Oleh : Goes Mic
LESINDO.COM – Ada masa ketika seseorang bukan lagi bertanya, “Bagaimana saya bisa menjalani hidup?” tetapi justru, “Untuk apa saya masih hidup?”
Pertanyaan semacam itu biasanya tidak lahir dari satu kejadian. Ia tumbuh perlahan, dari sakit yang tak kunjung sembuh, kehilangan pekerjaan, persoalan ekonomi, kesepian, atau kehilangan orang yang dicintai. Sedikit demi sedikit semangat hidup meredup. Dunia terasa tidak lagi berpihak.
Saya pernah menemui seseorang yang berada pada titik seperti itu.
Dulu, ia bukan orang yang kekurangan kemampuan. Ia memiliki pekerjaan dan keterampilan yang tidak semua orang memilikinya. Tangannya terampil, pikirannya berjalan, dan usaha yang dirintisnya pernah menjadi sumber penghidupan.
Namun, ada satu hal yang mungkin dulu tidak pernah terpikirkan: kemampuan yang hanya bergantung pada satu tubuh akan berhenti ketika tubuh itu tidak lagi mampu bekerja.
Ia terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Pengetahuan dan keterampilannya tidak banyak dibagikan kepada orang lain. Mungkin ada kekhawatiran bahwa jika ilmu itu diberikan kepada orang lain, suatu hari orang tersebut akan menjadi pesaingnya.
Selama tubuh masih sehat, keputusan itu tampak tidak menjadi persoalan.
Usaha tetap berjalan. Pekerjaan dapat diselesaikan sendiri. Tidak ada yang terasa perlu dikhawatirkan.
Sampai waktu menunjukkan bahwa manusia tidak selamanya muda.
Tubuh yang selama bertahun-tahun diajak bekerja akhirnya meminta haknya untuk diperhatikan. Pola hidup dan pola makan yang tidak selalu terjaga menjadi bagian dari perjalanan panjang yang kemudian membawanya pada stroke.
Sekali serangan datang, kehidupannya berubah.
Yang dahulu bergerak bebas, kini harus bergantung kepada orang lain. Yang dahulu menghasilkan sesuatu, kini lebih banyak menghabiskan hari dalam keterbatasan. Usaha yang dulu menjadi sumber penghasilan berhenti karena tubuh tidak lagi mampu menggerakkannya.
Di situlah ia mungkin baru menyadari bahwa kesehatan ternyata bukan sekadar keadaan tubuh yang tidak sakit.
Kesehatan adalah modal yang selama ini sering kita gunakan tanpa menghitung nilainya.
Kita baru merasa mahal ketika sesuatu yang gratis itu hilang.
Andai sejak awal ada orang-orang yang dilatihnya, mungkin usaha tersebut masih bisa berjalan. Ia cukup duduk mengarahkan, sementara orang lain mengerjakan. Nama besar usaha yang pernah dibangunnya mungkin tetap berkibar.
Tetapi hidup tidak selalu berjalan dengan skenario yang kita buat sendiri.
Stroke pertama datang.
Kemudian serangan berikutnya.
Setiap serangan meninggalkan keterbatasan baru. Dokter menjelaskan kemungkinan pemulihan dengan segala keterbatasannya. Harapan yang dahulu begitu luas perlahan menyempit menjadi rutinitas: bangun, duduk, makan, beristirahat, menunggu hari berganti.
Lalu datang pukulan yang lebih berat.
Anaknya, yang sedang menapaki kehidupan barunya, meninggal dunia.
Kehilangan itu seperti menutup pintu harapan yang tersisa.
Saat saya menjenguknya, terdengar kalimat yang mungkin tidak pernah benar-benar ia rencanakan untuk diucapkan.
“Mengapa saya yang tidak diambil saja?”
Kalimat itu keluar dari seseorang yang sedang sangat lelah.
Bukan hanya tubuhnya yang sakit. Barangkali pikirannya juga sudah terlalu lama memikul beban.
Pada titik tertentu, manusia bisa merasa bosan dengan hidup bukan karena kehidupan benar-benar tidak memiliki sesuatu yang layak diperjuangkan, tetapi karena ia terlalu lama melihat hidup dari satu sisi: sakit, kehilangan, keterbatasan dan kegagalan.
Harapan menjadi seperti cahaya yang tertutup kabut.
Padahal, hidup tidak pernah menjanjikan bahwa setiap hari akan mudah.
Ada hari ketika kita diberi kesehatan.
Ada hari ketika kesehatan itu berkurang.
Ada masa ketika rezeki mengalir.
Ada masa ketika pekerjaan berhenti.
Ada saat kita dikelilingi banyak orang.
Ada pula masa ketika satu per satu orang yang kita cintai pergi.
