spot_img
BerandaJelajahPart 1 : Masakan Ibu, Rindu yang Menemukan Jalan Pulang

Part 1 : Masakan Ibu, Rindu yang Menemukan Jalan Pulang

Ibu tidak selalu bertanya apa yang ingin dimakan. Terkadang, ia hanya memasak. Seolah-olah kasih sayang memiliki naluri sendiri, bekerja diam-diam di balik pintu dapur.

Dari dapur masa kecil hingga sambal teri yang diminta seorang anak kepada ayahnya, makanan menyimpan bahasa kasih yang tak selalu membutuhkan kata-kata.

Oleh: Mad Mac

LESINDO.COM –  Ada sesuatu yang ganjil sekaligus akrab dalam hubungan manusia dengan makanan. Kita sering mengira bahwa makan semata-mata urusan perut, tentang rasa lapar yang perlu dituntaskan dan selera yang ingin dipuaskan. Namun, semakin jauh seseorang berjalan meninggalkan rumah, semakin ia menyadari bahwa makanan menyimpan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rasa.

Ada kenangan yang menetap di antara aroma tumisan, kepulan nasi hangat, atau sambal yang diulek dengan lauk telur dadar di dapur yang sederhana dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Ada pula kasih sayang yang tidak pernah benar-benar diucapkan, tetapi selalu hadir melalui pertanyaan sederhana: Sudah makan?

Barangkali, di situlah seorang ibu memiliki ingatan yang tidak tertulis. Ia hafal makanan kesukaan anak-anaknya, bahkan ketika sang anak sendiri tidak merasa perlu mengingatnya. Ia tahu masakan mana yang membuat anaknya makan lebih lahap, menu mana yang barangkali sudah lama tidak disentuh, dan hidangan apa yang layak disiapkan ketika anak pulang dari perjalanan panjang.

Ibu tidak selalu bertanya apa yang ingin dimakan. Terkadang, ia hanya memasak. Seolah-olah kasih sayang memiliki naluri sendiri, bekerja diam-diam di balik pintu dapur.

Pulang, dan Ibu Sudah Menyiapkan Masakan

Saya masih mengingat kebiasaan ibu setiap kali saya pulang ke rumah. Sebelum sempat menyampaikan keinginan, ia sering kali sudah mengatakan, “Sudah tak siapkan masakan kesukaanmu.”

Kalimat itu terdengar biasa. Tidak ada yang istimewa secara bunyi. Namun, semakin usia bertambah, saya semakin memahami bahwa kalimat sederhana tersebut menyimpan perhatian yang tidak sederhana.

Sejak menyelesaikan pendidikan menengah, saya harus meninggalkan kampung halaman. Keinginan melanjutkan pendidikan membawa saya ke luar kota, hingga akhirnya menempuh kuliah di Malang. Jarak antara rumah dan tempat tinggal baru perlahan mengubah banyak hal. Saya tidak lagi setiap hari melihat wajah ibu, tidak selalu menikmati masakan rumah, dan tidak bisa pulang hanya karena ingin menyantap hidangan yang biasa tersedia di meja makan.

Di kota orang, seseorang belajar mengenali dirinya sendiri melalui banyak hal: perjalanan, pergaulan, tanggung jawab, dan keterbatasan. Termasuk dalam perkara makanan.

Saya bukan orang yang terlalu merepotkan urusan hidangan. Apa yang tersedia, itulah yang saya makan. Tidak setiap masakan harus menjadi kesukaan, tidak setiap menu perlu diperlakukan sebagai sesuatu yang istimewa. Mungkin saya juga tidak selalu menyadari makanan mana yang paling saya sukai.

Tetapi ibu sepertinya memiliki cara sendiri untuk memperhatikan.

Ia mengingat sesuatu yang mungkin luput dari ingatan saya. Ketika ada masakan tertentu yang membuat saya lebih bersemangat menyantap makanan, barangkali itulah yang disimpan dalam ingatannya. Bukan sebagai catatan tertulis, melainkan sebagai bagian dari keseharian seorang ibu yang mengenali anak-anaknya melalui hal-hal kecil.

Dapur, dalam pengertian itu, bukan hanya tempat mengolah bahan makanan. Ia menjadi ruang tempat seorang ibu menyimpan ingatan tentang keluarganya.

Dan ketika anak-anak mulai dewasa, meninggalkan rumah, serta menjalani kehidupan masing-masing, ingatan itu tetap bekerja. Jarak tidak serta-merta menghapusnya.

Anak yang Pergi, Kebiasaan yang Dibawa

Kini, giliran putriku meninggalkan rumah untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Airlangga, Surabaya.

