LESINDO.COM – Oleh banyak orang, sakit baru benar-benar terasa ketika tubuh yang biasanya bergerak lincah tiba-tiba seperti “dipinjam” oleh rasa nyeri. Langkah menjadi berat. Jari-jari tangan sulit menggenggam. Lutut terasa seperti berkarat. Pergelangan kaki menolak diajak berjalan jauh. Bahkan sekadar bangkit dari tempat tidur pun terasa seperti sebuah perjuangan.
Begitulah banyak orang menggambarkan saat pertama kali terserang Chikungunya. Ada yang menyebut rasanya seperti orang terkena stroke ringan—bukan karena kelumpuhan, melainkan karena seluruh persendian terasa kaku, sakit, dan seperti kehilangan tenaga.
Saya pun baru memahami bahwa sakit bukan hanya soal demam tinggi atau tubuh menggigil. Kadang sakit hadir dalam bentuk yang lebih “halus”, tetapi menggerogoti setiap gerakan. Dari jari kaki, mata kaki, lutut, pinggang, bahu, hingga jemari tangan—semuanya seperti sepakat untuk protes bersamaan.
Yang menarik, setiap tubuh punya cara berbeda menghadapi virus ini. Ada yang pulih dalam hitungan minggu. Ada yang butuh waktu berbulan-bulan. Bahkan sebagian orang bercerita, nyeri sendinya masih datang dan pergi hingga enam bulan setelah demamnya hilang.
Di tengah rasa tidak nyaman itu, godaan terbesar biasanya datang dari satu hal: obat.
Ketika tubuh terasa remuk, obat pereda nyeri memang seperti penyelamat. Setelah diminum, badan terasa lebih ringan. Pegal berkurang. Tidur menjadi lebih nyaman. Namun di balik rasa nyaman itu, muncul pertanyaan yang sering diabaikan: apakah semua obat yang ditawarkan benar-benar dibutuhkan tubuh?
Seorang teman pernah berkata, “Tambah antibiotik sekalian, biar cepat sembuh.”
Kalimat itu terdengar meyakinkan. Masuk akal bagi banyak orang. Tetapi justru di situlah kesalahpahaman yang masih sering terjadi.
Antibiotik bukan jawaban untuk semua penyakit.
Cikungunya bukan disebabkan oleh bakteri, melainkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Virus dan bakteri adalah dua dunia yang berbeda.
Antibiotik bekerja melawan bakteri. Ia dirancang untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri penyebab infeksi. Tetapi ketika musuhnya adalah virus, antibiotik tidak punya sasaran.
Ibarat membawa kunci yang salah ke pintu yang berbeda.
Lebih jauh lagi, penggunaan antibiotik tanpa indikasi justru bisa menjadi masalah baru. Tubuh bisa mengalami efek samping, mulai dari gangguan lambung, diare, hingga reaksi alergi. Dalam jangka panjang, bakteri bisa menjadi kebal—fenomena yang dikenal sebagai resistensi antibiotik. Saat benar-benar membutuhkan, obat itu bisa saja tidak lagi bekerja.
Dari pengalaman sakit, ada pelajaran sederhana yang sering terlambat dipahami: tidak semua obat yang membuat tubuh terasa cepat nyaman berarti aman untuk dikonsumsi sembarangan.
Ada obat-obatan yang begitu “manjur” meredakan pegal, nyeri, dan linu dalam waktu singkat. Dijual bebas. Direkomendasikan dari mulut ke mulut. Tetapi belakangan baru diketahui sebagian produk bahkan pernah ditarik dari peredaran karena kandungan tertentu yang berisiko bagi kesehatan.
Dari situ, rasa percaya berubah menjadi kehati-hatian.
Tubuh ternyata bukan laboratorium percobaan.
Pada akhirnya, penanganan cikungunya justru kembali pada hal-hal yang tampak sederhana: istirahat cukup, minum air putih yang cukup, makan bergizi, menjaga daya tahan tubuh, dan bila nyeri tidak tertahankan, menggunakan obat pereda nyeri sesuai anjuran tenaga medis.
Tubuh manusia punya kemampuan luar biasa untuk memulihkan dirinya—asal diberi kesempatan.
Sakit kadang memang datang tanpa undangan. Tetapi dari sakit, manusia belajar satu hal yang sering terlupakan saat sehat: bahwa bangun pagi tanpa nyeri, melangkah tanpa keluhan, menggenggam tanpa rasa sakit—semuanya bukan hal biasa.
Sehat, ternyata memang sebuah anugerah. (Dre)

