LESINDO.COM – Ada orang yang bertahun-tahun sibuk mencari pintu, tetapi lupa memeriksa apakah dirinya masih memiliki keberanian untuk mengetuk.
Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengejar peluang yang dianggap lebih baik. Menambah kenalan, memperluas jaringan, mencari modal, membaca berbagai kisah sukses, dan sesekali mengeluhkan nasib yang terasa tidak berpihak.
Di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang sering luput diperiksa: cara berpikirnya sendiri.
Kita terlalu sering mengukur kekayaan dari sesuatu yang dapat dilihat. Saldo rekening, rumah, kendaraan, jabatan, jumlah pengikut, atau banyaknya nama yang tersimpan di telepon genggam. Semua itu penting dalam batas tertentu. Namun, ada kekayaan yang tidak tercatat dalam buku tabungan dan tidak bisa dipamerkan di ruang digital.
Itulah cara seseorang memandang kehidupan.
Pikiran manusia barangkali seperti sebuah kamera. Dunia di hadapannya bisa saja sama, tetapi hasil gambarnya berbeda. Seseorang melihat hujan sebagai gangguan. Orang lain melihatnya sebagai berkah bagi tanah yang lama kering.
Satu orang melihat kegagalan sebagai akhir perjalanan. Yang lain melihatnya sebagai cara kehidupan mengajarkan arah baru.
Tembok yang sama bisa menjadi penghalang bagi seseorang, tetapi menjadi pijakan bagi orang lain.
Perbedaannya bukan selalu pada keadaan. Kadang-kadang hanya pada cara melihat keadaan.
Ketika alasan menjadi kebiasaan
Ada masa ketika manusia lebih mudah menemukan alasan daripada jalan keluar.
Modal tidak cukup. Tidak punya koneksi. Tidak memiliki pendidikan tinggi. Tidak mendapat kesempatan. Usia sudah terlambat. Keadaan keluarga tidak mendukung. Lingkungan tidak memberi ruang.
Sebagian alasan itu memang nyata. Kehidupan tidak pernah membagikan kartu yang sama kepada semua orang. Ada yang memulai dari halaman pertama dengan bekal lengkap. Ada pula yang harus berjalan jauh dengan tangan kosong.
Namun, keadaan yang sulit tidak selalu menentukan akhir sebuah perjalanan.
Yang sering menentukan justru keputusan setelah seseorang berhadapan dengan kesulitan itu.
Di situlah mentalitas bekerja.
Orang yang terbiasa mencari alasan akan bertanya, Mengapa saya tidak bisa?
Orang yang terbiasa mencari jalan akan bertanya, Apa yang masih bisa saya lakukan?
Pertanyaan pertama mempersempit dunia. Pertanyaan kedua membuka kemungkinan.
Barangkali karena itu, dua orang yang berdiri di depan persoalan yang sama bisa pulang membawa hasil yang berbeda. Bukan karena kehidupan lebih ramah kepada salah satunya, melainkan karena keduanya membawa cara berpikir yang berbeda.
Modal yang tidak terlihat
Kita sering mengatakan bahwa untuk memulai sesuatu diperlukan modal.
Benar.
Tetapi modal tidak selalu berupa uang.
Ada keberanian untuk mencoba. Ada kesediaan belajar. Ada kemampuan menerima kritik. Ada ketekunan ketika hasil belum terlihat. Ada kelapangan hati untuk memulai kembali setelah gagal.
Dan ada satu modal yang sering dianggap sepele: kemampuan berpikir jernih ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Uang dapat hilang. Usaha dapat bangkrut. Relasi dapat berubah. Jabatan dapat berakhir. Bahkan orang-orang yang dahulu berjalan bersama kita dapat memilih jalan yang berbeda.
Tetapi kemampuan untuk belajar dari keadaan adalah aset yang tidak mudah dirampas.
Orang yang kehilangan uang masih mungkin membangun kembali kekayaannya.
Orang yang kehilangan pekerjaan masih mungkin menemukan pekerjaan lain.
Orang yang kehilangan kesempatan masih mungkin menciptakan kesempatan baru.
Namun, ketika seseorang kehilangan kemauan untuk berpikir, belajar, dan mencoba, pintu-pintu yang sebenarnya masih terbuka pun dapat terlihat seperti tembok.
Karena itu, mungkin persoalan terbesar bukan selalu tentang seberapa sedikit yang kita miliki.
