spot_img
BerandaJelajahjelajahMenjadi Tua Adalah Kepastian, Menjadi Dewasa Adalah Pilihan

Menjadi Tua Adalah Kepastian, Menjadi Dewasa Adalah Pilihan

Ada jeda yang memang diperlukan agar seseorang tidak mengambil keputusan ketika emosinya sedang berada di puncak. Sebab keputusan yang lahir dari pikiran yang kacau sering kali hanya menyelesaikan satu masalah, tetapi membuka pintu bagi masalah yang lain.

Oeh : R. Adilla 

LESINDO.COM – Ada masa ketika hidup terasa datang tanpa jeda. Satu persoalan belum selesai, persoalan lain menyusul. Pikiran menjadi penuh, hati kehilangan ketenangan. Rasanya seperti pepatah lama: sudah jatuh, tertimpa tangga.

Dalam keadaan seperti itu, seseorang sering kali bukan hanya berhadapan dengan masalah yang datang dari luar dirinya, tetapi juga dengan kekacauan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri.

Pikiran yang semula jernih perlahan menjadi keruh. Emosi mudah tersulut. Keputusan diambil terburu-buru. Hal-hal kecil terasa begitu besar. Apa yang sebenarnya sederhana menjadi rumit karena pikiran sedang tidak berada pada keadaan terbaiknya.

Barangkali bukan persoalannya yang semakin banyak. Bisa jadi kita yang sedang kehilangan kemampuan untuk melihat persoalan dengan tenang.

Saat hati tidak tenang, pikiran pun sulit diajak berdamai. Tubuh ikut merasakan akibatnya. Nafsu makan berkurang, tidur terganggu, bahkan malam yang panjang terasa tidak cukup untuk membuat tubuh beristirahat.

Pelan-pelan energi tubuh terkuras.

Di titik tertentu, seseorang dapat merasa begitu lelah, bukan karena terlalu banyak berjalan, tetapi karena terlalu lama membawa sesuatu di dalam kepala.

Karena itu, ketika persoalan datang bertubi-tubi, mungkin hal pertama yang perlu dilakukan bukan segera mencari jawaban, melainkan mencari ketenangan.

Diam sejenak.

Menjauh untuk sementara dari hiruk-pikuk persoalan. Memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk bernapas, menata pikiran dan mendengarkan kembali suara hati yang mungkin selama ini tertutup oleh kebisingan masalah.

Menyendiri bukan selalu berarti melarikan diri. Ada kalanya seseorang memang membutuhkan jarak agar dapat melihat persoalan dengan lebih utuh.

Seperti seseorang yang sedang berada di dalam ruangan yang penuh sesak. Ia tidak mungkin menemukan udara segar jika terus bertahan di tengah kerumunan. Ia perlu keluar sebentar, menghirup udara, menenangkan diri, kemudian kembali ketika napasnya sudah teratur.

Begitu pula dengan persoalan hidup.

Menjauh bukan berarti menghindari. Berhenti bukan berarti menyerah.

Ada jeda yang memang diperlukan agar seseorang tidak mengambil keputusan ketika emosinya sedang berada di puncak. Sebab keputusan yang lahir dari pikiran yang kacau sering kali hanya menyelesaikan satu masalah, tetapi membuka pintu bagi masalah yang lain.

Maka, barangkali kedewasaan bukan tentang seberapa cepat seseorang menyelesaikan persoalan.

Kedewasaan justru tampak dari kemampuannya menahan diri ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam. Ia tahu kapan harus maju dan kapan perlu mundur beberapa langkah. Ia tahu bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan hari itu juga.

Ada masalah yang membutuhkan keberanian untuk dihadapi. Tetapi ada pula masalah yang membutuhkan ketenangan sebelum disentuh kembali.

Waktu sering kali membantu mengembalikan sesuatu yang sempat hilang: kejernihan.

Setelah pikiran lebih tenang, tidur mulai membaik, tubuh kembali memiliki tenaga, barulah persoalan dapat dilihat dari sudut yang berbeda. Yang kemarin terasa seperti jalan buntu, mungkin hari ini ternyata hanya sebuah tikungan.

Hidup memang tidak selalu memberi kita pilihan tentang apa yang akan datang. Ada kehilangan yang tidak bisa dicegah, kegagalan yang tidak bisa diulang, dan kejadian yang tidak bisa diputar kembali.

Namun kita masih memiliki pilihan tentang bagaimana menyikapinya.

Menjadi tua adalah kepastian. Hari demi hari usia akan terus bertambah, rambut mungkin memutih, tenaga perlahan berkurang, dan tubuh tidak lagi sekuat dahulu.

Tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

Usia tidak otomatis membuat seseorang dewasa. Kedewasaan tumbuh dari pengalaman yang direnungkan, kesalahan yang diakui, emosi yang dikendalikan, serta kemampuan untuk tidak membiarkan satu persoalan menghancurkan seluruh kehidupan.

Mungkin pada akhirnya hidup bukan tentang bagaimana menghindari seluruh masalah.

Sebab selama masih hidup, masalah akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Yang penting adalah bagaimana kita tetap menjaga diri agar tidak kehilangan arah ketika masalah datang.

Sebab ketika badai belum reda, kita tidak selalu membutuhkan langkah yang lebih cepat.

Kadang-kadang kita hanya perlu berhenti sejenak, menenangkan hati, mengatur napas, lalu berkata kepada diri sendiri:

“Tenang. Tidak semua harus selesai hari ini.”

Karena setelah pikiran kembali jernih, jalan yang semula terasa gelap pun perlahan mulai terlihat.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments