LESINDO.COM – Di sudut timur bangunan RRI Surakarta, tepatnya di sebuah gang masuk yang berdekatan dengan kawasan Pasar Legi, terdapat sebuah pemandangan unik yang menjadi saksi bisu denyut ekonomi mikro di Kota Solo. Di sana, berjajar rapi sekitar 20 lapak atau kios semi-permanen berbentuk shelter yang dibangun secara teratur di atas aliran selokan. Tempat ini bukanlah pasar sayur atau sandang, melainkan sentra perbaikan penampilan kendaraan atau yang lebih dikenal dengan jasa cat body “pinggir jalan”.
Meski lokasinya sederhana, penataan kios yang rapi memberikan kesan profesional bagi siapa saja yang melintas. Namun, suasana di gang ini berubah drastis ketika hari Minggu tiba. Jika pada hari kerja deru mesin kompresor dan aroma tiner memenuhi udara dari ujung ke ujung, pada hari libur, mayoritas pemilik lapak memilih untuk beristirahat. Dari puluhan kios, hanya segelintir saja yang masih menggulung pintu penggulungnya, salah satunya adalah Sunarno.

Sunarno, pria berusia 50 tahun asal Nayu, Solo, adalah sosok yang malang melintang di dunia pengecatan. Perjalanannya bukanlah instan. Ia menghabiskan waktu selama 11 tahun bekerja ikut orang lain, menyerap ilmu, dan mengasah insting sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berdiri di atas kaki sendiri pada tahun 2007. Baginya, hari Minggu bukanlah waktu untuk berpangku tangan di rumah.
“Minggu tetap buka karena di rumah juga malah bingung. Kalau di kios, saya bisa sambil cari pandangan luar. Kalau ada konsumen atau pelanggan yang datang, kan lumayan,” ujar Sunarno tenang sembari tangannya bergerak cekatan mencampur cat di dalam wadah kecil.
Keahlian Sunarno adalah bukti nyata bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Dalam meracik warna, ia tak lagi menggunakan timbangan digital yang rumit atau alat ukur modern. Ia mengandalkan feeling—sebuah insting yang lahir dari belasan tahun bergelut dengan pigmen dan tiner. Ia sudah hafal di luar kepala komposisi apa yang harus dicampur untuk mendapatkan gradasi warna yang diinginkan pelanggan. Ketajaman insting inilah yang membuat proses pengerjaan di lapaknya tergolong cepat; hanya dalam hitungan jam, body motor yang tadinya lecet atau kusam bisa kembali mulus.
Siang itu, dedikasinya terbayar. Sejak ia mulai membenahi sebuah motor yang lecet akibat terserempet, setidaknya sudah ada tiga pelanggan lain yang datang mengantre. Meski secara jujur Sunarno mengakui bahwa hasil cat manualnya mungkin tidak akan 100% identik dengan standar pabrik jika diteliti dengan sangat detail, namun secara visual, hasil karyanya mampu mengembalikan estetika kendaraan. Di mata orang awam, motor yang tadinya cacat akan kembali nampak mulus dan segar.
Tarif yang ditawarkan pun sangat kompetitif bagi kantong masyarakat menengah ke bawah. Dengan biaya mulai dari kisaran Rp150.000 per motor—tergantung pada tingkat kerusakan dan kerumitan—jasa Sunarno menjadi solusi alternatif bagi pemilik kendaraan yang ingin tampil rapi tanpa harus merogoh kocek dalam di bengkel resmi.
Lapak Sunarno dan belasan rekan sejawatnya di seputaran Pasar Legi adalah potret nyata UMKM yang bertahan di tengah gempuran zaman. Mereka adalah para “seniman jalanan” yang memberikan nyawa kembali pada kendaraan yang terluka. Dari atas selokan yang tertata rapi itu, Sunarno membuktikan bahwa ketekunan, pengalaman, dan pelayanan di hari libur sekalipun adalah kunci untuk menjaga dapur tetap mengepul sekaligus merawat kepercayaan pelanggan setianya.(Mac)

