spot_img
BerandaJelajahjelajahSegelas Jahe Susu di Puncak Kerinduan

Segelas Jahe Susu di Puncak Kerinduan

Bukan karena gunungnya semata, melainkan karena ada kerinduan pada suasana yang sulit ditemukan di tempat lain. Kerinduan pada kebersamaan yang lahir tanpa kepentingan. Kerinduan pada kesederhanaan yang menghangatkan hati

LESINDO.COM – Mungkin sulit menjelaskan kepada orang yang belum pernah mendaki, bahkan kepada mereka yang sama-sama menapaki jalur pendakian. Setiap orang memiliki sudut pandang dan cara merasakan perjalanan yang berbeda. Karena itu, tidak semua orang dapat memahami mengapa seseorang rela berjalan berjam-jam, menguras tenaga, dan menembus dinginnya pagi hanya demi menikmati segelas minuman hangat di puncak bukit.

Bukankah jahe susu bisa dibuat di rumah?

Bukankah air panas, susu, dan gula jawa tersedia dengan mudah tanpa harus menaklukkan tanjakan yang membuat napas tersengal?

Pertanyaan itu benar adanya. Namun, ada pengalaman yang tidak bisa dipindahkan ke ruang tamu atau teras rumah. Ada rasa yang lahir bukan semata dari bahan yang digunakan, melainkan dari perjalanan panjang yang mendahuluinya.

Pagi itu, di ketinggian, segelas jahe susu terasa berbeda.

Uap hangatnya perlahan naik ke udara yang masih dingin. Jari-jari yang sejak subuh menggenggam trekking pole mulai kembali hangat ketika memegang gelas. Di depan, hamparan perbukitan terbentang dalam cahaya matahari yang baru muncul dari balik cakrawala. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah, rerumputan, dan embun yang belum sepenuhnya menghilang.

Seteguk pertama terasa begitu sederhana. Namun justru dalam kesederhanaan itu tersimpan kenikmatan yang sulit dicari padanannya.

Jahe yang telah dibersihkan dan dipotong kecil-kecil direbus hingga aromanya keluar. Susu sachet dituang ke dalam gelas, disusul gula jawa yang perlahan larut bersama air panas. Tidak ada resep istimewa. Tidak ada bahan mahal. Semuanya sederhana, bahkan sangat sederhana.

Tetapi setelah melewati tanjakan yang membuat langkah beberapa kali terhenti untuk mengambil napas, setelah otot kaki mulai terasa berat, dan setelah tubuh mengeluarkan energi sepanjang perjalanan, minuman itu seakan berubah menjadi hadiah yang sangat berharga.

“Mencari tempat di balik semak untuk berlindung dari sapuan angin, kompor portabel pun dikeluarkan. Air dipanaskan secukupnya untuk menyeduh minuman hangat yang dapat mengembalikan kehangatan tubuh di tengah udara pagi yang dingin.”(mc)

Di samping segelas jahe susu, sepotong roti menjadi teman sarapan yang terasa mewah. Bukan karena bentuk atau harganya, melainkan karena dinikmati pada saat yang tepat. Saat tubuh membutuhkan tenaga kembali. Saat rasa lelah mulai meminta haknya untuk diakui.

Mungkin di situlah letak rahasia kenikmatan sebuah pendakian.

Bukan pada puncaknya semata.

Bukan pula pada foto-foto yang dibawa pulang.

Melainkan pada kemampuan alam mengubah hal-hal biasa menjadi luar biasa. Secangkir minuman hangat yang di rumah mungkin habis dalam beberapa menit tanpa kesan berarti, di atas gunung bisa menjadi momen yang dikenang berbulan-bulan.

Di alam bebas, manusia seolah diajak kembali menghargai hal-hal kecil yang sering terlewat dalam kehidupan sehari-hari. Hangatnya minuman, sepotong roti, udara segar, dan kesempatan duduk bersama teman-teman seperjalanan menjadi kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan mudah.

Di sela-sela istirahat itu, percakapan mengalir tanpa dibuat-buat. Ada yang bercerita tentang pekerjaan, keluarga, dan rencana perjalanan berikutnya. Ada pula yang hanya tersenyum sambil menikmati pemandangan. Sesekali terdengar tawa kecil yang memecah sunyi pagi.

Persediaan makanan dan minuman memang tidak selalu berlimpah. Kadang harus berbagi dari bekal yang terbatas. Namun justru dalam keterbatasan itu tumbuh keakraban yang terasa tulus. Tidak ada sekat jabatan, usia, atau latar belakang. Semua duduk di tanah yang sama, menikmati udara yang sama, dan menghangatkan diri dengan minuman yang sama.

Barangkali itulah yang membuat banyak pendaki selalu ingin kembali.

Bukan karena gunungnya semata, melainkan karena ada kerinduan pada suasana yang sulit ditemukan di tempat lain. Kerinduan pada kebersamaan yang lahir tanpa kepentingan. Kerinduan pada kesederhanaan yang menghangatkan hati. Dan kerinduan pada momen-momen kecil yang mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar.

Kadang, ia hanya hadir dalam segelas jahe susu hangat di puncak bukit, setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Sebuah minuman sederhana yang mengajarkan rasa syukur, bahwa setelah setiap tanjakan yang menguras tenaga, selalu ada kehangatan yang menunggu di ujung perjalanan. (Rhe)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments