LESINDO.COM – Polemik seleksi calon Paskibraka nasional kembali memunculkan perdebatan lama yang seakan tidak pernah benar-benar selesai: tentang kepercayaan publik terhadap proses seleksi yang disebut ketat, objektif, dan profesional, tetapi di saat yang sama sering dibayangi prasangka adanya ruang abu-abu di belakang layar.
Sebelumnya, Kepala Kesbangpol Sulawesi Selatan Bustanul Arifin membantah tudingan bahwa Cathlyn dicoret dari calon Paskibraka nasional karena faktor diskriminasi ataupun campur tangan pihak tertentu. Penjelasan itu tentu penting sebagai bentuk tanggung jawab institusi kepada publik. Sebab, seleksi Paskibraka tingkat nasional memang bukan perkara sederhana. Mereka yang dikirim ke Jakarta bukan hanya mewakili sekolah atau daerah, tetapi membawa nama provinsi dan simbol kehormatan negara. Seleksinya dikenal sangat ketat, berlapis, dan penuh persaingan.
Namun, di tengah sistem yang tampak rapi itu, masyarakat sering kali tetap menyisakan pertanyaan. Barangkali pepatah “tak ada asap kalau tidak ada api” menjadi gambaran mengapa isu semacam ini cepat menyebar dan mudah dipercaya. Dalam realitas sosial kita, kabar tentang “titipan”, kedekatan, atau penilaian subjektif bukan sesuatu yang asing di telinga publik. Walaupun mekanisme penilaian disebut terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan, tetap saja selalu ada ruang kecurigaan yang hidup di tengah masyarakat.
Apalagi di era media sosial hari ini. Sebuah dugaan kecil dapat berubah menjadi bola liar hanya dalam hitungan jam. Percakapan digital membuat asap yang semula tipis perlahan mengepul ke mana-mana. Potongan informasi, opini, hingga asumsi bercampur menjadi satu. Dalam situasi seperti itu, penjelasan resmi sering kali tidak cukup hanya disampaikan sepintas. Publik membutuhkan keterangan yang utuh, tenang, dan memiliki dasar yang kuat. Sebab ketika banyak pihak mulai ikut nimbrung tanpa data yang jelas, persoalan internal bisa berubah menjadi kegaduhan yang menyeret terlalu banyak kepentingan.
Di lapangan, masyarakat juga memahami bahwa sistem sering kali tidak selalu hitam dan putih. Ada wilayah abu-abu yang sulit dibaca secara kasatmata. Sesuatu yang tampak A di permukaan bisa saja dipahami berbeda oleh orang lain. Karena itulah, setiap keputusan yang menyangkut hak seseorang mudah melahirkan tafsir dan kekecewaan.
Di sisi lain, setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi keadaan seperti ini. Ada yang memilih menerima dan mengalah. Mereka percaya bahwa jika sebuah kesempatan tertutup, mungkin memang rezekinya bukan di situ. Bahwa hidup harus terus mengalir tanpa perlu memanjangkan sengketa yang melelahkan. Sikap seperti ini lahir dari upaya menjaga ketenangan diri, meskipun kadang harus merelakan sesuatu yang dianggap haknya diambil orang lain.
Tetapi tidak semua orang bisa bersikap demikian. Ada pula yang merasa bahwa hak harus diperjuangkan dan dipertanyakan sampai jelas duduk persoalannya. Dan itu pun bukan sesuatu yang salah. Ketika seseorang memilih menuntut penjelasan, meminta transparansi, atau membawa persoalan ke ruang publik, sesungguhnya ia sedang memperjuangkan rasa keadilan menurut versinya sendiri.
Perbedaan itulah yang kemudian membuat setiap persoalan berkembang dengan arah berbeda. Ketika seseorang memilih mengalah, masalah biasanya cepat reda meski mungkin menyisakan luka diam-diam. Tetapi ketika seseorang memilih melawan dan mencari kejelasan, persoalan bisa menjadi panjang dan menyeret banyak pihak untuk membuka fakta yang sebenarnya.
Pada akhirnya, publik hanya berharap satu hal sederhana: proses yang benar-benar bersih dan dapat dipercaya. Sebab dalam urusan seleksi yang menyangkut kehormatan, prestasi, dan masa depan anak muda, kepercayaan adalah fondasi utama. Ketika kepercayaan mulai retak, asap sekecil apa pun akan selalu terlihat seperti api besar.
Dan jika memang ada yang merasa haknya terabaikan, memperjuangkannya adalah pilihan yang sah. Tinggal bagaimana semua pihak menjaga agar pencarian kebenaran tidak berubah menjadi sekadar kegaduhan yang tak lagi menemukan arah. (Nis)

