Oleh : Den Ba Gus e Ngarso
Dari Senja Majapahit, Petilasan Leluhur, hingga Napas Spiritual Hari Ini
LESINDO.COMÂ – Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Lawu ketika langkah pertama menapaki batu-batu tua di Dusun Ceto. Udara di ketinggian hampir 1.500 meter itu menggigit pelan, membawa aroma tanah basah, pinus, dan dupa yang sesekali tercium dari pendapa pemujaan.
Di sinilah, di tubuh pegunungan yang sejak lama dipercaya sebagai ruang pertemuan antara manusia dan alam gaib, berdiri Candi Cetho—bukan sekadar bangunan batu peninggalan masa silam, melainkan jejak panjang sebuah peradaban yang memilih bertahan di tengah perubahan zaman.
Catatan arkeologi menyebut, candi ini dibangun pada abad ke-15, masa-masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit. Sengkalan pada relief diperkirakan menunjuk tahun 1451 M, sementara penyelesaiannya dipercaya sekitar 1475 M. Kompleks ini pertama kali dilaporkan oleh peneliti Belanda Van de Vlies pada 1842.
Namun Cetho bukanlah candi yang bicara lantang. Ia justru seperti memilih berbisik.
Semakin tinggi langkah mendaki teras demi teras, semakin terasa bahwa tempat ini bukan dibangun untuk dipandang, melainkan untuk dijalani.
Teras Kedua: Jejak Ki Ageng Krincingwesi
Di salah satu teras awal, masyarakat setempat menunjuk sebuah petilasan yang diyakini sebagai tempat bersemayam Ki Ageng Krincingwesi—tokoh leluhur yang dipercaya menjaga Dusun Ceto.
Tak ada prasasti resmi yang menuliskan namanya. Yang hidup adalah ingatan kolektif.
Bagi warga, Ki Ageng Krincingwesi bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah penjaga tak kasatmata, simbol keterhubungan antara tanah, keturunan, dan laku spiritual.
Bunga setaman, dupa, dan sesaji sederhana kadang masih terlihat di sudut petilasan itu.
Bukan museum.
Bukan pula sekadar objek wisata.
Melainkan ruang dialog antara generasi.
Relief Sudamala: Tempat Ruwatan Jiwa
Di teras berikutnya, relief-relief batu menampilkan kisah Sudamala dan Garudeya.
Kisah-kisah ini bukan dekorasi.
Dalam tradisi Jawa-Hindu, Sudamala adalah simbol pelepasan kutukan, pembebasan dari beban batin, dan perjalanan menuju kesucian.
Para peneliti menyebut relief ini menegaskan fungsi utama Candi Cetho sebagai tempat ruwatan—ritual penyucian diri dari kesialan, penderitaan, atau beban spiritual.
Mungkin karena itulah hingga kini, banyak orang datang bukan untuk berfoto.
Mereka datang untuk diam.
Untuk bertapa.
Untuk berdamai.
Teras Tinggi: Bayang-Bayang Prabu Brawijaya V
Semakin ke atas, aura candi terasa berubah.
Lebih hening.
Lebih sakral.
Di salah satu teras tinggi, berdiri arca yang oleh masyarakat dikaitkan dengan Prabu Brawijaya V dalam perwujudan Mahadewa.

Sosok yang dalam berbagai babad Jawa kerap digambarkan sebagai raja terakhir Majapahit, berada di persimpangan besar sejarah Nusantara—antara runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan lahirnya era baru.
Di sekitar area ini pula muncul nama-nama seperti Sabdapalon dan Nayagenggong, tokoh spiritual yang dalam tradisi Jawa dipercaya setia mendampingi sang raja.
Apakah benar beliau pernah bertapa di sini?
Arkeologi mungkin tak memberi jawaban pasti.
Tetapi masyarakat menjaga kisah itu tetap hidup.
Dan kadang, sejarah memang lebih panjang umurnya ketika hidup dalam keyakinan.
Arca Bima dan Kembalinya Roh Nusantara
Salah satu yang menarik perhatian adalah arca Bima.
Bentuknya sederhana.
Jauh dari kemegahan pahatan masa emas Jawa klasik.
Namun justru di situlah maknanya.
Para ahli melihat Cetho sebagai tanda kembalinya unsur lokal Nusantara—konsep punden berundak—yang dipadukan dengan spiritualitas Hindu di masa akhir Majapahit.
Seolah leluhur sedang berkata:
Peradaban boleh berubah.
Tapi akar tak boleh tercabut.
Cetho Hari Ini: Antara Wisata, Ritual, dan Keheningan
Hingga hari ini, Candi Cetho masih aktif digunakan umat Hindu untuk upacara keagamaan, persembahyangan, dan ritual tradisi. Pendapa-pendapa di kompleks candi tetap digunakan untuk kegiatan spiritual masyarakat setempat.
Wisatawan datang silih berganti.
Anak muda membawa kamera.
Pendaki mampir sebelum menuju Lawu.
Pencari ketenangan datang tanpa banyak bicara.
Dan di antara semua itu, batu-batu tua tetap diam.
Tak pernah menjelaskan siapa yang benar-benar pernah bertapa di sana.
Tak pernah membantah kisah-kisah yang diwariskan.
Ia hanya berdiri…
menjaga satu pesan sederhana:
bahwa sebuah peradaban mungkin runtuh, tetapi ruhnya bisa tetap hidup—selama masih ada yang datang, menapak, dan mengingat.

