spot_img
BerandaBudayaKenteng Songo, Antara Situs Purba dan Legenda Para Wali

Kenteng Songo, Antara Situs Purba dan Legenda Para Wali

Saat mentari mulai naik perlahan dari ufuk timur, warna keemasan menyapu sabana dan bebatuan puncak. Rasa lelah setelah berjam-jam mendaki seakan menguap bersama kabut pagi.

Oleh: Lembah Manah

LESINDO.COM – Kabut pagi masih menggantung tipis ketika langkah-langkah pendaki mulai mendekati punggungan terakhir Gunung Merbabu. Angin dari arah timur berembus pelan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di hadapan, hamparan sabana yang luas perlahan berubah menjadi jalur berbatu menuju salah satu titik tertinggi gunung ini: Kenteng Songo.

Bagi sebagian pendaki, Kenteng Songo hanyalah nama puncak yang tercantum dalam peta jalur pendakian. Namun bagi mereka yang menyukai kisah-kisah di balik gunung, tempat ini menyimpan lapisan cerita yang jauh lebih tua dibanding jejak sepatu para pendaki masa kini.

Pada ketinggian 3.119 meter di atas permukaan laut, berdiri sebuah kawasan yang tak hanya menawarkan panorama matahari terbit dan lautan awan. Di sini terdapat situs batu purbakala yang sejak lama menjadi bagian dari sejarah dan mitos masyarakat lereng Merbabu.

Nama Kenteng Songo berasal dari bahasa Jawa. “Kenteng” atau “kentheng” merujuk pada batu berlubang menyerupai lumpang, sedangkan “songo” berarti sembilan. Konon, dahulu terdapat sembilan batu lumpang yang tersebar di sekitar area puncak.

Batu-batu itu bukan sekadar bebatuan biasa.

Di tengah kerasnya alam pegunungan, batu-batu bercelah cekung tersebut dipercaya sebagai peninggalan masa lampau ketika Merbabu menjadi ruang sunyi para resi dan pertapa. Sejumlah penelitian arkeologi menyebutkan batu lumpang itu kemungkinan digunakan sebagai sarana ritual keagamaan pada masa sebelum Islam berkembang di Jawa.

Kini sebagian batu masih dapat dijumpai meski tidak lagi lengkap. Beberapa telah tertimbun tanah, terkikis cuaca, atau rusak akibat aktivitas manusia. Untuk menjaga kelestariannya, kawasan situs diberi pembatas oleh petugas taman nasional.

Saya berhenti sejenak di dekat situs itu. Duduk di antara rerumputan pendek yang bergoyang diterpa angin. Di kejauhan tampak siluet Gunung Merapi berdiri gagah, sementara awan putih menggumpal memenuhi lembah-lembah di bawah sana.

Sulit membayangkan bahwa di tempat setinggi ini pernah berlangsung aktivitas spiritual berabad-abad silam.

Namun Merbabu memang bukan sekadar gunung. Ia adalah ruang perjumpaan antara alam, sejarah, dan keyakinan manusia.

Di luar catatan arkeologi, masyarakat sekitar menyimpan cerita lain yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebuah legenda yang membuat nama Kenteng Songo semakin lekat dalam ingatan banyak orang.

Konon, pada suatu masa, sembilan wali penyebar Islam di tanah Jawa berkumpul di puncak Merbabu. Pertemuan itu disebut-sebut sebagai musyawarah para Wali Songo untuk membicarakan strategi dakwah dan berbagai urusan penting lainnya.

Batu-batu yang berada di sekitar puncak dipercaya sebagai simbol tempat duduk atau petilasan para wali tersebut. Dari situlah nama Kenteng Songo diyakini berasal.

Tak ada bukti sejarah yang dapat memastikan kisah itu benar-benar terjadi. Namun seperti banyak legenda gunung di Nusantara, cerita tersebut hidup karena terus diceritakan. Ia menjadi bagian dari identitas masyarakat yang tinggal di lereng Merbabu.

Bagi pendaki, kebenaran legenda mungkin bukan hal yang paling penting.

Yang lebih menarik adalah bagaimana sebuah tempat mampu menyimpan begitu banyak makna. Setiap orang datang dengan tujuan berbeda. Ada yang mengejar matahari terbit, ada yang mencari tantangan, ada pula yang sekadar ingin beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan kota.

Di Kenteng Songo, semuanya bertemu dalam kesunyian yang sama.

Saat mentari mulai naik perlahan dari ufuk timur, warna keemasan menyapu sabana dan bebatuan puncak. Rasa lelah setelah berjam-jam mendaki seakan menguap bersama kabut pagi.

Saya memandang batu-batu tua itu sekali lagi.

Batu yang mungkin telah menyaksikan pergantian musim selama ratusan tahun. Batu yang tetap diam ketika kerajaan datang dan pergi. Batu yang tetap bertahan ketika ribuan pendaki silih berganti menginjakkan kaki di puncak Merbabu.

Di hadapan bentang alam seluas itu, manusia terasa begitu kecil.

Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang kembali ke gunung. Bukan semata untuk mencapai puncak, melainkan untuk menemukan kerendahan hati. Untuk menyadari bahwa perjalanan terbaik bukan selalu tentang seberapa tinggi kita melangkah, melainkan seberapa dalam kita memahami jejak-jejak yang ditinggalkan waktu.

Dan di Kenteng Songo, jejak itu masih tersimpan, diam, di antara angin, rumput, dan sembilan batu yang terus diceritakan.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments