spot_img
BerandaJelajahjelajahPart 1 : Jejak yang Tersisa

Part 1 : Jejak yang Tersisa

Semakin bertambah usia, mungkin kita mulai memahami bahwa hidup bukan perlombaan yang harus selalu dimenangkan.

Oleh : Icha Adilla 

Tentang Waktu, Kehadiran, dan Kenangan yang Tinggal

LESINDO.COM – Ada saat-saat ketika kita tiba-tiba menyadari bahwa waktu telah berjalan begitu jauh. Orang-orang yang dahulu menemani masa kanak-kanak mulai beruban. Anak-anak yang dulu kita gendong kini tumbuh dengan kesibukan dan dunianya sendiri. Rumah yang pernah ramai perlahan menjadi lebih sunyi. Bahkan wajah kita sendiri di depan cermin seperti menyimpan cerita tentang hari-hari yang pernah dilewati.

Waktu memang tidak pernah banyak bicara.

Ia hanya berjalan.

Pagi datang, siang berlalu, sore menua, lalu malam menutup hari. Begitu sederhana. Tetapi dari pergantian yang tampaknya biasa itu, diam-diam sebagian hidup kita telah menjadi masa lalu.

Kita sering mengira masih memiliki banyak waktu.

Padahal, mungkin yang kita miliki hanyalah hari ini.

Hari untuk bertemu. Hari untuk menyapa. Hari untuk memeluk orang yang kita cintai. Hari untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah kita lakukan. Hari untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka yang selama ini diam-diam telah membuat perjalanan kita lebih ringan.

Sebab tidak semua kesempatan akan datang dua kali.

Yang Tersisa Setelah Kita Pergi

Barangkali, ketika seseorang telah sampai di penghujung hidupnya, ukuran keberhasilan berubah menjadi sangat sederhana.

Bukan lagi tentang berapa banyak harta yang terkumpul.

Bukan pula tentang setinggi apa jabatan yang pernah diduduki atau seberapa panjang daftar pencapaian yang pernah dituliskan.

Yang mungkin muncul justru wajah-wajah manusia.

Wajah seorang ibu yang pernah menunggu kepulangan anaknya. Wajah seorang sahabat yang pernah menemani ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Wajah seseorang yang pernah kita tolong, atau mungkin seseorang yang pernah kita lukai tanpa sengaja.

Pada akhirnya, kehidupan seperti kembali kepada manusia.

Kepada hubungan.

Kepada kebaikan-kebaikan kecil yang pernah kita lakukan tanpa banyak berpikir bahwa suatu hari semuanya akan menjadi kenangan.

Rumah mungkin tetap berdiri setelah kita tiada.

Benda-benda mungkin berpindah tangan.

Foto-foto mungkin tersimpan dalam album yang semakin jarang dibuka.

Tetapi sebuah kebaikan kadang memiliki jalan yang berbeda. Ia dapat berpindah dari satu hati ke hati yang lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Seorang anak yang pernah diperlakukan dengan lembut, misalnya, mungkin kelak akan belajar memperlakukan anaknya dengan kelembutan yang sama.

Begitulah kebaikan menemukan cara untuk tinggal.

Ia tidak selalu membutuhkan nama.

Ada Kata yang Sebaiknya Tidak Ditunda

Kita sering menyimpan kata-kata baik terlalu lama.

Mungkin karena malu.

Mungkin karena gengsi.

Atau karena kita merasa masih ada waktu.

Kita menunda meminta maaf sampai suasana benar-benar tepat. Menunda mengucapkan terima kasih karena menganggap orang lain sudah semestinya melakukan apa yang mereka lakukan. Menunda mengatakan sayang karena merasa perasaan itu sudah cukup dipahami tanpa perlu diucapkan.

Padahal manusia tidak selalu pandai membaca isi hati manusia lainnya.

Ada kalanya sebuah kalimat sederhana justru menjadi sangat berarti.

“Maafkan aku.”

“Terima kasih sudah ada.”

“Aku sayang kamu.”

Kalimat-kalimat pendek itu mungkin terdengar biasa.

Namun bagi seseorang yang sedang menunggu pengakuan bahwa dirinya berarti, kalimat tersebut bisa menjadi sesuatu yang dibawa sepanjang hidup.

Karena itu, barangkali tidak perlu menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya seseorang.

Peluklah selagi masih bisa.

Sapa selagi masih ada kesempatan.

Datanglah selagi pintu masih terbuka.

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu, apakah sebuah perjumpaan yang kita anggap biasa ternyata merupakan perjumpaan terakhir.

Ketika Hidup Tidak Lagi Harus Dibuktikan

Semakin bertambah usia, mungkin kita mulai memahami bahwa hidup bukan perlombaan yang harus selalu dimenangkan.

Ada masa ketika kita ingin terlihat berhasil di mata banyak orang.

Kita membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain. Menghitung apa yang telah dimiliki. Memikirkan bagaimana orang menilai kita.

Tetapi waktu memiliki cara yang pelan untuk mengubah semuanya.

Kita mulai lebih menghargai percakapan sederhana.

Secangkir minuman hangat pada pagi hari.

Cahaya matahari yang jatuh di halaman.

Suara orang-orang terdekat di rumah.

Pertemuan singkat dengan kawan lama.

Atau sekadar duduk diam, menyaksikan sore turun perlahan.

Hal-hal yang dahulu mungkin dianggap biasa, tiba-tiba terasa berharga.

Mungkin karena usia mengajarkan satu hal: kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk peristiwa besar.

Kadang ia hadir dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kita terlalu sibuk untuk menyadarinya.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments