Mengabdi, Menunggu, dan Belajar Menertawakan Keadaan
LESINDO.COM – Ada kisah lain yang tidak kalah jenaka, meski di baliknya tersimpan kenyataan yang tidak selalu mudah ditertawakan. Tentang seorang guru yang telah mengabdikan bertahun-tahun hidupnya di sekolah, tetapi kejelasan untuk diangkat menjadi pegawai negeri tak kunjung datang. Waktu berjalan, usia bertambah, sementara kepastian yang ditunggu tidak selalu datang sesuai harapan.
Pada mulanya, mungkin ada harapan untuk mendapatkan status pekerjaan yang lebih pasti. Ada bayangan tentang masa depan yang lebih terjamin setelah sekian lama mengajar. Namun, hidup tidak selalu mengikuti garis yang sudah direncanakan.
Tahun demi tahun berlalu. Pagi tetap berangkat, sore tetap pulang. Murid-murid datang silih berganti. Ada yang tumbuh menjadi orang dewasa, ada yang kembali ke sekolah membawa anaknya sendiri. Sementara itu, guru yang dahulu mengajari mereka membaca dan berhitung masih menjalankan rutinitas yang sama: mengajar, mendidik, dan menyelesaikan berbagai urusan yang seolah tidak pernah habis.
Sampai pada satu titik, muncul guyonan yang terdengar getir sekaligus menggelitik.
“Sudahlah, tidak usah diangkat juga tidak apa-apa. Wong waktu dan usia sudah telanjur habis untuk mengabdi.”
Kalimat itu bisa mengundang tawa, tetapi juga menyisakan jeda. Sebab, ada perbedaan antara benar-benar tidak membutuhkan kepastian dan memilih berdamai dengan sesuatu yang tak kunjung menjadi kenyataan.
Bersyukur adalah sikap yang baik. Mencintai pekerjaan juga sesuatu yang patut dihargai. Namun, keduanya tidak semestinya dipakai untuk menutupi kenyataan bahwa guru tetap membutuhkan penghidupan yang layak dan kepastian masa depan.
Guru boleh ikhlas mengajar, tetapi ikhlas bukan berarti tidak boleh berharap. Guru boleh mencintai murid-muridnya, tetapi cinta kepada profesi tidak seharusnya membuat kesejahteraannya menjadi perkara yang bisa terus ditunda.
Maka, jika kisah ini terdengar seperti sambat, anggap saja sebagai guyonan seorang pekerja yang sudah terlalu lama akrab dengan kenyataan. Bukan untuk mengasihani diri sendiri, melainkan untuk mengingatkan bahwa di balik seragam, papan tulis, dan senyum di depan kelas, ada manusia yang juga memiliki kebutuhan, keluarga, dan masa depan.
Kalau Tidak Bisa Mengubah Keadaan, Setidaknya Jangan Kehilangan Humor
Barangkali, salah satu cara bertahan di dunia pendidikan adalah memiliki kemampuan untuk tertawa di tengah kesibukan. Bukan menertawakan murid yang sedang kesulitan, apalagi menjadikan penderitaan sebagai bahan olok-olok. Melainkan menertawakan betapa banyaknya peran yang harus dimainkan dalam satu hari kerja.
Pagi datang sebagai guru. Siang menjelma polisi. Sore pulang membawa pengalaman sebagai dokter, detektif, psikolog, penyanyi, ustaz, dan petugas pengeras suara.
Besok pagi, semua kembali dari awal.
Di antara rutinitas itu, ada kepuasan kecil yang tidak selalu bisa dihitung dengan uang. Melihat anak yang semula belum bisa membaca akhirnya lancar mengeja. Menyaksikan murid yang dahulu pemalu mulai berani berbicara. Atau menerima sapaan dari mantan murid yang kini telah bekerja dan masih mengingat nama gurunya.
Hal-hal semacam itu mungkin tidak tercetak dalam daftar tunjangan. Namun, bagi sebagian guru, kenangan tersebut menjadi bagian dari alasan mengapa mereka tetap bertahan.
Tetapi tentu saja, kenangan tidak bisa digunakan untuk membayar tagihan listrik. Senyum murid tidak bisa langsung ditukar dengan beras di pasar. Dan rasa bangga ketika seorang anak berhasil tidak serta-merta menyelesaikan persoalan kesejahteraan keluarga guru.
Karena itu, menghargai pengabdian guru semestinya tidak berhenti pada ucapan terima kasih saat Hari Guru. Penghargaan juga perlu hadir dalam kebijakan yang jelas, kesejahteraan yang layak, serta kepastian bagi mereka yang telah bertahun-tahun menjalankan tugasnya.
Sebab, guru bukan malaikat yang hidup tanpa kebutuhan duniawi. Mereka manusia biasa yang bisa lelah, sakit, kecewa, dan sesekali ingin mengeluh. Bedanya, esok pagi mereka tetap harus berdiri di depan kelas, menyambut anak-anak yang datang dengan beragam cerita.
Dan jika suatu hari ada guru yang berkata, “Saya ini sebenarnya guru atau tenaga serba bisa?” barangkali jawaban paling jujur adalah: keduanya.
Hanya saja, ada satu jabatan yang belum berhasil diraih sampai hari ini.
Bukan kepala sekolah. Bukan pula pengawas.
Melainkan pejabat yang berwenang menaikkan gaji sendiri.
Sayangnya, jabatan itu tidak pernah tersedia dalam struktur organisasi sekolah.
Jadi, kalau tulisan ini terdengar seperti sambat, jangan terlalu serius menanggapinya. Ini cuma guyonan kecil dari ruang kelas. Sebab, terkadang, ketika kenyataan terlalu panjang untuk dikeluhkan, humor menjadi cara paling sederhana untuk tetap waras.
Berangkat pagi, pulang sore. Niatnya mencerdaskan kehidupan bangsa, praktiknya menguasai hampir semua bidang. Dan pada akhir bulan, satu-satunya mata pelajaran yang belum berhasil dikuasai adalah cara memperbesar nominal gaji.
Kalau dicocokke, kok cocok. Kalau dipas-paske, yo pas.
Namanya juga guru. Serba bisa, kecuali mengatur isi dompetnya sendiri.

