Oleh : Goes Mic
Menjemput Mentari, Menemukan Diri
LESINDO.COM – Pagi seharusnya aku menikmati pahitnya kopi di beranda rumah, membiarkan waktu berjalan pelan sambil menunggu matahari menyibak kabut. Namun pagi ini berbeda. Aku duduk di ketinggian lereng Gunung Merbabu, menikmati manisnya ciptaan-Mu yang perlahan muncul dari balik cakrawala.
Angin dingin menyentuh wajah. Hamparan awan menggantung di bawah kaki seolah menjadi lautan putih yang tak bertepi. Di hadapanku, mentari pagi perlahan menampakkan diri, memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan bumi yang semalaman membeku. Pada momen seperti itu, segala lelah perjalanan seakan menemukan jawabannya.
Aku mencoba bertanya kepada diri sendiri, apa yang sebenarnya kucari dengan mendaki gunung setinggi ini?
Bukan sekadar puncak. Bukan pula foto untuk diunggah ke media sosial. Juga bukan pengakuan bahwa aku pernah sampai di sini.
Yang kucari ternyata jauh lebih sederhana: rasa syukur.
Syukur karena tubuh ini masih diberi kekuatan untuk melangkah di jalur yang terjal. Syukur karena paru-paru ini masih mampu menghirup udara segar yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota. Syukur karena mata ini masih dapat menyaksikan salah satu pertunjukan alam terbaik yang tak pernah gagal membuat manusia merasa kecil.

Di gunung, manusia belajar bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Jabatan tertinggal di bawah. Gelar tidak membuat langkah menjadi lebih ringan. Kekayaan tidak dapat membeli tambahan napas ketika tanjakan terasa semakin curam. Semua kembali pada satu hal: kemampuan bertahan dan kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri.
Duduk di puncak, aku justru merasa sedang berada di ruang kelas kehidupan. Alam menjadi guru yang mengajarkan kesabaran. Setiap langkah menuju puncak adalah pelajaran tentang ketekunan. Setiap rasa lelah adalah pengingat bahwa tidak ada pencapaian yang datang tanpa perjuangan.
Mentari semakin tinggi. Kabut perlahan tersingkap. Di tengah keheningan itu, aku menyadari bahwa perjalanan mendaki sesungguhnya bukan tentang menaklukkan gunung. Gunung tidak pernah bisa ditaklukkan. Kitalah yang sedang belajar menaklukkan ego, rasa takut, dan keinginan untuk menyerah.
Mungkin karena itulah banyak orang selalu rindu kembali ke gunung. Bukan karena puncaknya, melainkan karena di tempat seperti ini manusia lebih mudah menemukan dirinya sendiri.
Pagi ini aku tidak menikmati pahitnya kopi.
Aku menikmati manisnya rasa syukur.
Dan dari ketinggian Merbabu, aku belajar bahwa kebahagiaan sering kali hadir bukan saat kita memiliki segalanya, melainkan saat kita menyadari bahwa napas yang masih berhembus, langkah yang masih mampu berjalan, serta kesempatan menyaksikan mentari terbit adalah nikmat yang luar biasa besar.