Semua itu bagian dari perjalanan manusia.
Barangkali yang sering terlupakan adalah bahwa syukur bukan hanya ucapan ketika keadaan sedang baik.
Syukur juga mempunyai bentuk ketika kita sedang kehilangan.
Ketika masih bisa menggerakkan tangan, itulah kesempatan.
Ketika masih bisa membuka mata pada pagi hari, itu kesempatan.
Ketika masih bisa berbicara kepada keluarga, itu kesempatan.
Ketika tubuh tidak lagi sekuat dahulu tetapi masih diberi waktu untuk bernapas, mungkin itu pun sebuah kesempatan.
Bahkan ketika sebagian besar aktivitas dunia sudah tidak bisa dilakukan, seseorang masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan.
Ada waktu yang dahulu habis untuk mengejar pekerjaan.
Ada waktu yang dahulu habis untuk mengejar uang.
Ada waktu yang dahulu habis untuk mempertahankan usaha, nama, kedudukan, dan berbagai urusan dunia.
Ketika semua itu perlahan dilepaskan, mungkin tersisa satu pertanyaan sederhana:
Apa yang akan kita bawa ketika perjalanan ini benar-benar selesai?
Kita sering membuat rencana untuk bertahun-tahun ke depan, tetapi lupa bahwa manusia tidak pernah diberi kepastian tentang berapa panjang perjalanan itu.
Karena itu, hidup bukan hanya tentang bagaimana seseorang mengumpulkan sebanyak mungkin selama masih kuat. Hidup juga tentang bagaimana seseorang menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk menyiapkan hari ketika kekuatan itu berkurang.
Keterampilan perlu diwariskan.
Ilmu perlu dibagikan.
Usaha perlu dipersiapkan agar tidak sepenuhnya bergantung kepada satu orang.
Tubuh perlu dirawat ketika masih sehat.
Dan hati perlu disiapkan sebelum suatu hari tubuh tidak lagi mampu melakukan banyak hal.
Mungkin kita tidak dapat mengubah masa lalu orang yang sedang terpuruk.
Kita juga tidak bisa mengembalikan tubuhnya seperti ketika masih muda. Kita tidak mungkin menghidupkan kembali anak yang telah pergi.
Tetapi masih ada sesuatu yang mungkin belum terlambat: cara memandang sisa perjalanan.
Sakit tidak selalu berarti kehidupan selesai.
Kehilangan tidak selalu berarti harapan harus dikuburkan.
Dan keterbatasan tidak selalu berarti seseorang tidak lagi memiliki nilai.
Ada orang yang tubuhnya tidak lagi mampu berlari, tetapi masih mampu mendoakan orang lain.
Ada yang tidak lagi mampu bekerja seperti dahulu, tetapi masih bisa berbagi pengalaman.
Ada yang tidak lagi memiliki banyak harta, tetapi masih bisa memberikan nasihat.
Ada pula yang sepanjang hidupnya merasa mengejar dunia, kemudian pada usia senja justru menemukan bahwa ketenangan lebih berharga daripada apa yang dahulu dikejarnya.
Mungkin kita memang tidak bisa memilih semua yang terjadi dalam hidup.
Tetapi selama napas masih diberikan, selalu ada ruang untuk memperbaiki sesuatu.
Memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Memperbaiki cara memperlakukan tubuh.
Memperbaiki kesalahan kepada sesama.
Memperbanyak ibadah.
Belajar menerima keadaan tanpa berhenti berusaha.
Dan yang paling penting, belajar bersyukur sebelum sesuatu benar-benar diambil dari kita.
Sebab sering kali manusia baru mengenali arti kesehatan setelah sakit, baru mengenali arti keluarga setelah kehilangan, dan baru memahami arti waktu setelah sebagian besar waktunya berlalu.
Barangkali orang yang merasa bosan dengan hidup sebenarnya tidak selalu membutuhkan nasihat panjang.
Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang duduk di sampingnya.
Mendengarkan tanpa menghakimi.
Menggenggam tangannya.
Mengatakan bahwa hari ini mungkin berat, tetapi hari ini belum tentu menjadi akhir dari seluruh perjalanan.
Sebab selama Tuhan masih memberikan satu hari lagi, berarti masih ada sesuatu yang belum selesai.
Masih ada kesempatan untuk bersyukur.
Masih ada kesempatan untuk meminta ampun.
Masih ada kesempatan untuk berbuat baik.
Masih ada kesempatan untuk beribadah lebih sungguh-sungguh.
Dan pada akhirnya, mungkin hidup memang bukan tentang seberapa lama kita tinggal di dunia, melainkan seberapa baik kita memanfaatkan waktu yang masih dipercayakan sebelum akhirnya pulang.

