Oleh : Roro Wening
LESINDO.COM- Ada masa ketika hari-hari dimulai dengan aroma kopi. Pahitnya akrab, pekatnya terasa seperti bahan bakar untuk berpikir. Di meja kerja selalu ada termos kecil berisi kopi. Saat bepergian, kopi ikut serta. Saat menulis di depan laptop hingga larut malam, secangkir kopi seolah menjadi teman yang tak pernah absen. Hampir seperti ritual—bahkan mungkin lebih tepat disebut bagian dari identitas.
Namun selera manusia, seperti waktu, kadang bergerak tanpa memberi tanda.
Entah sejak kapan, tanpa keputusan yang benar-benar disadari, kopi perlahan mundur dari panggung utama. Kini yang hadir setiap pagi justru secangkir teh. Bukan teh biasa. Bukan teh satu merek yang diseduh lalu selesai. Tetapi teh hasil percampuran, hasil “oplosan”, hasil pertemuan berbagai daun, aroma, dan karakter yang disatukan dalam satu gelas.
Dan ketika bicara soal teh racikan seperti itu, Solo punya cerita panjang.
Di kota yang dikenal halus dalam tutur dan kaya dalam tradisi ini, teh bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Ia adalah bagian dari budaya obrolan, teman begadang, pelengkap diskusi panjang, bahkan pengikat hubungan antara penjual dan pelanggan.
Di berbagai sudut kota—di angkringan pinggir jalan, di hik yang mulai mengepul sejak senja, hingga warung-warung sederhana yang buka sampai dini hari—teh hadir dengan karakter yang berbeda. Ada yang warnanya gelap pekat seperti malam. Ada yang aromanya menyeruak bahkan sebelum gelas menyentuh meja. Ada yang pahit di awal, lalu meninggalkan rasa sepet yang justru membuat orang ingin menyeruput lagi.
Di Solo, meracik teh bukan perkara menuang air panas lalu selesai.
Ia adalah seni.
Banyak peramu teh belajar dari pengalaman bertahun-tahun. Mereka menggabungkan dua, tiga, empat, bahkan lebih dari enam jenis teh dalam satu racikan. Ada yang menambahkan sedikit teh melati untuk aroma. Ada yang memasukkan teh hitam agar warna lebih mantap. Ada pula yang menaruh sedikit jenis tertentu hanya untuk memberi “ekor rasa” yang tertinggal di lidah.
Semua dilakukan bukan dengan rumus tertulis, melainkan dengan insting.
Takaran kadang hanya seujung sendok. Kadang segenggam. Kadang “kira-kira”, istilah yang hanya dimengerti oleh tangan yang sudah puluhan tahun akrab dengan daun teh.
Yang menarik, proses menemukan racikan terbaik sering kali justru melibatkan pelanggan.
Segelas teh hasil eksperimen disodorkan.
“Coba, kurang apa?”
Pelanggan menyeruput perlahan.
“Kurang nyanthol.”
“Atau terlalu pahit.”
“Atau aromanya kurang keluar.”
Masukan demi masukan menjadi bahan evaluasi. Hari berikutnya racikan diperbaiki lagi. Begitu terus, sampai suatu hari lahirlah satu rasa yang ketika diminum membuat orang spontan berkata:
“Wah… iki nyampleng.”
Di Solo, kata nyampleng bukan sekadar enak. Ia adalah pengakuan tertinggi bahwa rasa itu tepat, nempel di lidah, masuk ke ingatan, dan membuat orang ingin kembali.
Pengalaman itulah yang perlahan menular.
Seorang kawan yang berjualan nasi liwet pernah memberikan sekotak teh racikan khusus. Sudah dioplos, sudah siap seduh. Ketika ditanya komposisinya, ia hanya tertawa.
“Rahasia.”
Barangkali begitulah tradisi bekerja—tidak semua diwariskan lewat tulisan. Sebagian disimpan dalam kebiasaan, dalam gerak tangan, dalam takaran yang hanya dipahami rasa.
Sejak itu, dapur rumah pun berubah menjadi laboratorium kecil. Berbagai merek teh mulai dikumpulkan. Tiga jenis, empat jenis, kadang sampai enam produk dicampur jadi satu. Ada hari ketika hasilnya luar biasa. Ada hari ketika rasanya biasa saja. Tetapi di situlah letak kenikmatannya: mencoba, gagal, mencoba lagi, lalu menemukan satu komposisi yang pas.
Karena ternyata setiap teh membawa kepribadiannya sendiri.
Ada yang keras.
Ada yang lembut.
Ada yang harum.
Ada yang diam-diam meninggalkan jejak panjang di tenggorokan.
Dan Solo Raya, dengan segala kesederhanaannya, diam-diam menyimpan para maestro peracik rasa.
Mereka mungkin tidak memakai jas koki. Tidak punya sertifikat internasional. Tidak muncul di layar televisi. Tetapi dari tangan mereka, segelas teh bisa berubah menjadi pengalaman.
Pengalaman yang tak hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga menyentuh ingatan.
Maka jika suatu hari ingin memahami bagaimana rasa bisa diracik dengan naluri, datanglah ke Solo. Duduklah di sebuah angkringan sederhana. Pesan segelas teh panas.
Lalu seruput perlahan.
Bisa jadi, di tegukan pertama, Anda akan mengerti mengapa sebagian orang akhirnya meninggalkan kopi… demi mengejar satu rasa yang benar-benar nyampleng.

