Oleh : Goes Mic
Tanda saat Allah memanggil seorang hamba untuk pulang, kembali bersujud, dan menata ulang arah hidup
LESINDO.COM – Di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah benar-benar memberi jeda, manusia kerap berjalan terlalu jauh. Mengejar sesuatu yang tampak berharga, namun tanpa sadar meninggalkan sesuatu yang paling utama: hubungan dengan Sang Pencipta. Kesibukan, ambisi, kesenangan sesaat, bahkan dosa yang dilakukan berulang-ulang, perlahan bisa membuat hati menjadi keras dan lupa arah pulang.
Namun kasih sayang Allah tak pernah mengenal kata terlambat. Bahkan ketika seorang hamba tenggelam dalam kemaksiatan, pintu-Nya tetap terbuka. Teguran-Nya tidak selalu datang dalam bentuk petir yang menggelegar, kadang justru hadir melalui bisikan yang lembut, peristiwa yang menyentuh, atau rasa yang tiba-tiba mengguncang batin.
Ada saat-saat tertentu ketika hidup terasa berbeda—dan mungkin, itulah cara Allah sedang memanggilmu pulang.
Ketika Allah Menyapa Langsung Lewat Firman-Nya
Tak ada panggilan yang lebih menenangkan selain ketika Allah sendiri memanggil hamba-Nya melalui ayat-Nya:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini bukan sekadar penghibur bagi mereka yang berdosa. Ini adalah undangan. Sebuah pelukan spiritual bagi siapa pun yang merasa terlalu jauh, terlalu kotor, terlalu banyak salah.
Allah tidak berkata, “Datanglah jika kau sudah suci.”
Allah justru memanggil saat engkau masih penuh luka.
Ketika ayat ini terasa menusuk hati, mungkin bukan kebetulan. Bisa jadi, itu adalah panggilan pertama untuk pulang.
Ketika Kegagalan Membuatmu Menengadah
Ada fase ketika hidup terasa berantakan. Rencana gagal. Harapan runtuh. Orang-orang pergi. Jalan yang diyakini ternyata buntu.
Di titik itulah banyak manusia akhirnya menengadah.
Tangis yang dulu tertahan, kini pecah dalam sujud panjang. Bibir yang lama lupa berdoa, tiba-tiba fasih menyebut nama-Nya.
Bisa jadi itu bukan murka. Bisa jadi itu kasih sayang.
Seolah Allah sedang berbisik:
“Wahai hamba-Ku, sebenarnya apa yang sedang kau kejar… sampai kau lupa kepada-Ku?”
Tidak semua luka hadir untuk menghancurkan. Sebagian hadir untuk mengembalikan arah.
Ketika Nasihat Datang dari Orang-Orang Terdekat
Kadang Allah tidak menegurmu secara langsung, tetapi melalui orang-orang yang mencintaimu.
Lewat ibu yang tiba-tiba mengingatkan shalat.
Lewat sahabat yang mengirim pesan sederhana.
Lewat saudara yang tanpa sengaja menyinggung tentang taubat.
Awalnya mungkin terasa biasa. Bahkan kadang mengusik.
Namun ketika mulut mulai diam, pikiran mulai merenung, dan hati tiba-tiba terasa luluh… mungkin itu bukan sekadar obrolan biasa.
Mungkin Allah sedang berkata melalui mereka:
“Kembalilah, wahai hamba-Ku.”
Ketika Media Sosial Mendadak Menjadi Pengingat
Di era digital, bahkan layar ponsel bisa menjadi jalan hidayah.
Tanpa dicari, tiba-tiba muncul potongan dakwah. Video singkat tentang kematian. Tulisan tentang taubat. Kutipan yang menampar batin.
Algoritma mungkin bekerja. Tetapi hati tahu ketika sebuah pesan terasa terlalu tepat untuk diabaikan.
Bisa jadi itu bukan kebetulan.
Bisa jadi Allah sedang mengetuk lewat sesuatu yang paling sering kau genggam setiap hari.
Mengingatkanmu bahwa di balik dunia virtual, ada kehidupan nyata yang sedang dipertanggungjawabkan.
Ketika Kematian Sering Terlintas dalam Pikiran
Ada masa ketika seseorang mulai sering berpikir tentang akhir hidupnya.
Bukan karena takut semata. Tetapi karena sadar.
Sadar bahwa usia tidak pernah memberi pemberitahuan.
Sadar bahwa waktu terus berjalan tanpa bisa diputar kembali.
Sadar bahwa ada hari ketika semua perjalanan akan berhenti.
Saat pikiran tentang kematian mulai sering hadir, bisa jadi itu bukan kecemasan.
Bisa jadi itu adalah ketukan lembut dari langit.
Sebuah pengingat bahwa dunia ini hanyalah persinggahan.
Bahwa bekal harus mulai dipersiapkan.
Bahwa sujud mungkin tak bisa ditunda lebih lama lagi.
Pada akhirnya, bahasa Allah memang tak selalu mudah dimengerti. Kadang hadir lewat ayat, lewat luka, lewat orang lain, lewat layar kecil di genggaman, atau lewat rasa takut yang tiba-tiba muncul di tengah malam.
Namun satu hal yang pasti: ketika Allah masih mengingatkanmu, itu artinya pintu pulang masih terbuka.
Dan selama napas masih berhembus, belum ada kata terlambat untuk kembali.

