Oleh: Goes Mic
LESINDO.COM – Rezeki sering kali datang dengan cara yang tidak terduga. Ia hadir dalam bentuk pekerjaan, perjalanan, atau sekadar kesempatan yang membuka pintu penghasilan. Namun semakin lama menjalani hidup, saya menemukan satu pola yang terus berulang: setiap rezeki yang datang ternyata sudah memiliki alamatnya sendiri.
Kita sering mengira uang yang masuk ke rekening adalah hasil jerih payah yang sepenuhnya menjadi milik kita. Padahal, tidak jarang kita hanya menjadi perantara. Allah menitipkan rezeki itu melalui tangan kita untuk kemudian sampai kepada orang lain yang bahkan tidak pernah kita duga sebelumnya.
Pengalaman itu berulang kali saya alami.
Suatu ketika saya baru saja pulang dari perjalanan membawa rombongan tamu berwisata ke Malang. Perjalanan panjang membuat tubuh lelah. Pagi hari saya tiba di rumah. Saya membayangkan sore itu bisa beristirahat dengan tenang.
Namun menjelang petang, seorang tamu datang mengetuk pintu.
Ia bukan orang asing. Wajahnya terasa akrab meski sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Ternyata ia adalah mantan murid yang pernah saya kenal lama sekali. Bersama istrinya dan seorang anak kecil, ia datang dari Klaten dalam perjalanan menuju Semarang.
Anak itu berada dalam gendongan. Di sampingnya tampak sebuah tabung oksigen kecil yang ikut dibawa dalam perjalanan.
Pemandangan itu membuat saya segera memahami bahwa kedatangannya bukan sekadar silaturahmi biasa.
Kami berbincang ringan. Mengenang masa lalu. Menanyakan kabar masing-masing. Tetapi di balik percakapan itu ada sesuatu yang tidak perlu diucapkan. Saya tahu perjalanan mereka masih jauh. Saya tahu kebutuhan hidup sedang tidak mudah mereka hadapi.
Sebelum mereka melanjutkan perjalanan, saya menyelipkan sebuah amplop. Isinya tidak seberapa. Namun sore itu saya kembali menyadari satu hal: rezeki yang saya bawa pulang dari Malang ternyata bukan sepenuhnya milik saya. Sebagian sudah memiliki alamat lain, dan saya hanya menjadi kurir yang ditugaskan mengantarkannya.
Pola serupa kembali terjadi dalam bentuk yang berbeda.
Sebagai fotografer, saya terbiasa mencatat jadwal pemotretan jauh-jauh hari. Tanggal-tanggal pekerjaan biasanya sudah saya lingkari di kalender agar tidak bertabrakan satu sama lain. Perencanaan yang rapi membuat urusan keuangan keluarga relatif berjalan tanpa banyak kendala.
Setiap bulan saya mengirim uang untuk kebutuhan anak yang sedang kuliah di Surabaya. Jumlahnya sudah diperhitungkan dan biasanya cukup.
Tetapi suatu hari, sebelum jadwal pemotretan berlangsung, sebuah pesan WhatsApp masuk.
“Abah, minta tambahan uang. Lagi banyak kegiatan.”
Saya hanya tersenyum membaca pesan itu.
Saat itulah saya sadar bahwa hasil pemotretan yang bahkan belum saya kerjakan ternyata sudah mempunyai pemilik. Rezeki yang belum datang itu rupanya telah lebih dahulu diberi alamat oleh Yang Maha Mengatur. Saya hanya belum mengetahui kepada siapa ia akan sampai.
Dan kali ini alamatnya adalah anak sendiri yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan di perantauan.
Dari pengalaman-pengalaman kecil seperti itulah saya belajar bahwa rezeki bukan semata soal jumlah. Ia juga tentang amanah.
Amanah itulah yang kadang gagal dipahami sebagian orang.
Saya pernah melihat sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang penyelenggara acara. Secara bisnis sebenarnya cukup menjanjikan. Pekerjaan datang silih berganti. Pelanggan berdatangan. Namun ada satu hal yang mengusik.
Orang-orang yang bekerja di dalamnya tidak diperlakukan sebagaimana mestinya.
Hak-hak mereka kerap diabaikan. Ada yang dipotong tanpa alasan jelas. Ada yang diperlakukan semena-mena. Keluhan dianggap pembangkangan. Kesetiaan dibalas dengan ketidakpedulian.
Pemilik perusahaan merasa seluruh keberhasilan adalah hasil kerja dirinya sendiri. Ia lupa bahwa di balik setiap pekerjaan yang selesai, ada tenaga, waktu, dan harapan banyak orang yang ikut menopang berdirinya usaha itu.
Tahun demi tahun berlalu.
Satu per satu karyawan memilih pergi. Sebagian bertahan sejenak lalu menyerah. Pelanggan yang dulu setia mulai mencari tempat lain. Perlahan tetapi pasti, perusahaan itu kehilangan denyut kehidupannya.
Saya tidak pernah ikut menghakimi. Hidup sudah memiliki caranya sendiri untuk memberi pelajaran.
Dari kejauhan saya hanya merenung: mungkin persoalannya bukan semata-mata soal manajemen atau persaingan usaha. Bisa jadi ada amanah yang tidak dijaga dengan baik. Ada rezeki orang lain yang tidak sampai kepada pemilik haknya.
Sebab rezeki sejatinya bukan hanya tentang apa yang kita terima, melainkan juga tentang apa yang kita salurkan.
Barangkali di situlah letak keajaibannya.
Ketika seseorang bersedia menjadi jalan bagi kebahagiaan orang lain, Allah akan terus membuka pintu-pintu yang tidak disangka-sangka. Sebaliknya, ketika seseorang menahan apa yang semestinya menjadi hak orang lain, pintu itu perlahan bisa saja tertutup tanpa ia sadari.
Pada akhirnya, manusia hanyalah persinggahan sementara bagi rezeki yang sedang melakukan perjalanan.
Dan setiap rezeki, sekecil apa pun nilainya, selalu memiliki alamat yang sudah ditentukan jauh sebelum ia tiba di tangan kita.