Kadang-kadang persoalannya adalah kita terlalu lama menatap apa yang tidak kita punya hingga lupa menghitung apa yang masih tersisa.
Mengubah sudut pandang
Seorang petani tidak bisa memerintah hujan turun ketika ia menginginkannya. Ia juga tidak dapat mengubah musim. Tetapi ia bisa memilih kapan menanam, bagaimana merawat tanah, dan apa yang harus dilakukan ketika cuaca berubah.
Demikian pula kehidupan.
Tidak semua keadaan berada dalam kendali manusia. Kita tidak memilih tempat kelahiran, keluarga tempat kita tumbuh, masa lalu yang sudah terjadi, atau keputusan orang lain terhadap kita.
Tetapi kita masih memiliki ruang kecil yang sangat menentukan: cara merespons semuanya.
Di ruang kecil itulah kebebasan manusia sering bersembunyi.
Kita mungkin tidak dapat mengubah kenyataan hari ini. Tetapi kita dapat mengubah cara memandangnya.
Kita mungkin belum memiliki cukup uang. Tetapi kita masih dapat menambah pengetahuan.
Kita mungkin belum mempunyai banyak koneksi. Tetapi kita masih dapat menjaga kepercayaan.
Kita mungkin pernah gagal. Tetapi kita masih dapat mengambil pelajaran.
Kita mungkin berjalan lebih lambat daripada orang lain. Tetapi perjalanan hidup bukan perlombaan yang selalu harus dimenangkan dengan kecepatan.
Ada orang yang cepat sampai tetapi tidak tahu untuk apa ia tiba.
Ada pula yang berjalan pelan, tertatih, bahkan beberapa kali tersesat, tetapi akhirnya memahami mengapa ia harus menempuh jalan tersebut.
Kekayaan yang tidak masuk neraca
Barangkali sudah waktunya kita mendefinisikan kembali apa yang disebut aset.
Aset bukan hanya sesuatu yang dapat dihitung. Ada aset yang tumbuh diam-diam di dalam diri: pengalaman, ketekunan, keberanian, kemampuan beradaptasi, rasa ingin tahu, integritas, dan cara berpikir yang tidak mudah menyerah kepada keadaan.
Ia tidak terlihat dalam laporan keuangan.
Tidak tercetak dalam kartu nama.
Tidak selalu mendapatkan tepuk tangan.
Tetapi justru aset semacam itulah yang sering menjadi penyangga ketika aset-aset lain runtuh.
Sebab hidup tidak pernah menjanjikan keadaan akan selalu berada di pihak kita.
Hari ini kita memiliki pekerjaan. Besok mungkin tidak.
Hari ini kita mempunyai banyak teman. Kelak lingkaran itu mungkin mengecil.
Hari ini usaha berjalan baik. Suatu ketika bisa saja pasar berubah.
Yang membuat seseorang mampu bertahan bukan semata-mata apa yang ia kumpulkan di luar dirinya, melainkan apa yang telah ia bangun di dalam dirinya.
Maka, sebelum kembali sibuk mengejar peluang, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak.
Bukan untuk menyerah.
Melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri: selama ini, sudahkah kita merawat aset yang paling dekat dengan kita?
Pikiran.
Cara melihat.
Kemauan untuk belajar.
Dan keberanian untuk mencoba sekali lagi.
Sebab sering kali, peluang bukan tidak datang. Kita saja yang terlalu sibuk menunggu peluang dalam bentuk yang kita inginkan.
Padahal kehidupan mempunyai cara yang lebih sunyi dalam membuka pintu.
Kadang melalui kegagalan.
Kadang melalui kehilangan.
Kadang melalui pertemuan dengan orang sederhana.
Dan kadang melalui sebuah keadaan yang semula kita anggap sebagai kemalangan.
Pada akhirnya, kesejahteraan tidak selalu bermula dari sesuatu yang datang dari luar.
Ia bisa tumbuh dari cara seseorang mengolah apa yang sudah ada di dalam dirinya.
Uang dapat menjadi modal. Koneksi dapat menjadi jalan. Kesempatan dapat menjadi pintu.
Tetapi cara berpikir menentukan apakah kita berani melangkah melewatinya.
Mungkin itulah aset yang paling sering dilupakan manusia: sesuatu yang tidak tampak, tetapi diam-diam menentukan ke mana hidup akan bergerak.
Dan sering kali, aset itu sudah kita miliki sejak lama.
Hanya saja, kita terlalu sibuk mencari yang lain untuk menyadarinya. (Ona)