Seperti halnya orang tua pada umumnya, saya melihat kepergiannya bukan semata-mata sebagai perpisahan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan menuju kedewasaan. Pendidikan bukan hanya tentang ruang kuliah, buku, tugas, atau pencapaian akademik. Ada pelajaran lain yang sering kali justru diperoleh ketika seseorang mulai hidup jauh dari keluarga.

Anak saya termasuk pribadi yang cukup mandiri. Ia terbiasa menjalankan tugas dan kewajibannya, memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan, serta berusaha menempuh cita-cita sesuai dengan keinginannya. Ia bukan anak yang harus selalu dilayani dalam setiap urusan.

Dalam kesibukan kuliah, ia juga sesekali memasak sendiri.

Barangkali, bagi sebagian orang, memasak hanyalah pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan karena kebutuhan. Namun, bagi anak yang tinggal jauh dari keluarga, kemampuan menyiapkan makanan bisa menjadi bagian dari latihan hidup. Ia belajar mengatur waktu, mengelola pengeluaran, memahami kebutuhan, dan tidak selalu bergantung pada orang lain.

Kuliah, bagi saya, tidak semestinya hanya menjadi jalan memperoleh ijazah. Ada proses menempa diri di dalamnya. Ada kesadaran untuk belajar hidup sederhana, mengatur keuangan, menyesuaikan diri dengan keadaan, serta memahami bahwa setiap kiriman dari rumah perlu dikelola dengan tanggung jawab.

Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Tidak setiap kebutuhan harus diselesaikan dengan mengeluarkan uang. Terkadang, seseorang perlu belajar menahan diri agar memahami arti kecukupan.

Di situlah tirakat dalam pengertian yang sederhana menemukan tempatnya: kesediaan menjalani proses dengan kesungguhan, tidak berlebihan, dan tetap membawa diri di tengah keterbatasan.

Anak yang meninggalkan rumah tidak hanya membawa pakaian, buku, dan perlengkapan kuliah. Ia juga membawa kebiasaan yang pernah ditanamkan keluarga. Termasuk cara memandang makanan, uang, dan kemandirian.

Tanpa disadari, kebiasaan kecil di rumah bisa menyeberang ke tempat yang jauh.

Dapur Bukan Hanya Milik Ibu

Ada anggapan yang sudah lama hidup dalam kebudayaan kita: dapur identik dengan perempuan, terutama ibu. Di sana, perempuan sering ditempatkan sebagai pengelola makanan keluarga, sementara laki-laki lebih banyak dipahami sebagai pencari nafkah.

Namun, kehidupan selalu menawarkan kemungkinan yang lebih luas daripada pembagian peran yang diwariskan.

Saya sendiri berusaha membiasakan diri untuk mandiri dalam urusan sehari-hari. Sesekali, saya memasak untuk menyiapkan bekal ke tempat kerja. Tidak harus masakan yang rumit. Yang penting cukup, bisa dinikmati, dan membuat pekerjaan terasa lebih nyaman.

Membawa bekal memiliki kenikmatan tersendiri. Ketika rasa lapar datang di tengah kesibukan, saya tidak selalu harus keluar mencari makanan. Ada bekal yang sudah disiapkan, ada rasa tenang karena kebutuhan sederhana telah dipikirkan sebelumnya.

Kebiasaan itu perlahan menjadi bagian dari keseharian.

Mungkin tidak ada yang luar biasa dari sepiring nasi dengan lauk yang saya masak sendiri. Tidak ada resep khusus yang layak dipamerkan. Tidak pula ada ambisi untuk menjadikan masakan sebagai sesuatu yang istimewa.

Saya memasak karena ingin nyaman. Karena ingin lebih mandiri. Karena ada kebutuhan yang bisa diselesaikan sendiri.

Tetapi rupanya, sesuatu yang bagi saya terasa biasa dapat memiliki makna berbeda bagi anak.

Suatu hari, pesan WhatsApp dari putri saya datang. Ia menulis:

“Abah, aku buatkan sambal teri buatan Abah, untuk dikirimkan ke Surabaya.”

Saya membacanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Sambal teri itu, bagi saya, bukan sesuatu yang luar biasa. Saya memasaknya sebagai bagian dari kebiasaan. Sebuah lauk sederhana yang bisa menemani nasi dan membuat makan terasa lebih nikmat.

Namun, bagi putri saya, mungkin persoalannya bukan semata-mata rasa sambal.

Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak selalu bisa dijelaskan melalui ukuran pedas, asin, gurih, atau nikmat.

Mungkin ia sedang merindukan rumah.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments