Oleh: Dhen Bagoes e Ngarso
LESINDO.COM – Di tengah zaman yang serba cepat, kata tirakat terdengar semakin asing. Sebagian orang menganggapnya sebagai laku kuno yang tidak lagi relevan dengan kehidupan modern. Apalagi ketika seseorang sudah memiliki pekerjaan mapan, rumah yang cukup, kendaraan, dan kehidupan yang terlihat baik-baik saja. Untuk apa masih bersusah payah berpuasa, mengurangi tidur, atau menjalani berbagai laku batin lainnya?
“Tirakat ngge nopo to, Bos? Harta benda nggih sampun gadah, sampun mapan. Pados menopo malih?”
Seorang kawan pernah bertanya demikian dengan nada halus. Pertanyaan itu tidak salah. Hanya saja, kami mungkin sedang berdiri di titik pandang yang berbeda.
Sebagian orang mengukur keberhasilan dari apa yang tampak di mata. Gaji yang cukup, rumah di beberapa tempat, kendaraan yang nyaman, dan berbagai pencapaian duniawi lainnya. Semua itu baik dan tidak ada yang keliru. Namun, kehidupan tidak selalu berhenti pada apa yang terlihat. Ada wilayah yang lebih sunyi, yang tidak dapat diukur dengan angka maupun jabatan.
Dalam tradisi Jawa, tirakat bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Tirakat adalah cara merawat diri sekaligus merawat hubungan dengan alam dan Sang Pencipta. Sebuah upaya membersihkan ruang batin agar tetap peka terhadap suara hati.
Sementara dalam Islam, tirakat menemukan maknanya dalam bentuk syukur dan tawakal. Setelah ikhtiar dilakukan sebaik mungkin, manusia menyadari bahwa hasil akhir bukan berada di tangannya. Di situlah puasa, doa, dzikir, dan berbagai bentuk pengendalian diri menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah SWT.
Orang Jawa memiliki ungkapan sederhana: kosongna gelasmu ben iso diisi. Kosongkan gelasmu agar bisa diisi kembali. Prinsip ini ternyata sejalan dengan ajaran tasawuf yang mengajarkan pentingnya mengosongkan hati dari kesombongan, kelekatan berlebihan terhadap dunia, dan berbagai nafsu yang menghalangi cahaya Ilahi masuk ke dalam diri.
Karena itu, tirakat bukanlah soal menyiksa tubuh. Justru sebaliknya. Tirakat adalah upaya menata diri agar hidup berjalan lebih terarah.
Contohnya dapat ditemukan dalam puasa Senin-Kamis. Banyak orang menjalankannya karena ingin mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Namun jika ditelusuri lebih jauh, manfaatnya memiliki dimensi yang luas.
Dari sisi kesehatan, tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat. Sistem pencernaan yang setiap hari bekerja tanpa henti mendapat waktu untuk melakukan pemulihan. Dunia medis modern bahkan menjelaskan berbagai manfaat puasa terhadap metabolisme, regenerasi sel, pengendalian gula darah, hingga proses perbaikan alami tubuh.
Tetapi manfaat tirakat tidak berhenti pada aspek fisik. Ada dimensi psikologis dan spiritual yang jauh lebih dalam. Saat seseorang berpuasa, ia sedang melatih fokus. Ia belajar menunda keinginan demi tujuan yang lebih besar.
Tujuan itu bisa bermacam-macam. Memohon kesehatan keluarga, kelancaran pendidikan anak-anak, kemudahan dalam pekerjaan, keselamatan dalam perjalanan hidup, atau sekadar memohon agar hati tetap tenang menghadapi berbagai persoalan yang datang silih berganti.
Beberapa waktu lalu, saya bertemu seorang kerabat yang pernah menduduki jabatan penting di pemerintahan. Pendidikan beliau mentereng, lulusan Institut Teknologi Bandung. Dalam obrolan yang mengalir santai, saya baru mengetahui bahwa beliau masih memiliki garis keturunan dari trah Mangkunegaran di Solo.
Yang menarik, pembicaraan kami tidak banyak berkisar pada jabatan ataupun prestasi. Beliau justru bercerita tentang tirakat.
“Semua yang saya lakukan bukan untuk diri saya sendiri,” katanya pelan.
Tirakat yang dijalani, menurutnya, lebih banyak dipersembahkan sebagai doa bagi anak-anak. Ia berharap mereka memperoleh jalan hidup yang baik, pendidikan yang tinggi, dan kesempatan mengabdi sesuai kemampuan masing-masing.
Ketika mendengar kisah perjalanan anak-anaknya yang kemudian berhasil meniti karier hingga menjadi duta besar di Eropa maupun menduduki posisi penting di sektor keuangan, saya bertanya-tanya dalam hati: adakah hubungan antara semua itu dengan tirakat yang beliau lakukan selama puluhan tahun?
Tentu tidak ada rumus ilmiah yang dapat menjawabnya secara pasti. Namun ada satu hal yang menarik. Tirakat membuat seseorang memiliki fokus yang sangat kuat terhadap tujuan hidupnya. Energi batin yang terkumpul dari doa, disiplin, dan kesungguhan itu kemudian mengarahkan langkah-langkah nyata yang dilakukan setiap hari.
Dalam perbincangan itu, beliau juga menyebut sebuah laku yang belum pernah saya dengar sebelumnya: puasa sontrot.
Rasa penasaran saya langsung muncul. Beliau menjelaskan bahwa dalam praktik tertentu, seseorang hanya mengonsumsi bagian serat tengah dari singkong sebagai sumber makanan. Sebuah bentuk pengendalian diri yang sangat sederhana.
Saya membayangkan, seorang pejabat dengan segala fasilitas yang dimilikinya ternyata memilih hidup sesederhana itu dalam menjalani tirakat. Di situlah saya memahami bahwa tirakat bukan soal mampu atau tidak mampu membeli makanan yang enak. Tirakat adalah soal kemampuan mengendalikan keinginan.
Semakin banyak yang dimiliki seseorang, sering kali semakin berat pula latihan untuk menahan diri.
Mungkin itulah sebabnya para leluhur Jawa dahulu dikenal memiliki keteguhan yang luar biasa. Mereka tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kuat secara batin. Mereka memahami bahwa manusia tidak cukup hanya membangun rumah di dunia luar, tetapi juga harus membangun rumah di dalam dirinya sendiri.
Di zaman modern, tirakat tidak harus selalu berbentuk laku yang berat dan ekstrem. Menjaga kejujuran ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang, menahan amarah saat dipancing emosi, atau menyisihkan waktu untuk berdoa di tengah kesibukan, sesungguhnya juga merupakan bentuk tirakat.
Karena pada akhirnya, tirakat bukanlah tentang seberapa lama seseorang mampu menahan lapar. Tirakat adalah tentang menjaga nyala kesadaran agar tidak padam oleh gemerlap dunia.
Dan sering kali, hal-hal terbesar dalam hidup justru lahir dari perjuangan yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun selain diri kita sendiri dan Tuhan.

