spot_img
BerandaJelajahjelajahPart 1 : Gerobak Kecil di Bawah Matahari

Part 1 : Gerobak Kecil di Bawah Matahari

Di bawah matahari yang memantul dari aspal, langkahnya mungkin terasa lebih berat. Keringat perlahan membasahi tubuh. Tetapi gerobak itu tetap didorong. Satu meter, dua meter, lalu beberapa meter lagi.

Oleh : Goes Mic

LESINDO.COM – Dari kejauhan, yang terlihat hanya seorang lelaki dengan gerobak. Ia berjalan perlahan di tepian jalan, mengikuti arus kendaraan yang sesekali melintas cepat di sampingnya. Gerobak itu tidak besar. Rodanya berputar pelan, kadang seperti harus menahan beban yang tidak ringan. Di dalamnya bertumpuk barang-barang bekas—benda yang bagi sebagian orang sudah tidak lagi memiliki arti, tetapi bagi lelaki itu masih menyimpan nilai.

Ada kardus yang telah kusam.

Ada botol dan plastik yang dikumpulkan satu demi satu.

Ada potongan benda yang mungkin bagi orang lain hanyalah sampah.

Namun bagi dirinya, benda-benda itu adalah kemungkinan.

Kemungkinan menjadi uang.

Kemungkinan menjadi beras.

Kemungkinan menjadi lauk untuk makan malam.

Kemungkinan untuk membuat dapur di rumah tetap mengepulkan asap.

Ia tidak sedang berjalan-jalan.

Ia sedang bekerja.

Di bawah matahari yang memantul dari aspal, langkahnya mungkin terasa lebih berat. Keringat perlahan membasahi tubuh. Tetapi gerobak itu tetap didorong. Satu meter, dua meter, lalu beberapa meter lagi.

Begitulah barangkali perjuangan sering berlangsung.

Bukan dalam lompatan besar.

Melainkan dalam langkah-langkah kecil yang terus diulang.

Hari demi hari.

Saya membayangkan, sebelum keluar rumah, tidak banyak yang ia persiapkan.

Tidak ada ruang kantor yang harus dirapikan. Tidak ada laptop yang dibuka. Tidak ada rapat pagi. Tidak ada kalender kerja dengan agenda yang tertulis rapi.

Yang dibutuhkan mungkin hanya tubuh yang cukup kuat, gerobak yang masih bisa digunakan, dan kemauan untuk berjalan.

Lalu jalan menjadi tempat kerjanya.

Trotoar menjadi lorong hidupnya.

Tumpukan barang bekas menjadi sumber penghasilannya.

Dan matahari menjadi saksi bahwa hari itu ia kembali berjuang.

Ada sesuatu yang menggetarkan dari pekerjaan seperti ini.

Ia tidak memiliki banyak perlindungan dari keadaan.

Jika hujan turun, ia harus berhadapan dengan hujan.

Jika matahari menyengat, ia menerima panasnya.

Jika tubuh lelah, tidak ada kursi empuk yang bisa sewaktu-waktu diduduki.

Ia hanya bisa berhenti sebentar, mengatur napas, lalu kembali mendorong.

Di situlah barangkali kita sering salah memahami kemiskinan.

Kita melihat seseorang yang tidak memiliki banyak.

Tetapi kita lupa melihat betapa banyak yang harus ia lakukan hanya untuk mempertahankan apa yang sedikit itu.

Di jalan, orang-orang datang dan pergi.

Sepeda motor melintas.

Mobil bergerak cepat.

Orang-orang berjalan dengan urusannya masing-masing.

Sebagian mungkin tidak memperhatikannya.

Sebagian mungkin hanya melihat gerobak yang berjalan lambat dan kemudian melewatinya.

Begitulah kota bekerja.

Cepat.

Bising.

Terburu-buru.

Kota selalu memiliki cara untuk membuat manusia sibuk mengejar sesuatu sampai lupa melihat manusia lain.

Di tengah lalu lintas yang bergerak cepat itu, lelaki dengan gerobaknya seperti sebuah adegan yang berjalan dalam kecepatan berbeda.

Ia tidak bisa terburu-buru.

Ia tidak punya mesin yang membantunya.

Ia hanya punya tenaga.

Namun justru dari gerak yang lambat itu, kita bisa belajar sesuatu tentang kehidupan yang sering kita lupakan: tidak semua orang sedang berlomba. Sebagian orang hanya sedang berusaha bertahan.

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments