LESINDO.COM – Oleh waktu, setiap orang menemukan kanvasnya sendiri. Ada yang menemukannya di atas lembar kertas, di antara sapuan kuas dan warna, ada pula yang justru menemukannya di balik lensa.
Bagi saya, pencarian itu dimulai dari bangku sekolah dasar.
Di ruang kelas yang dindingnya dipenuhi gambar pemandangan—dua gunung, matahari di tengah, sawah, dan jalan kecil menuju cakrawala—pelajaran menggambar selalu menjadi salah satu yang paling saya tunggu. Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan setiap kali guru meminta kami membuka buku gambar, meraut pensil, lalu mulai menorehkan garis.
Namun, di balik kegembiraan itu, ada perasaan lain yang diam-diam tumbuh: kagum, sekaligus minder.
Saya sering melirik gambar teman sebangku. Entah bagaimana, di tangannya, pensil 3B seperti memiliki nyawa. Setiap garis tampak hidup, setiap bayangan memiliki karakter. Pohon yang ia gambar terasa rindang, gunung tampak kokoh, dan langit seolah benar-benar memiliki kedalaman.
Sementara gambar saya… terasa kering.
Saya mencoba meniru. Berkali-kali. Mengamati setiap sapuan garis, mengikuti tekniknya, menebalkan bagian tertentu, memberi arsiran di sudut yang sama. Bentuknya mungkin bisa menyerupai, tetapi ruhnya terasa hilang. Ada sesuatu yang tak pernah benar-benar sampai.
Waktu berjalan. Saya terus mencoba, belajar secara otodidak, menggambar apa saja yang bisa saya lihat. Tetapi hingga satu titik, tangan ini tetap terasa kaku ketika harus berbicara lewat pensil.
Barangkali memang bukan di sana rumah saya.
Jawaban itu datang ketika saya duduk di bangku SMP.
Bukan pensil. Bukan kuas. Bukan pula kanvas.
Saya justru menemukan seni menggambar melalui cahaya.
Pertama kali memegang kamera, ada sensasi yang sulit dijelaskan. Seolah semua yang dulu ingin saya wujudkan lewat garis dan arsiran, kini hadir dalam bentuk yang berbeda—lebih nyata, lebih dekat dengan cara saya melihat dunia.
Saya mulai memahami bahwa cahaya pun bisa dilukis.
Matahari pagi yang menembus dedaunan. Siluet orang berjalan di ujung jalan. Senja yang perlahan tenggelam di balik bukit. Hujan yang meninggalkan pantulan di aspal. Semua seperti membuka ruang baru yang selama ini saya cari.
Sejak saat itu, kamera selalu punya tempat khusus di dalam tas ransel saya.
Ke mana pun pergi—terutama saat perjalanan jauh—kamera hampir selalu menjadi barang pertama yang dipersiapkan. Bukan karena saya seorang fotografer hebat, bukan pula karena mengejar pengakuan. Ada kepuasan yang sulit digantikan ketika berhasil menangkap satu momen yang mungkin hanya berlangsung sepersekian detik.
Sebuah bidikan kecil.
Sebuah cerita yang dibekukan oleh cahaya.
Memang, dunia fotografi bukan dunia yang murah. Pada masa kamera film, membeli rol film saja sudah menjadi pertimbangan tersendiri, belum lagi biaya cuci cetak, belum kamera yang harganya sering kali terasa jauh dari jangkauan.
Tetapi seperti waktu yang selalu bergerak, teknologi pun berkembang.
Era digital mengubah banyak hal. Apa yang dulu harus ditunggu berhari-hari, kini bisa dilihat dalam hitungan detik. Apa yang dulu terasa mahal dan rumit, kini menjadi lebih terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.
Namun, di balik segala kemudahan itu, satu hal tetap sama: fotografi bukan sekadar soal alat.
Ia tentang cara melihat.
Tentang kesabaran menunggu cahaya yang tepat.
Tentang keberanian menangkap momen sebelum ia hilang.
Dan bagi saya, di balik kotak kecil bernama kamera, saya akhirnya menemukan keseimbangan hidup—tempat di mana jiwa belajar melukis, bukan lagi dengan pensil, melainkan dengan cahaya.(Dre)

