang masa muda, tetapi semangat untuk menyapa langit dan gunung tetap menyala.
Perjalanan menuju puncak Gunung Merbabu menjadi bukti bahwa petualangan sejatinya adalah soal keberanian menjaga mimpi tetap hidup.
Dari puncak Kenteng Songo, bentangan cakrawala terbuka tanpa batas. Mata dapat memandang hampir 360 derajat ke segala penjuru. Di sebelah barat tampak Gunung Sindoro dan Sumbing berdiri berdampingan seperti saudara tua yang menjaga langit Jawa Tengah. Sedikit ke utara terlihat Gunung Andong, Telomoyo, dan Ungaran. Di sisi timur berdiri Gunung Lawu yang anggun, sementara di selatan Gunung Merapi masih tampak gagah dengan puncaknya yang mengerucut dan sesekali mengepulkan asap.
Di hadapan panorama sebesar itu, rasanya hanya ada satu kata yang pantas terucap.
“Subhanallah.”
Perjalanan dimulai pada siang hari. Rombongan berjumlah sembilan orang berangkat dari rumah pukul 13.00 WIB menuju Basecamp Antonabil, jalur pendakian Gancik. Sekitar pukul 15.00 WIB rombongan tiba dan langsung melakukan registrasi serta pemeriksaan perlengkapan.
Setengah jam kemudian, perjalanan berlanjut menggunakan jasa ojek lokal menuju Pintu Rimba pada ketinggian sekitar 1.850 meter di atas permukaan laut.
Pengalaman naik ojek menuju titik awal pendakian menjadi petualangan tersendiri. Jalan yang menanjak curam dengan tikungan-tikungan patah yang ekstrem membuat jantung beberapa kali berdegup lebih cepat. Para pengemudi ojek tampak sangat berpengalaman. Carrier besar diletakkan di depan motor, sementara penumpang duduk di belakang. Di beberapa tanjakan, tangan spontan berpegangan pada pundak pengemudi demi menjaga keseimbangan.
Sekitar dua puluh menit kemudian rombongan tiba di Pintu Rimba. Peregangan kaki dan tangan dilakukan untuk mengurangi kekakuan otot sebelum pendakian dimulai.
Pukul 16.30 WIB langkah pertama menuju puncak akhirnya dimulai. Cuaca cerah dan semangat masih penuh.
Namun gunung selalu memiliki caranya sendiri untuk menguji manusia.

Sekitar satu dua perjalanan, rombongan tiba di Pos 2. Kabut tebal perlahan turun menyelimuti jalur. Tak lama kemudian rintik hujan ikut mengiringi. Rencana awal untuk mendirikan tenda di Mini Sabana atau Sabana 2 terpaksa dibatalkan.
Keselamatan menjadi pertimbangan utama.
Dua tenda segera didirikan di sekitar Pos 2. Carrier yang semula belum direncanakan untuk dibongkar akhirnya harus dibuka lebih cepat. Malam itu rombongan beristirahat sambil berharap cuaca esok pagi lebih bersahabat.
Pukul 03.00 dini hari aktivitas kembali dimulai.
Dalam gelap dan dinginnya Merbabu, para pendaki bersiap menuju summit attack. Pos 3 dicapai sekitar satu jam kemudian. Perjalanan menuju Pos 4 membutuhkan waktu kurang lebih satu jam lagi. Menjelang pukul 06.00 pagi, Pos 5 berhasil dicapai.
Dari titik ini puncak Kenteng Songo sudah terlihat jelas.
Namun melihat puncak dari kejauhan ternyata berbeda dengan menjangkaunya.
Medan yang menghadang tampak menjulang dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Dalam hati muncul keraguan yang manusiawi.
“Apakah masih sanggup sampai?”
Pertanyaan itu sesekali muncul di sela-sela langkah yang mulai berat. Tetapi tekad untuk mencapai puncak lebih kuat daripada keraguan yang datang.
Di depan terbentang tanjakan yang sangat terkenal di kalangan pendaki: Tanjakan Frustasi.
Nama itu ternyata bukan sekadar lelucon.
Jalur yang licin, curam, dan menguras tenaga membuat setiap langkah terasa mahal. Di beberapa titik, tali-tali yang bergelantungan menjadi pegangan wajib. Kesalahan kecil dapat berakibat tergelincir. Banyak pendaki harus berhenti berulang kali untuk mengatur napas dan memulihkan tenaga.
Di sinilah mental diuji.

Gunung mengajarkan bahwa keberhasilan sering kali hanya berjarak satu langkah tambahan dari titik ketika seseorang ingin menyerah.
Pukul 08.30 WIB, puncak Kenteng Songo akhirnya berhasil dicapai.
Sisa tenaga nyaris habis. Kaki terasa berat. Napas memburu. Namun semua kelelahan seakan lenyap ketika mata menyaksikan bentangan alam yang luar biasa indah.
Langit biru membentang luas.
Awan putih bergerak perlahan di bawah kaki.
Gunung-gunung berdiri mengelilingi horizon.
Dalam keheningan puncak, manusia merasa begitu kecil sekaligus begitu dekat dengan kebesaran Sang Pencipta.
Tak ada kalimat panjang yang mampu menggambarkan perasaan itu.
Hanya satu ucapan yang berulang kali terlintas.
“Subhanallah.”
Sekitar satu jam rombongan menikmati puncak, mengabadikan momen, dan beristirahat sebelum turun.
Banyak pendaki mengira tantangan terbesar adalah mencapai summit. Padahal, bahaya justru sering datang saat perjalanan turun.
Kondisi tubuh yang sudah lelah membuat konsentrasi menurun. Lutut mulai bekerja lebih keras. Kurangnya persediaan air atau kelalaian kecil dalam mengatur langkah bisa berujung pada cedera serius.
Pendakian gunung bukan sekadar soal naik ke atas. Di dalamnya ada manajemen logistik, perencanaan waktu, kesiapan fisik, perlengkapan yang memadai, serta kemampuan membaca risiko.
Sebuah tulisan yang terpampang di basecamp terasa sederhana sekaligus mengandung pesan mendalam:
“Mendaki membawa pacar, pulang dibawa tim SAR.”
Kalimat itu mengingatkan bahwa gunung selalu harus dihormati, bukan ditaklukkan dengan kesombongan.
Merbabu pada akhirnya bukan hanya tentang mencapai puncak. Gunung ini mengajarkan bahwa usia bukan penghalang untuk bermimpi, bahwa keterbatasan bisa dikalahkan oleh tekad, dan bahwa rasa syukur sering kali hadir ketika manusia berdiri di tempat tertinggi lalu menyadari betapa kecil dirinya di hadapan alam semesta.
Di usia yang tidak lagi muda, perjalanan itu menjadi pengingat bahwa petualangan terbaik bukanlah soal seberapa tinggi gunung yang didaki, melainkan seberapa banyak pelajaran yang dibawa pulang setelah kembali ke rumah.

