Napas Tua di Jalur Merbabu
LESIND.COM – Langkahnya pelan, tetapi pasti. Sesekali ia berhenti untuk mengatur napas sebelum kembali menapaki jalur terjal menuju puncak. Usianya sudah 58 tahun, usia yang bagi sebagian orang mungkin identik dengan masa menikmati hari-hari yang lebih santai. Namun bagi Marlita, perempuan asal Pontianak, Kalimantan Barat, gunung justru menjadi ruang baru untuk menikmati hidup.
Di jalur pendakian Gunung Merbabu menuju Kenteng Songo (3.122 mdpl), pendaki perempuan itu menjadi sosok yang menarik perhatian. Banyak pendaki muda yang berpapasan memberikan semangat.
“Semangat, Bu. Hebat masih kuat mendaki,” ujar seorang pendaki saat berpapasan.
Ucapan seperti itu ternyata bukan hal baru. Bagi para pendaki yang telah memasuki usia senja, apresiasi dari sesama pendaki kerap menjadi warna tersendiri dalam perjalanan menuju puncak.
Mendaki gunung memang bukan sekadar aktivitas fisik. Di balik setiap langkah terdapat cerita, pengalaman, dan pelajaran hidup. Setiap gunung menawarkan karakter yang berbeda. Kontur jalur yang berubah-ubah, cuaca yang sulit ditebak, hingga pertemuan dengan pendaki dari berbagai daerah bahkan mancanegara menjadi bagian dari pengalaman yang tak ternilai.
Semakin mendekati puncak, tantangan semakin terasa. Jalur menuju Kenteng Songo dikenal cukup menguras tenaga dan mental. Di beberapa titik, kemiringan mencapai sekitar 60 derajat. Tanah berdebu dan licin membuat pendaki harus berpegangan pada tali yang telah dipasang sebagai alat bantu.
Banyak pendaki muda terlihat berhenti untuk mengumpulkan keberanian sebelum melewati tanjakan tersebut. Bahkan seorang pendaki perempuan tampak menangis dan ragu melanjutkan perjalanan.
“Ayo sama kami. Kita pelan-pelan saja kok,” bujuk seorang pendaki dari rombongan Solo.
Namun setelah beberapa menit menimbang antara melanjutkan perjalanan atau kembali turun, perempuan muda itu akhirnya memilih mundur. Keputusan yang tidak mudah, tetapi terkadang keselamatan memang harus menjadi prioritas utama.
Di jalur yang sama, Marlita justru terus melangkah. Dengan bantuan porter dan ritme pendakian yang terukur, ia berhasil melewati tanjakan ekstrem yang membuat banyak orang ciut nyali.
Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa usia sering kali bukanlah hambatan utama. Mental dan kemauan justru menjadi faktor yang menentukan.
Mendaki gunung pada usia 50 tahun ke atas bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga memberikan banyak manfaat. Aktivitas ini melatih kesehatan jantung, menjaga kekuatan otot dan tulang, sekaligus membantu mengurangi stres melalui kedekatan dengan alam. Bagi banyak orang, mendaki juga menjadi sarana bersosialisasi dan mempertahankan semangat hidup agar tetap muda.
Saat ditanya mengapa masih memilih mendaki di usia menjelang pensiun, Marlita menjawab dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
“Saya memang suka trekking. Setelah Lebaran kemarin saya naik Gunung Prau di Dieng. Gunung-gunung di Jawa bagus-bagus, tidak kalah dengan tempat lain. Gunung Merbabu luar biasa. Saya jadi ketagihan mendaki,” katanya.
Jawaban itu terdengar sederhana. Namun di balik kalimat singkat tersebut tersimpan pesan yang dalam: semangat untuk terus bergerak dan menikmati hidup tidak mengenal batas usia.
Di tengah budaya yang sering mengaitkan usia dengan keterbatasan, sosok Marlita menghadirkan pandangan berbeda. Bahwa selama tubuh masih mampu diajak bekerja sama dan semangat tetap menyala, perjalanan tidak harus berhenti.
Sebab pada akhirnya, mendaki gunung bukan hanya soal mencapai puncak. Ia adalah perjalanan menaklukkan keraguan, rasa lelah, dan batas-batas yang sering kali diciptakan oleh pikiran sendiri.
Dan di lereng Merbabu itu, seorang perempuan berusia 58 tahun membuktikan bahwa mimpi untuk terus melangkah tetap bisa hidup, bahkan ketika banyak orang seusianya memilih berhenti.(Mac)

