spot_img
BerandaJelajahPart 2 : Ketika Kemunafikan Menjadi Cara Bertahan

Part 2 : Ketika Kemunafikan Menjadi Cara Bertahan

Setidaknya jangan sampai karena terlalu sering memakai topeng untuk bertahan, kita akhirnya lupa wajah asli kita sendiri.

Apakah kita sudah berubah?

LESINDO.COM – Hampir lima puluh tahun setelah gagasan Mochtar Lubis itu disampaikan, zaman memang berubah.

Kita memiliki teknologi.

Kita memiliki media sosial.

Kita memiliki ruang publik yang jauh lebih terbuka.

Orang bisa menyampaikan pendapat dalam hitungan detik.

Tetapi apakah manusia benar-benar menjadi lebih jujur?

Pertanyaan itu justru semakin menarik.

Di media sosial, seseorang bisa terlihat begitu peduli kepada sesama. Foto kebaikan dipajang. Kata-kata bijak dibagikan. Kepedulian menjadi sesuatu yang mudah dipertontonkan.

Padahal kehidupan nyata mungkin tidak selalu seindah unggahan.

Di tempat lain, seseorang bisa berbicara lantang tentang kejujuran, tetapi memilih diam ketika ketidakjujuran terjadi di depan matanya sendiri.

Bukan karena ia tidak tahu mana yang benar.

Ia tahu.

Hanya saja, mengetahui kebenaran dan berani menanggung akibat dari kebenaran adalah dua hal yang berbeda.

Kita semua mungkin pernah memakai topeng

Barangkali terlalu mudah menyebut orang lain munafik.

Sebab jika kita jujur kepada diri sendiri, mungkin kita pernah melakukan hal yang sama.

Pernah tersenyum kepada seseorang yang sebenarnya tidak kita sukai.

Pernah mengatakan “tidak apa-apa” ketika sebenarnya hati terluka.

Pernah menyetujui keputusan yang sebenarnya tidak kita yakini.

Pernah memilih diam karena berbicara hanya akan membuat persoalan semakin panjang.

Pernah mengatakan yes di depan, lalu menggerutu no di belakang.

Bukan berarti semua itu benar.

Tetapi mungkin manusia memang tidak sesederhana hitam dan putih.

Ada orang yang memilih diam karena pengecut.

Ada yang diam karena bijaksana.

Ada yang mengangguk karena setuju.

Ada pula yang mengangguk karena sedang menghitung risiko.

Persoalannya bukan semata-mata pada anggukan.

Persoalannya adalah ketika kita terlalu lama mengangguk sampai lupa bagaimana mengatakan tidak.

Sistem juga harus bercermin

Karena itu, membicarakan kemunafikan tidak cukup hanya dengan menyalahkan individu.

Sistem tempat manusia bekerja juga perlu bercermin.

Apakah bawahan benar-benar boleh berbeda pendapat?

Apakah kritik dianggap sebagai masukan atau pembangkangan?

Apakah birokrasi memberi ruang bagi kejujuran?

Apakah seorang pegawai bisa mengatakan “saya tidak setuju” tanpa harus takut kehilangan kesempatan, kedekatan, atau bahkan pekerjaannya?

Sebab manusia dibentuk bukan hanya oleh niat pribadinya.

Ia juga dibentuk oleh lingkungan tempat ia hidup.

Sistem yang sehat bukan sistem yang membuat semua orang selalu berkata “iya”.

Sistem yang sehat justru memberi ruang bagi seseorang untuk mengatakan “tidak” tanpa harus kehilangan martabat.

Sebab dari perbedaan pendapat itulah sebuah keputusan kadang menjadi lebih matang.

Pada akhirnya, cermin itu kembali kepada kita

Mungkin Mochtar Lubis tidak sedang mengajak kita membenci manusia Indonesia.

Mungkin ia sedang mengajak kita melihat luka yang selama ini terlalu sering ditutupi.

Kemunafikan bisa menjadi sifat buruk.

Tetapi ia juga bisa menjadi gejala dari sebuah lingkungan yang terlalu lama menghukum kejujuran.

Kita mungkin tidak dapat mengubah seluruh sistem.

Tidak semua orang memiliki kebebasan untuk keluar dari pekerjaan, jabatan, organisasi, atau hubungan yang mengikatnya.

Namun masih ada satu ruang yang paling mungkin kita jaga:

diri sendiri.

Setidaknya jangan sampai karena terlalu sering memakai topeng untuk bertahan, kita akhirnya lupa wajah asli kita sendiri.

Sebab ada perbedaan antara menjaga sikap dan mengkhianati nurani.

Ada perbedaan antara kompromi dan menyerah.

Ada perbedaan antara tahu kapan harus diam dan kehilangan keberanian untuk berbicara.

Dan mungkin, perubahan paling sederhana bukanlah berani mengatakan “tidak” kepada semua hal.

Melainkan berani bertanya kepada diri sendiri sebelum mengatakan “iya”:

“Benarkah saya setuju, atau saya hanya sedang takut menghadapi akibat dari ketidaksetujuan saya?”

Pertanyaan itu mungkin tidak mengubah birokrasi.

Tidak pula serta-merta mengubah sistem.

Tetapi setidaknya membuat kita berhenti sejenak di depan cermin.

Melihat wajah sendiri.

Dan memastikan bahwa di balik wajah yang tersenyum kepada dunia, masih ada hati yang berani berkata jujur kepada dirinya sendiri.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments