Oleh : Adreena Adilla MÂ
LESINDO.COM – Pagi belum sepenuhnya beranjak tinggi ketika deru kendaraan mulai mengisi Jalan Slamet Riyadi, Solo. Udara masih menyisakan kesejukan malam, sementara petugas kebersihan menyapu sisa-sisa sampah yang tertinggal setelah keramaian Car Free Day pada Minggu pagi. Jalan utama sepanjang 4,3 kilometer yang membentang dari Purwosari hingga Balai Kota Surakarta perlahan kembali ke ritme hariannya.
Di salah satu sudut lahan parkir yang tak terlalu luas, seorang perempuan tua duduk di kursi plastik yang mulai kusam dimakan usia. Tangannya menggenggam peluit kecil, matanya mengawasi kendaraan yang keluar masuk dengan penuh perhatian. Namanya Sugiyarti, 64 tahun.
Usia yang bagi sebagian orang menjadi masa menikmati hari tua, bagi Sugiyarti justru masih menjadi arena perjuangan. Tubuhnya yang mulai renta belum memberi izin untuk berhenti bekerja. Setiap hari, ia tetap datang ke tempat yang sama, menunggu kendaraan yang parkir, sembari berharap rezeki hari itu cukup untuk menyambung hidup keluarganya.
Di pundaknya, beban yang dipikul tak pernah ringan. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada dua cucu yang masih membutuhkan perhatian, lima keponakan yang ditinggal orang tuanya, serta anak-anak yang kehidupannya juga belum sepenuhnya mapan. Rumah kecil yang ditempatinya menjadi tempat bernaung bagi banyak harapan.
“Kalau saya tidak bekerja, mau makan apa?” katanya pelan, seolah bertanya kepada dirinya sendiri.
Menjadi juru parkir bukan pekerjaan yang menjanjikan penghasilan tetap. Ada hari-hari ketika kendaraan ramai datang dan rezeki terasa lebih longgar. Namun ada pula hari-hari sepi yang membuat hasil parkir nyaris habis untuk memenuhi kewajiban setoran.
Setiap hari, Sugiyarti harus menyetor Rp60 ribu kepada pengelola parkir dari Dinas Perhubungan. Setoran itu nyaris tidak pernah terlambat. Petugas akan datang mengambilnya secara rutin. Selain itu, ada biaya sewa lahan yang harus dibayarkan kepada pemilik tempat parkir.
Dulu, jumlahnya Rp300 ribu setiap bulan.

Namun dalam setahun terakhir, kondisi semakin sulit. Jumlah kendaraan yang parkir berkurang. Pendapatan tidak lagi seperti dulu. Beberapa kali Sugiyarti menunggak karena penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan sekaligus.
Melihat kondisi tersebut, pemilik lahan akhirnya menurunkan biaya sewa menjadi Rp200 ribu per bulan.
Bagi sebagian orang, penurunan itu mungkin tidak berarti banyak. Namun bagi Sugiyarti, selisih seratus ribu rupiah adalah ruang bernapas yang sangat berharga.
Meski demikian, perjuangan tetap tidak menjadi lebih ringan.
Tubuhnya kini lebih mudah lelah. Kaki yang dulu kuat berdiri seharian mulai sering nyeri. Punggungnya kerap terasa pegal. Sesekali ia harus dibantu anaknya mengelola parkiran. Namun bantuan itu tidak selalu tersedia.
Pada hari Minggu, misalnya, sang anak sering pergi memancing. Bukan karena enggan membantu, melainkan karena setiap orang juga membutuhkan jeda dari kerasnya hidup. Di tengah himpitan ekonomi, memancing menjadi cara sederhana untuk mencari ketenangan sekaligus harapan mendapatkan tambahan lauk untuk keluarga.
Sugiyarti memahami itu.
Ia tidak pernah banyak mengeluh.
Mungkin karena hidup telah mengajarinya bahwa keluhan tidak akan mengurangi beban, sementara kesabaran sering kali menjadi satu-satunya modal yang tersisa.
Di sela kesibukannya mengatur kendaraan, sesekali ia memandang lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti. Wajah-wajah datang dan pergi silih berganti. Sebagian terburu-buru mengejar pekerjaan, sebagian menuju pusat perbelanjaan, sebagian lagi hanya melintas tanpa pernah mengetahui kisah perempuan tua yang menjaga parkiran di tepi jalan itu.
Padahal, di balik peluit kecil yang menggantung di lehernya, tersimpan cerita tentang keteguhan yang jarang mendapat ruang.
Cerita tentang seorang nenek yang menolak menyerah pada keadaan.
Tentang perempuan yang terus bekerja ketika tubuhnya meminta istirahat.
Tentang seseorang yang setiap hari menunggu rezeki turun dari langit, bukan dengan berpangku tangan, melainkan dengan tetap berdiri di bawah terik matahari dan hujan yang datang silih berganti.
Di kota yang terus bergerak menuju modernitas, sosok seperti Sugiyarti sering luput dari perhatian. Mereka berada di pinggir jalan, di sudut pasar, di emper toko, atau di lahan parkir yang sempit. Namun justru dari tangan-tangan merekalah pelajaran tentang ketabahan sering kali lahir.
Sugiyarti mungkin tidak mengenal istilah motivasi atau teori tentang ketangguhan hidup. Ia hanya menjalani hari demi hari sebagaimana adanya. Menyambut pagi, bekerja hingga senja, lalu pulang membawa harapan bahwa esok masih ada rezeki yang menanti.
Dan seperti banyak wong cilik lainnya, ia percaya bahwa setiap langkah yang dijalani dengan ikhtiar tidak akan pernah luput dari perhatian Tuhan.
Di tepi Jalan Slamet Riyadi yang sibuk itu, Sugiyarti masih menunggu.
Menunggu kendaraan berikutnya.
Menunggu rezeki berikutnya.
Menunggu pertolongan Ilahi yang diyakininya selalu datang pada waktu yang tepat.

