spot_img
BerandaJelajahjelajahNegeri yang Pandai Mengajar, Tetapi Sulit Memberi Teladan

Negeri yang Pandai Mengajar, Tetapi Sulit Memberi Teladan

Tetapi ketika manusia tumbuh dewasa—ketika memiliki jabatan, pengaruh, pengikut, kekuasaan, dan uang—pelajaran yang dulu begitu mudah dijawab mendadak menjadi jauh lebih sulit dipraktikkan.

Oleh : Kang Sholeh 

LESINDO.COM – Di negeri yang sejak kecil mengajarkan sopan santun, menghormati perbedaan, dan pentingnya meminta maaf ketika berbuat salah, ada ironi yang kerap muncul ketika manusia tumbuh dewasa—terlebih ketika kekuasaan, pengaruh, dan kepentingan mulai ikut berbicara.

Belakangan ruang publik kembali dipenuhi potongan-potongan pernyataan, sindiran, saling balas komentar, hingga mobilisasi dukungan dari berbagai kelompok. Nama-nama besar berseliweran, tokoh-tokoh lama kembali menjadi pusat perhatian, dan masyarakat sekali lagi disuguhi drama yang sebenarnya tidak benar-benar baru.

Ada satu komentar warganet yang cukup menggelitik, sekaligus menggambarkan kegelisahan sebagian masyarakat: “Kenapa di negeri ini kalau ada masalah selalu sembunyi di balik ormas? Kenapa tidak dihadapi sendiri?”

Komentar itu mungkin terdengar sederhana, bahkan emosional. Namun di balik kalimat spontan tersebut, tersimpan pertanyaan yang lebih dalam: apakah keberanian untuk mengakui kesalahan kini menjadi sesuatu yang semakin mahal?

Saya memilih untuk tidak masuk pada perdebatan siapa yang benar dan siapa yang salah. Dalam setiap konflik, masing-masing pihak hampir selalu memiliki sudut pandang yang membuat dirinya merasa benar, merasa telah diperlakukan tidak adil, atau merasa sedang membela sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Ketika persoalan sudah memasuki wilayah politik, semuanya menjadi jauh lebih rumit. Sebuah ucapan tak lagi sekadar ucapan. Sebuah kritik tak lagi sekadar kritik. Di belakangnya ada pendukung, ada loyalitas, ada kepentingan, ada gerbong, ada kelompok, bahkan ada pintu-pintu yang saling terhubung.

Dan kita semua tahu, menggerakkan banyak orang hampir tak pernah benar-benar gratis.

Di titik itulah persoalan yang seharusnya bisa selesai lewat percakapan sederhana, lewat saling memahami, atau bahkan lewat satu kalimat, “Saya minta maaf,” justru berkembang menjadi kegaduhan panjang.

Padahal bangsa ini sesungguhnya memiliki karakter sosial yang unik: mudah memaafkan.

Masyarakat kita bukan masyarakat yang sulit menerima orang yang mengakui kesalahan. Berkali-kali sejarah menunjukkan, publik justru sering memberi ruang kedua bagi siapa pun yang berani berkata jujur, mengakui kekeliruan, lalu memperbaiki diri.

Namun mengapa meminta maaf terasa semakin berat?

Barangkali bukan karena lidah tak mampu mengucapkannya, melainkan karena ego terlalu besar untuk membiarkannya keluar.

Lucunya, nilai-nilai itu justru masih diajarkan dengan baik di ruang-ruang kelas. Anak-anak sekolah begitu fasih menjawab soal Pendidikan Pancasila.

“Bagaimana sikapmu jika memiliki teman berbeda keyakinan?”

“Apa yang kamu lakukan ketika temanmu sedang beribadah atau merayakan hari besar agamanya?”

Jawaban mereka hampir selalu indah: saling menghormati, saling membantu, saling menjaga.

Nilainya bagus. Kalimatnya benar. Semangatnya mulia.

Tetapi ketika manusia tumbuh dewasa—ketika memiliki jabatan, pengaruh, pengikut, kekuasaan, dan uang—pelajaran yang dulu begitu mudah dijawab mendadak menjadi jauh lebih sulit dipraktikkan.

Mungkin di situlah ujian sesungguhnya.

Bukan ketika seseorang tidak memiliki apa-apa, melainkan ketika ia memiliki segalanya—namun tetap mampu rendah hati.

Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan tokoh besar. Tidak kekurangan orang berpengaruh.

Yang sering terasa langka hanyalah satu hal sederhana:

keberanian untuk menurunkan ego, lalu berkata dengan tulus,

“Saya salah.”

Artikulli paraprak
RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments