spot_img
BerandaJelajahjelajahTuhan Tak Perlu Dibela

Tuhan Tak Perlu Dibela

Bahwa agama sejatinya hadir untuk memuliakan manusia. Membela mereka yang lemah, menjaga yang tertindas, menguatkan yang diperlakukan tidak adil. Bukan menjadikan manusia mudah marah atas nama Tuhan, sementara tetangganya sendiri dibiarkan lapar, dihina, atau kehilangan hak hidup yang layak.

LESINDO.COM – Ucapan mendiang Abdurrahman Wahid kerap kembali menemukan relevansinya di tengah riuh kehidupan sosial hari ini: “Tuhan tidak perlu dibela. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.”
Sebuah kalimat sederhana, tetapi terasa menampar cara manusia memahami agama. Sebab, sering kali manusia begitu bersemangat membela simbol-simbol langit, namun lalai menjaga martabat sesamanya di bumi.

Dalam sejarah Islam, ada satu kisah besar yang seperti menjadi cermin dari kutipan itu. Kisah tentang pasukan gajah Raja Abraha yang hendak menghancurkan Ka’bah.

Kala itu, Mekkah berada dalam ketakutan. Pasukan besar dari Yaman datang membawa kekuatan yang sulit dibayangkan masyarakat Arab saat itu. Gajah-gajah perang berdiri di luar kota sebagai simbol kejayaan dan kekuasaan kerajaan Abraha. Debu padang pasir beterbangan, sementara warga Mekkah memilih meninggalkan rumah-rumah mereka dan mengungsi ke perbukitan demi menyelamatkan diri.

Di tengah kepanikan itu, ada seorang perempuan yang tetap bertahan di kota. Ia adalah ibunda Nabi Muhammad SAW yang sedang mengandung tua. Kota suci itu seperti menunggu takdirnya sendiri.

Pemimpin Quraisy saat itu, Abdul Muthalib, adalah tokoh yang sangat dihormati. Wibawanya besar, suaranya didengar, dan kehormatannya dikenal hingga ke berbagai kabilah. Namun ketika pasukan Abraha datang, ternak miliknya justru ditahan oleh pihak kerajaan.

Abdul Muthalib kemudian menemui Raja Abraha.

Sang raja tampak heran. Ia mengira pemimpin Quraisy itu akan memohon agar Ka’bah tidak dihancurkan. Tetapi yang diminta Abdul Muthalib justru pengembalian ternaknya.

Abraha terkejut.
“Apakah engkau tidak peduli Ka’bah akan kami ratakan?” kira-kira begitu pertanyaan yang diriwayatkan dalam berbagai kisah sejarah Islam.

Dengan tenang Abdul Muthalib menjawab,
“Unta-unta itu milikku, maka aku menjaganya. Adapun Ka’bah memiliki Pemilik, dan Pemiliknya sendirilah yang akan menjaganya.”

Jawaban itu melampaui keberanian biasa. Ia bukan sekadar keyakinan, melainkan bentuk kepasrahan yang utuh kepada Tuhan. Abdul Muthalib memahami batas manusia: bahwa ada hal-hal yang memang bukan wilayah manusia untuk dibela dengan kesombongan, amarah, apalagi kekerasan.

Sejarah kemudian mencatat bagaimana pasukan bergajah itu hancur sebelum berhasil menyentuh Ka’bah. Dalam keyakinan umat Islam, Allah mengirim burung-burung ababil membawa batu dari neraka sijjil untuk menghancurkan pasukan Abraha. Peristiwa itu bahkan diabadikan dalam Surah Al-Fil.

Namun yang menarik untuk direnungkan bukan hanya kehancuran pasukan bergajah, melainkan ketenangan seorang manusia bernama Abdul Muthalib. Di saat orang-orang sibuk cemas menjaga rumah Tuhan, ia justru percaya bahwa Tuhan tidak membutuhkan penjaga.

Barangkali di situlah letak pelajaran terbesarnya.

Bahwa agama sejatinya hadir untuk memuliakan manusia. Membela mereka yang lemah, menjaga yang tertindas, menguatkan yang diperlakukan tidak adil. Bukan menjadikan manusia mudah marah atas nama Tuhan, sementara tetangganya sendiri dibiarkan lapar, dihina, atau kehilangan hak hidup yang layak.

Tuhan tetap Maha Besar tanpa pembelaan manusia.
Tetapi manusia kecil di bumi ini sering kali membutuhkan uluran tangan sesamanya.

Dan mungkin, di situlah agama menemukan maknanya yang paling sunyi sekaligus paling agung.(Arn)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments