spot_img
BerandaJelajahjelajahDua Telinga, Satu Mulut

Dua Telinga, Satu Mulut

Kebijaksanaan memang tidak lahir dari banyaknya ucapan. Ia tumbuh dari kemampuan menyerap makna, memahami keadaan, lalu memilih kata seperlunya. Sebab, kata-kata yang keluar tanpa pertimbangan dapat melukai lebih lama daripada suara yang mengucapkannya.

Belajar Mendengar di Tengah Dunia yang Terlalu Ramai

LESINDO.COM – Di tengah kehidupan yang bergerak cepat, manusia modern sering berlomba untuk didengar. Media sosial dipenuhi pendapat, ruang-ruang diskusi berubah menjadi arena saling menyela, sementara percakapan sehari-hari kian miskin jeda untuk benar-benar memahami. Banyak orang ingin segera menjawab, tetapi sedikit yang bersedia mendengarkan sampai tuntas.

Padahal, sejak awal manusia seolah telah diberi pelajaran sederhana melalui tubuhnya sendiri: dua telinga dan satu mulut. Sebuah perbandingan yang tampak biasa, namun menyimpan makna mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani komunikasi.

Mendengar bukan sekadar aktivitas menangkap suara. Ia adalah kemampuan menerima, memahami, dan memberi ruang bagi orang lain untuk hadir sepenuhnya. Dalam banyak situasi, seseorang tidak selalu membutuhkan nasihat panjang atau tanggapan cepat. Kadang, ia hanya membutuhkan telinga yang bersedia mendengar tanpa menghakimi.

Sayangnya, budaya mendengar perlahan memudar. Percakapan kini sering dipenuhi keinginan untuk segera membalas. Ketika lawan bicara belum selesai menjelaskan, pikiran sudah sibuk menyiapkan jawaban. Akibatnya, yang lahir bukan pemahaman, melainkan tumpang tindih asumsi yang kerap berujung salah paham.

Di lingkungan keluarga, kemampuan mendengar sering menjadi pembeda antara kedekatan dan jarak emosional. Anak yang didengar akan lebih mudah terbuka. Pasangan yang saling mendengarkan cenderung lebih mampu menyelesaikan konflik tanpa meninggikan suara. Begitu pula dalam pertemanan dan pekerjaan, banyak persoalan sebenarnya bukan muncul karena kurangnya solusi, melainkan minimnya kesediaan untuk memahami sudut pandang orang lain.

Mendengar juga melatih manusia untuk rendah hati. Sebab, ketika seseorang bersedia mendengar, ia mengakui bahwa dirinya tidak selalu paling benar. Ada pengalaman orang lain yang layak dipahami, ada kenyataan yang mungkin belum ia ketahui sepenuhnya.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, sikap mendengar bahkan dianggap bagian dari laku kebijaksanaan. Orang tua dahulu sering menasihati agar seseorang “alon ngomong, akeh ngrungokke”—pelan berbicara, lebih banyak mendengar. Bukan berarti manusia harus diam, melainkan belajar menempatkan kata-kata dengan bijak agar tidak melukai atau memperkeruh keadaan.

Kebijaksanaan memang tidak lahir dari banyaknya ucapan. Ia tumbuh dari kemampuan menyerap makna, memahami keadaan, lalu memilih kata seperlunya. Sebab, kata-kata yang keluar tanpa pertimbangan dapat melukai lebih lama daripada suara yang mengucapkannya.

Mungkin itulah sebabnya manusia tidak dibekali dua mulut sekaligus. Karena dunia tidak selalu membutuhkan lebih banyak suara. Kadang, yang paling dibutuhkan hanyalah seseorang yang benar-benar mau mendengar. (Tya)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments