LESINDO.COM – Di sebuah ruang percakapan, baik di dunia nyata maupun media sosial, kita sering menjumpai pemandangan yang mengundang keheranan. Nama Tuhan disebut berulang-ulang. Ayat, dalil, dan berbagai istilah keagamaan dilontarkan dengan lancar. Namun di sela-sela itu, keluar pula kata-kata yang kasar, merendahkan, bahkan melukai martabat orang lain.
Fenomena ini bukan hal baru. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang begitu fasih berbicara tentang kebaikan, tetapi kesulitan menghadirkan kebaikan itu dalam cara mereka berkomunikasi. Seolah-olah agama cukup ditampilkan melalui simbol dan ucapan, sementara adab yang menjadi ruhnya perlahan ditinggalkan.
Padahal sejak dahulu para bijak mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa tinggi pengetahuannya, melainkan pada bagaimana ilmu itu tercermin dalam sikap dan perkataannya. Sebab kata-kata adalah jendela yang memperlihatkan isi hati seseorang. Dari sanalah orang lain mengenali watak, kematangan emosi, dan kedalaman pemahamannya.
Tidak ada yang salah dengan mengingat Tuhan dalam setiap pembicaraan. Justru itu merupakan hal yang baik. Namun nama Tuhan semestinya menghadirkan keteduhan, bukan kemarahan. Semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Ketika seseorang mengatasnamakan nilai-nilai luhur tetapi pada saat yang sama kehilangan kesantunan, maka yang tampak bukanlah kemuliaan agama, melainkan kegagalan manusia dalam menghayatinya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, adab sering kali ditempatkan lebih tinggi daripada kecerdasan. Orang boleh berbeda pendapat, bahkan berbeda keyakinan sekalipun, tetapi tutur kata tetap dijaga. Ada kesadaran bahwa ucapan yang melukai akan meninggalkan bekas yang jauh lebih lama daripada perbedaan pandangan itu sendiri.
Karena itulah para orang tua dahulu tidak hanya mengajarkan apa yang harus dikatakan, tetapi juga bagaimana mengatakannya. Mereka memahami bahwa kebenaran yang disampaikan tanpa kebijaksanaan sering kali berubah menjadi sumber pertengkaran. Sebaliknya, nasihat yang sederhana namun disampaikan dengan kelembutan mampu menyentuh hati lebih dalam daripada seribu kata yang penuh kemarahan.
Ironisnya, di era digital saat ini, banyak orang lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada menjaga martabat percakapan. Ruang publik dipenuhi kalimat-kalimat yang keras. Orang berlomba menjadi yang paling benar, tetapi lupa menjadi yang paling santun. Padahal sejarah menunjukkan bahwa pengaruh terbesar justru lahir dari mereka yang mampu menggabungkan ketegasan prinsip dengan kelembutan sikap.
Pada akhirnya, waktu akan menjadi hakim yang paling jujur. Seseorang mungkin dapat membangun citra melalui kata-kata yang indah. Namun lambat laun, karakter sejatinya akan tampak dari cara ia memperlakukan orang lain. Sebab lidah yang tidak terjaga sering kali membocorkan apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam hati.
Mungkin itulah sebabnya mengapa adab selalu menjadi fondasi dalam setiap ajaran kebijaksanaan. Ilmu dapat membuat seseorang terlihat pintar. Jabatan dapat membuat seseorang dihormati. Namun hanya adab yang mampu membuat seseorang benar-benar dimuliakan.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh suara dan pendapat, menjaga ucapan menjadi bentuk kebijaksanaan yang semakin langka. Dan barangkali, di situlah letak ujian sesungguhnya: bukan seberapa sering kita menyebut nama Tuhan, melainkan seberapa jauh nama itu membuat kita menjadi manusia yang lebih santun kepada sesama. (Gus)

