LESINDO.COM – Jarum jam baru saja melewati pukul 00.00 ketika rombongan kami meninggalkan rumah. Perhitungan awal cukup sederhana: perjalanan menuju basecamp Bukit Mongkrang dapat ditempuh sekitar satu setengah jam. Namun, jalan raya kerap memiliki ceritanya sendiri yang tak bisa ditebak dari peta maupun aplikasi navigasi.
Memasuki kawasan Karanganyar Kota hingga Karangpandan, arus kendaraan mendadak tersendat. Ribuan orang memenuhi tepi jalan. Malam yang semestinya tenang berubah menjadi lautan manusia. Dari informasi yang beredar, salah satu perguruan silat sedang menggelar kegiatan pengesahan anggota. Konvoi panjang mengular, kendaraan bergerak lambat, sementara suara knalpot dan raungan mesin saling bersahutan memecah kesunyian dini hari.
Di tengah kerumunan itu, terdengar kabar yang membuat suasana semakin tegang. Beberapa orang disebut menjadi korban pembacokan oleh pelaku yang belum diketahui identitasnya. Entah seberapa akurat informasi tersebut, tetapi cukup untuk membuat banyak pengguna jalan memilih meningkatkan kewaspadaan.
Sebagai pengemudi yang membawa rombongan pendaki, saya lebih memilih mengalah pada keadaan. Tidak ada gunanya terburu-buru. Dalam situasi seperti itu, gesekan kecil saja bisa berubah menjadi persoalan panjang. Sedikit menyenggol bodi kendaraan orang lain, salah paham karena tatapan mata, atau sekadar klakson yang dianggap berlebihan dapat memantik konflik yang tidak diperlukan.
Karena itu, pilihan terbaik hanyalah satu: tetap tenang, menjaga jarak, dan perlahan keluar dari lautan massa.
Setelah melewati kemacetan yang menguras kesabaran, perjalanan kembali lancar. Lampu-lampu kota mulai berkurang, berganti udara pegunungan yang semakin terasa dingin. Pukul 03.15 dini hari, kami akhirnya tiba di basecamp Bukit Mongkrang.
Kesibukan kecil segera dimulai.
Bagasi mobil dibuka. Carrier dan perlengkapan trekking diturunkan satu per satu. Di sudut area parkir, kompor portable dinyalakan. Api kecil berwarna biru menari di tengah udara pegunungan yang menggigit kulit. Susu jahe hangat pun disiapkan sebagai teman menunggu waktu keberangkatan.
Momen seperti ini selalu menjadi bagian yang menyenangkan dalam setiap pendakian. Belum ada langkah yang diayunkan menuju puncak, tetapi rasa kebersamaan sudah mulai tumbuh. Orang-orang duduk melingkar, sebagian menyeruput minuman hangat, sebagian lagi sibuk mengecek perlengkapan. Obrolan ringan mengalir pelan, bercampur embusan angin yang turun dari lereng Gunung Lawu.
Pada dini hari, suhu di kawasan Mongkrang memang cukup dingin. Berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, udara dapat berada pada kisaran belasan derajat Celsius. Tidak seekstrem gunung-gunung yang lebih tinggi, tetapi cukup membuat tangan enggan keluar dari saku jaket.
Sekitar pukul 04.00, perjalanan pendakian dimulai.
Bukit Mongkrang memiliki ketinggian sekitar 2.194 meter di atas permukaan laut. Dalam kondisi normal, puncaknya dapat dicapai dalam waktu kurang lebih dua jam. Banyak pendaki memilih berangkat dini hari untuk mengejar matahari terbit yang terkenal indah dari punggungan bukit ini.
Namun pagi itu, tujuan kami berbeda.
Kami tidak sedang berlomba dengan waktu. Tidak ada target untuk memburu semburat jingga pertama di ufuk timur. Rombongan yang saya bawa memilih berjalan santai. Langkah demi langkah diambil dengan tempo yang nyaman, memberi kesempatan bagi setiap orang untuk menikmati perjalanan, bukan sekadar mencapai tujuan.
Di tengah kegelapan yang perlahan memudar, suara alam mulai mengambil alih suasana. Gesekan daun diterpa angin, kicau burung yang sesekali terdengar, serta aroma tanah pegunungan yang masih basah oleh embun menciptakan pengalaman yang sulit ditemukan dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Perlahan, langit mulai berubah warna.
Garis-garis tipis cahaya muncul di balik siluet Gunung Lawu yang berdiri megah. Kabut tipis bergerak pelan di antara lembah. Jalur yang semula hanya terlihat beberapa meter di depan kini semakin jelas. Para pendaki pun mulai berbicara lebih banyak, seolah energi pagi ikut menghidupkan semangat perjalanan.
Pada akhirnya, mendaki bukan hanya soal mencapai puncak.
Ada pelajaran yang sering kali tersembunyi di balik setiap langkah. Tentang kesabaran saat menghadapi kemacetan yang tidak direncanakan. Tentang kehati-hatian ketika berada di tengah kerumunan yang tidak menentu. Tentang kemampuan menerima bahwa tidak semua perjalanan akan berjalan sesuai rencana.
Dan di lereng selatan Gunung Lawu pagi itu, Bukit Mongkrang kembali mengingatkan bahwa menikmati perjalanan sering kali jauh lebih penting daripada tergesa-gesa mencapai tujuan. (Adre)

